Wanita Simpanan Bupati Kabupaten Flores Timur Berkisah


sergapntt.com [Ba’a] – JANDA kembang memang selalu jadi rebutan. Apalagi jika si dia masih tampak segar, anggun dan cantik. Bisa dipastikan, ia akan menjadi buruan kaum pria hidung belang. Begitulah yang dialami Ny. Costanty Rati Petan, Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada Kantor Camat Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Kendati telah memiliki empat anak, namun pemilik kulit kuning langsat ini masih nampak aduhai. Banyak lelaki ingin merengkuh cintanya. Tak heran bila Bupati Kabupaten Flores Timur yang juga Ketua DPD PPDI NTT, Drs. Simon Hayon pun tak kuasa menahan gelora libido ketika berhadapan dengan Ny. Rati (Sapaan akrab Ny. Costanty Rati Petan). Berikut penuturan Ny. Rati ketika dihubungi per telepon pada Selasa, 17 April 2007 lalu.


Sebenarnya aku sudah bersuami. Suamiku bernama Archiles Rati, BA, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada kantor pemerintahan Kabupaten Kupang. Dari perkawinan ini aku dikaruniai empat orang anak. Namun pada 23 April 1991, suamiku meninggal dunia akibat sakit keras. Praktis sepeninggal suami, kehidupan ekonomi kami terus melorot dari hari ke hari. Apalagi saat itu, aku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tak punya keterampilan apa-apa guna mendongkrak perekonomian keluarga. Satu-satunya penghasilan yang kami miliki hanyalah gaji pensiun peninggalan suami.

