Bila Suami Dikianati Istri, Perceraian Menjadi Solusi Paling Tepat


sergapntt.com – Ketika istri ditinggal suami berselingkuh, reaksi yang terjadi bermacam-macam. Ada yang menangis histeris, ada yang menangis diam-diam malu didengar tetangga, marah, bahkan ada yang nekad mendatangi dan melabrak WIL (wanita idaman lain) sang suami. Lalu, ketika kejadian itu terjadi pada laki-laki, ketika istri meninggalkan suami karena ada PIL (pria idaman lain), apa reaksi laki-laki yang digembar-gemborkan sebagai makhluk lebih kuat dan tegar dari perempuan itu?
Ternyata soal hati sama saja. Kendati tidak bercucuran air mata, para lelaki yang tampak tegar itu mengakui mereka terluka. Namun mereka mengungkapkannya dengan cara berbeda. Banyak yang berubah menjadi “harimau yang terluka”. Tidak hanya mengamuk kepada istri, PIL istrinya pun diuber guna dapat melampiaskan rasa marah. Lihat saja  Hidayat (45). Beberapa bulan lalu dengan parang terhunus, pria asal Kabupaten Ende itu terus mencari istrinya. Maklum sudah setahun terakhir ini istrinya pergi dengan laki-laki lain.
“Waktu itu beta sonde pernah lepas parang (golok). Kemana-mana beta selalu bawa parang. Dalam hati, begitu beta ketemu, beta langsung cincang mereka. Beta su nekad na…. Ini menyangkut harga diri bu…,” kisah Hidayat mengingat kejadian setahun silam.
Beruntung disaat Hidayat kalap, Tuhan selalu menuntunnya. Target yang dicari tak pernah ketemu. “Untung beta sonde tau mereka punya tempat persembunyian. Kalau sonde, beta sonde tau lagi. Untung betul. Kalau sonde beta ju sonde tahu bagaimana dengan beta pung anak-anak pung nasib sekarang ini,” ujarnya, lirih.
Kini pria kelahiran Tahun 1962 itu sudah “ikhlas” melepas istrinya. “Sekarang beta sonde pikir dia lai. Yang beta pikirkan sekarang bagaimana beta pung anak-anak sekolah dan kedepan sonde ikut mereka pung mama jelek,” timpalnya.
Rasa marah, juga reaksi pertama yang keluar dari Ramly (35), saat mengetahui istrinya, sebut saja Yeni, berpacaran dengan seorang sopir bus. Ramly yang sehari-hari berprofesi sebagai montir kendaraan roda dua itu tidak menyangka jika istrinya tega mengkhianti perkawinan mereka yang telah membuahkan dua orang anak. Tak bisa mengendalikan diri, Ramly pun memukuli istrinya. Buntutnya, warga Kota Baru, Kota Kupang itu dilaporkan istrinya ke polisi. Singkat kata Ramly pun masuk penjara.
Lain lagi dengan kisah Yanto (43). Lelaki berbadan kekar asal Ambon ini mengaku sangat marah dan harga dirinya serasa diinjak-injak ketika tahu istrinya telah menikah diam-diam selagi perkawinan mereka belum bubar. Namun Yanto masih bisa mengendalikan diri.
“Semua perasaan bercampur aduk. Shock, marah, sakit hati, semuanya bercampur menjadi satu. Tapi akhirnya beta pasrah,” kenang Yanto.
Padahal menurut Yanto, perkawinan mereka tampaknya baik-baik saja, sampai muncul PIL di hati istrinya. Kemudia ia meminta istrinya meninggalkan rumah setelah perceraian berlangsung secara resmi di pengadilan. Karena merasa, istrinya tak bisa mengajarkan perbuatan baik, Yanto menahan kedua anak mereka untuk tetap ada dalam pengasuhannya.
Musibah ditinggal istri, umumnya diakui Hidayat, Ramly dan Yanto merupakan masa yang paling berat dalam hidup. Ketika prahara itu reda, yang tinggal hanyalah rasa sedih dan sakit hati. Sambil menanggung beban hati, para suami ini mengaku mulai berusaha bangkit dan menata hidup demi hari esok yang lebih baik.
“Apa yang biasa dilakukan istri, saya lakukan sendiri. Mengurus rumah, memasak hingga mengantar anak ke sekolah. Semua saya lakukan demi anak,” papar Yanto.
Sebenarnya banyak kerabat yang kasihan melihat keadaan Yanto dan ingin menjodohkannya lagi. Sebagai laki-laki, tentu saja Yanto ingin. “Tapi anehnya setiap saya dikenalkan dengan seorang wanita, yang terbayang adalah wajah anak-anak saya. Bagaimana jika wanita yang saya pilih tidak sesuai untuk anak-anak. Karena itulah, akhirnya saya putuskan untuk hidup bertiga saja dengan anak-anak.”
Sedangkan keputusan Ramly untuk tidak menikah lagi bukan semata khawatir akan perasaan anak-anaknya mendapat ibu tiri. “Saya kapok. Benar-benar kapok berhubungan dengan wanita,” ucapnya, tegas.
Pilihan menikah lagi justru dilakukan Hidayat. “Soal ia selingkuh atau tidak nanti, saya pasrah saja.” celektuknya.
APA yang menimpa para lelaki ini dicermati juga oleh Ustad Arifin. Menurut pria yang juga aktif berceramah ini, ketika para suami ditinggal istrinya karena menemukan PIL, hal itu adalah kesalahan para suami sendiri.
“Kasus seperti ini banyak saya tangani. Setelah saya cermati, walaupun tudingan pastilah datang ke pihak istri, tetapi kesalahan tetap ada pada suami,” tegas Arifin.
Menurut Arifin, terkadang para suami tidak bisa memenuhi tiga peran yang seharusnya dilakoni kaum laki-laki ketika berumah tangga. Padahal, sebagai suami, ia harus bisa berperan sebagai suami, ayah, dan kepala rumah tangga. Sebagai suami, setidaknya ia harus bisa menjadi idola istrinya. Sebagai seorang ayah, ia harus bisa menjadi motivator dan teladan bagi anak-anaknya. Sedangkan sebagai kepala rumah tangga ia harus bisa tampil mewakili keluarga di masyarakat.
“Sebagai contoh, mungkin semua istri ingin suami yang handsome. Soal fisik adalah anugerah dari Allah, tapi minimal para suami berpenampilan rapi agar tak memalukan istri. Jangan mentang-mentang udah kawin, hanya memakai kaus oblong atau kaus dalam saja, ” ucap Arifin, kritis.
Kata Arifin, faktor utama yang sering dijumpainya pada kasus istri berpaling pada lelaki lain disebabkan sang istri tak bisa mendapat apa yang diinginkannya dari suaminya. “Saya yakin hal ini tidak keluar dari hati nuraninya sendiri. Lebih banyak merupakan kompensasi ketidakpuasannya dari rumah tangganya. Barangkali di rumah tangganya, sang suami tak berfungsi sebagai pemimpin. Kita lihat pada kasus artis-artis yang pergi meninggalkan suaminya. Umumnya mereka adalah perempuan-perempuan yang dominan. Sebagai pemimpin, suami juga harus berlaku arif dan adil. Tidak mentang-mentang mendapat “kekuasaan penuh” lalu semena-mena pada istri. Seorang muslim tidak boleh menzalimi muslim lainnya. Jadi tak boleh suami menzalimi istrinya . Ia juga harus mau mendengarkan apa keinginan istri dan mencoba mencari titik temu. Sebaik-baik orang beriman adalah orang yang baik budi pekertinya. Orang yang baik budi pekertinya adalah yang memberikan yang terbaik bagi istrinya. Ia harus berkata baik dan lembut pada istrinya. Niscaya, rumah tangga ini akan tahan terhadap badai sebesar apapun,” tandasnya
Jika sang suami sudah melaksanakan kewajibannya sebagai pemimpin namun istri masih “berulah”, hal ini berpulang pada “tabiat” sang perempuan. “Berarti sang istri memang tidak mau menjalankan ajaran Allah. Kalau sudah begini perceraian menjadi solusi paling tepat, ” timpalnya. (by. cis)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.