sergapntt.com – Cinta itu buta. Tapi orang yang tidak menghargai cinta itu lebih buta. Cinta akan indah bila dinikmati secara utuh. Bukan seperti yang dilakoni Dany (31), suami Ny. Nadya (27). Berikut penuturan Nadya kepada Wartawan Mingguan Berita Rakyat, Chris Parera.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa rumah tangga yang telah aku bina selama 5 tahun akhirnya akan hancur seperti ini. Sebelum menikah, aku selalu mendambakan pernikahan yang bahagia dan harmonis. Kebahagiaan itu sempat aku rasakan di awal pernikahanku. Namun itu hanya sesaat.
Dengan dasar cinta, aku menikah dengan kak Dany. Awalnya kami merasa sangat bahagia. Kasih sayang melimpah di rumah tangga kami. Saat itu Dany adalah suami yang sangat baik, penyayang, dan sangat memanjakanku. Kebahagiaan kami semakin lengkap saat aku mengetahui diriku hamil. Akhirnya anak laki-laki kami lahir dan kami beri dia nama Putra. Dia sungguh anak yang cakap dan cerdas.
Sejak ada Putra, hari-hari kami semakin ceria. Rasanya saat itu, aku adalah istri dan ibu yang paling beruntung di seluruh dunia. Namun ternyata, kebahagiaan itu tidak bisa aku miliki selamanya. Semuanya kemudian berubah.
Awal kehancuran rumah tangga kami bermula dari hobi baru kak Dany. Entah mendapat pengaruh dari mana, kak Dany kini hobi mengumpulkan dan menonton film-film porno. Pada awalnya aku tidak berkeberatan dengan hobi barunya itu. Karena aku pikir hal itu wajar sebagai seorang laki-laki dewasa.
Setelah itu kak Dany mulai melibatkan aku dalam hobinya. Setiap kali kami akan melakukan hubungan seks, kak Dany selalu memutar film porno lebih dulu. Setelah film usai, kak Dany memintaku untuk melakukan gaya berhubungan seks seperti yang kami saksikan di film. Untuk melakukan hal ini, aku pun tidak berkeberatan. Bagiku, hal ini hanyalah variasi dari hubungan seks suami-istri. Bahkan ini kuanggap sebagai hal positif yang akan kembali menggairahkan hubungan suami-istri kami, yang rasanya memang sudah mulai membosankan.
Namun lama kelamaan, pengaruh film porno semakin merasuk diri kak Dany. Tuntutannya semakin gila dan aneh, bahkan aku pikir sedikit berbahaya. Kak Dany sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk mengutarakan pendapatku, apalagi menolak. Setiap aku menunjukkan gelagat tidak suka, kak Dany selalu marah dan mengancam aku. Hingga akhirnya aku terpaksa menuruti semua keinginannya.
Lama-kelamaan, Dany tidak hanya sekedar mengancam. Ia mulai memukuli aku bila keinginannya aku tolak. Dia mengancam tidak akan memberikan nafkah bagi aku dan anakku. Aku yang hanya ibu rumah tangga biasa dan tidak memiliki penghasilan, hanya bisa pasrah saja menuruti kemauannya. Sementara dia sepertinya mengetahui ketergantungan ekonomiku pada dirinya. Dan, hal ini dimanfaatkannya untuk memperlakukan aku sesuka hatinya, terutama soal berhubungan seks.
Makin hari, cara kak Dany memperlakukan aku semakin tidak manusiawi. Bayangkan saja, setiap berhubungan sek, dia selalu memasukkan benda-benda asing ke dalam vaginaku. Sakitnya tidak tertahankan. Sakit fisik dan juga sakit batinku. Namun dia sepertinya sudah tidak lagi peduli. Dia sepertinya menemukan kesenangan di balik kesakitanku.
Yang lebih parah lagi, ternyata kak Dany selalu menceritakan apa yang dia lakukan padaku saat berhubungan seks kepada para tetangga dan teman-temannya. Hatiku semakin hancur. Rasa malu yang teramat sangat juga menderaku, terutama bila bertemu dengan tetangga dan teman-teman kak Dany.
Lama-kelamaan, Dany tidak hanya sekedar mengancam. Ia mulai memukuli aku bila keinginannya aku tolak. Dia mengancam tidak akan memberikan nafkah bagi aku dan anakku. Aku yang hanya ibu rumah tangga biasa dan tidak memiliki penghasilan, hanya bisa pasrah saja menuruti kemauannya. Sementara dia sepertinya mengetahui ketergantungan ekonomiku pada dirinya. Dan, hal ini dimanfaatkannya untuk memperlakukan aku sesuka hatinya, terutama soal berhubungan seks.