Tak tahan hidup berkekurangan, maka pada tahun 1992 aku memutuskan untuk merantau ke Kota Kupang.  Singkat cerita aku lalu bekerja pada PT Ansuransi  Bumi Putera 1912 Cabang Kupang. Ditempat inilah aku berkenalan dengan pak Simon Hayon (saat itu masih menjabat sebagai Anggota DPRD NTT). Kisahku dengan pak Simon sebenarnya terjadi diluar rencana hidupku. Itu bermula ketika pada suatu siang di tahun 1993 aku bertandang ke rumah pak Simon yang terletak di Jalan Banteng, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang dengan maksud ingin menawarkan produk dan program-program PT Ansuransi Bumi Putera 1912. Namun tujuan kerjaku itu berubah menjadi dimulainya tapak perselingkuhan antara aku dan pak Simon. Karena saat itu aku justru dirayu agar bersedia menjadi istrinya yang ke 2. Pak Simon sendiri sesungguhnya telah beristri. Hanya saja mereka tidak dikaruniai anak. Mendengar tawaran tiba-tiba itu, sontak saja aku kaget bukan kepalang. Toh begitu aku berusaha tenang. Dengan halus aku menolak. Namun penolakanku itu ternyata tidak membuat pak Simon menyerah. Buktinya aku terus dikejar dan dirayu dengan janji-janji memikat. Alhasil aku pun luluh. Aku benar-benar dibuat takluk. Bahkan aku seakan tak berdaya ketika pertama kali diajak berhubungan badan layaknya suami istri. Di memoriku teringat betul bahwa pada awal tahun 1994 itu kami sangat rutin melakoni hubungan seks. Itu kami lakukan secara berulang-ulang, baik di rumah maupun di Hotel King Stone Kupang atau di International Hotel Sasando Kupang.
Karena sering berhubungan seks itu pula tak lama kemudian aku pun hamil. Tepat pada 17 Desember 1994 aku melahirkan seorang anak perempuan yang kemudian diberi nama Sofia Rosa Mistika alias Tika. Hanya saja saat melahirkan Tika, aku tidak didampingi pak Simon. Aku benar-benar kesal. Apalagi selama lima bulan sejak kelahiran Tika, pak Simon tidak pernah tunjuk batang hidungnya. Namun ketika aku sadar bahwa pak Simon telah beristri, aku akhirnya memakluminya.
Hari demi hari aku lalui sendiri bersama Tika dan kakak-kakak tirinya. Namun pada 25 April 1995, tiba-tiba pak Simon dan istrinya nongol didepan rumah kontrakanku. Tentu saja kedatangan pak Simon itu membuat aku kaget, marah namun dihiasi perasaan rindu. Aku tertegun. Aku seakan terkunci oleh perasaan cinta dan janji-janji pak Simon. Singkatnya aku lalu persilahkan mereka masuk ke rumah kontrakanku. Didahului basa-basi, pak Simon dan istrinya lalu mengutarakan niat dan keinginan mereka untuk mengadopsi Tika. Mulanya aku sangat berkeberatan. Tapi karena terus didesak, aku akhirnya setuju. Pak Simon dan istrinya berjanji bahwa setelah mereka mengadopsi Tika, maka mereka akan memenuhi semua kebutuhan hidupku sekeluarga. Tapi sayang, ternyata janji-janji itu hanya isapan jempol belaka. Tidak ada yang terealisasi. Omong kosong semua. Padahal waktu itu aku tidak punya penghasilan apa-apa. Bahkan karena aku diketahui hamil diluar nikah, aku akhirnya dipecat dari PT Ansuransi  Bumi Putera 1912.
Walaupun begitu aku berusaha tabah. Hari-hari aku jalani lazimhya ibu bagi anak-anakku. Hampir setiap hari aku terus berdoa kepada Tuhan agar aku diberi pekerjaan. Beruntung doaku didengar. Pada Agustus 1995 aku diterima menjadi PNS dan ditugaskan di Rote. Karena pekerjaan baru itulah, sejak tahun 1995 aku tak lagi pernah bertemu dengan anakku Tika.
Namun sekitar pertengahan Oktober 2004 ketika aku ke Kupang untuk mengikuti wisuda anak pertamaku yang kuliah di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STIBA) “MENTARI” Kupang, aku menghubungi pak Simon via telepon agar aku dipertemukan dengan Tika. Aku benar-benar rindu ingin bertemu Tika. Tapi sayang keinginanku itu tidak pernah terwujud. Dengan berbagai dalih, pak Simon seakan tidak perkenankan aku untuk bertemu dengan Tika. Aku menangis. Aku bingung harus mengadu ke siapa. Saat itu aku hanya bisa mengelus dada. Kesal dan kecewa bercampur menjadi satu. Toh begitu semangat dan kerinduan untuk bertemu Tika terus membara di dalam dada.
Dalam kegalauan selepas wisuda anakku, aku kembali ke Rote. Sebulan kemudian atau tepatnya di bulan November 2004 aku kembali lagi ke Kupang. Selain bertujuan mengambil gaji pensiun suamiku yang biasa aku terima di BRI Cabang Kupang, aku juga berniat menemui Tika anakku.   Kali ini berhasil. Hanya saja aku diminta oleh pak Simon untuk datang ke rumahnya. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung meluncur ke kediaman pak Simon. Disana aku melihat anakku Tika telah berubah. Anak yang dulu ketika masih bayi aku gendong, kini telah menjadi anak aktif yang lincah bertutur sapa. Jujur, saat itu batinku sedih bercampur bahagia. Sedih karena aku dan Tika tinggal berpisah, bahagia karena anakku ternyata masih hidup dan tumbuh dengan sehat. Cukup lama aku mendekap Tika. Demikian sebaliknya. Kami seakan tak sudi melepas pelukan yang penuh kasih sayang itu. Usai melepas rindu bersama Tika, kini giliran aku yang dirayu lagi oleh pak Simon untuk sekali lagi melakukan hubungan badan. Karena kecewa dengan hubungan cinta pertama hingga melahirkan Tika, saat itu juga dengan tegas aku menolak. Tapi dasar laki-laki yang telah dikuasai birahi, pak Simon memaksa aku menuju lantai II rumahnya. Tepatnya di dalam kamar tidur keluarganya, aku dipaksa melayani napsu seksnya berulang-ulang kali hingga magrib tiba. Puas melepas dahaga biologis, pak Simon berlalu pergi menuju lantai I rumahnya. Tidak terbesit sedikit pun rasa penyesalan darinya. Bahkan ketika aku pertanyakan sikapnya jika kemudian hari aku hamil, dengan lantangnya dia mengaku bahwa kehamilan aku itulah yang ia cari dan ia inginkan. 
Kejadian itu berulang lagi pada 4 Desember 2004, ketika seperti biasa aku datang ke Kupang untuk menerima gaji pensiun suamiku. Karena rindu ingin bertemu Tika, aku lagi-lagi menghubungi pak Simon, dan pak Simon meminta aku segera ke rumahnya, katanya Tika sedang menunggu. Tanpa berprasangka yang bukan-bukan aku langsung ke rumahnya. Tapi di rumah itu yang aku temui hanyalah kebohongan belaka. Sebab Tika tidak berada ditempat. Itu hanya tipu muslihat pak Simon agar langgeng menyetubuhiku. Kali ini dia berjanji akan menikahiku jika aku hamil lagi. Setelah itu aku langsung pulang ke Rote. Hari-hari terus berlalu. Tanpa disadari benih yang pak Simon tanam dalam rahimku mulai tumbuh menjadi bongkahan daging. Sadar bahwa aku telah hamil, aku langsung menghubungi pak Simon. Sekali lagi dengan gagahnya pak Simon balik menjawab bahwa kehamilanku yang ia tunggu-tunggu dan ia idam-idamkan. Tentu saja mendengar jawaban itu hatiku menjadi kegirangan. Harapan bahwa pak Simon akan menikahiku mulai menghiasi pikiranku. Namun itu ternyata komunikasi terakhir hingga aku harus menempuh jalur hukum untuk meminta pertanggung jawaban pak Simon. Sebab sejak aku hamil hingga melahirkan anak ke-2 hasil perselingkuhan kami itu, pak Simon tak pernah mau lagi menampakan batang hidungnya. Jangankan memberi nafkah, sekedar mengecek keadaan anak laki-laki bernama Andika itu saja, pak Simon tak pernah. Oleh karena itu, maka pada 16 Juli 2005 aku terpaksa mengadu persoalan ini kepada Ketua DPRD NTT guna mendesak pak Simon untuk bertanggung jawab terhadap janji dan perbuatannya. Namun usahaku itu sia-sia. Sebab sampai hari ini tidak ada upaya penyelesaian yang difasilitasi DPRD NTT.
Gagal menggalang solusi kekeluargaan, aku akhirnya melaporkan pak Simon ke Polda NTT. Kini proses hukumnya sedang berjalan. Baik aku maupun pak Simon dan istrinya telah diperiksa oleh penyidik Polda NTT. Hanya saja sekarang katanya polisi sedang menunggu hasil test DNA sekedar untuk membuktikan bahwa dua anak yang aku lahirkan itu apakah benar dari hasil hubunganku dengan pak Simon atau tidak. Selain mengadu ke polisi, aku juga telah mengirim surat dan meminta perlindungan hukum ke Presiden RI, Mendagri, Komnas HAM dan PIAR NTT. Yang aku minta hanya satu, yakni pengakuan tulus dari pak Simon bahwa Tika dan Andika adalah darah dagingnya sendiri.  (by. cis)

3 Komentar

  1. Kasihan..

  2. kasihan.. anggota DPRD ko kelakuannya seperti HEWAN alias MAHKLUK tak bermoral dan tak berotak… negara kita salah pilih orang tu..

  3. tuh bukan pejabat.tapi manusia laknat


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.