Makin hari, cara kak Dany memperlakukan aku semakin tidak manusiawi. Bayangkan saja, setiap berhubungan sek, dia selalu memasukkan benda-benda asing ke dalam vaginaku. Sakitnya tidak tertahankan. Sakit fisik dan juga sakit batinku. Namun dia sepertinya sudah tidak lagi peduli. Dia sepertinya menemukan kesenangan di balik kesakitanku.
Yang lebih parah lagi, ternyata kak Dany selalu menceritakan apa yang dia lakukan padaku saat berhubungan seks kepada para tetangga dan teman-temannya. Hatiku semakin hancur. Rasa malu yang teramat sangat juga menderaku, terutama bila bertemu dengan tetangga dan teman-teman kak Dany.
Aku pernah mencoba bicara baik-baik dengan kak Dany untuk menyatakan keberatanku dan memintanya untuk tidak lagi menceritakan persoalan yang sangat pribadi ini kepada orang lain. Namun kak Dany malah semakin marah-marah. Aku hanya bisa menangis. Segala angan-anganku tentang pernikahan yang bahagia, suami yang penyayang dan hubungan seksual yang penuh keindahan, ternyata tidak lagi menjadi kenyataan.
Jujur saja, aku sudah tidak kuat lagi melihat sikap dan perangai kasar kak Dany. Terlebih saat aku tahu kak Dany tengah menjalin hubungan dengan perempuan lain! Padahal aku sudah berusaha untuk sabar menghadapi tingkahnya, menuruti semua keinginannya, bahkan keinginan seksual yang aneh sekalipun, tapi kak Dany malah berkhianat. Tak sedikitpun pengorbananku sebagai istri dihargai olehnya.
Akhirnya, tidak ada jalan lain, selain bercerai! Aku ceritakan keinginan bercerai kepada temanku. Ia menyarankan agar aku berkonsultasi ke Lembaga Bantuntuan Hukum (LBH) yang bergerak melindungi kaum perempuan. Awalnya aku malu, namun aku memberanikan diri untuk datang kesana. LBH ini lalu memberiku masukan-masukan seputar proses pengajuan perceraian serta hak-hak yang seharusnya aku peroleh setelah terjadi perceraian. Aku juga disarankan untuk melaporkan kak Dany ke pihak kepolisian. Jika aku merasa takut dan sudah tidak nyaman lagi tinggal bersama dengan kak Dany, LBH ini menawarkan shelter atau rumah aman.
Akhirnya, tidak ada jalan lain, selain bercerai! Aku ceritakan keinginan bercerai kepada temanku. Ia menyarankan agar aku berkonsultasi ke Lembaga Bantuntuan Hukum (LBH) yang bergerak melindungi kaum perempuan. Awalnya aku malu, namun aku memberanikan diri untuk datang kesana. LBH ini lalu memberiku masukan-masukan seputar proses pengajuan perceraian serta hak-hak yang seharusnya aku peroleh setelah terjadi perceraian. Aku juga disarankan untuk melaporkan kak Dany ke pihak kepolisian. Jika aku merasa takut dan sudah tidak nyaman lagi tinggal bersama dengan kak Dany, LBH ini menawarkan shelter atau rumah aman.
Pilihan-pilihan yang diberikan LBH kemudian aku bawa pulang untuk kembali aku pikirkan. Sampai detik ini, aku belum juga bisa memutuskan langkah apa yang harus aku ambil. Saat aku tersiksa, suamiku justru selingkuh. Aku tahu rumah tanggaku telah hancur dan suamiku telah melakukan kekerasan seksual kepadaku serta mengkhianati aku. Namun apa daya, secara ekonomi, aku sangat bergantung pada kak Dany, aku memilih untuk mempertahankan rumah tanggaku. Lagipula aku harus memikirkan Putra, anakku. Aku tidak ingin Putra menjadi korban jika kami harus berpisah, apalagi jika bapaknya harus di penjara. Putra tentu masih sangat membutuhkan kasih sayang kedua orangtuanya. Aku hanya bisa berharap kak Dany berubah, karena aku tidak tahu sampai kapan kesabaranku ini akan bertahan.
Aku ceritakan masalah rumah tanggaku ini agar kak Dany dan kaum laki-laki lain sadar bahwa kita saling membutuhkan. Tampa aku kak Dany tak ada artinya. Begitupun sebaliknya. Antaga! (*)
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar