sergapntt.com – Sekelompok katak mulai kebingungan ketika lingkungan sekitarnya mulai mengering. Melihat mangsa yang tengah dirundung masalah, seekor burung bangau berusaha mencari siasat. Kepada komunitas ini, dijanjikanlah lingkungan yang lebih baik. Sang bangau pasang badan. Siap membantu mengangkut katak ke lokasi yang dijanjikan.
Setiap hari, seekor katak diangkut ke puncak bukit. Bukan ke lokasi gemah ripah seperti dijanjikan, tapi justru dibunuh untuk dimakan bersama keluarga bangau. Sementara di belahan lain, komunitas katak yang tak tahu tabiat keji itu tetap sabar menunggu. Mereka antre menunggu giliran, diangkut ke meja makan sang bangau.
Cerita itulah yang mengilhami tindakan keji kelompok Yudi Dariansyah (33) cs. Komplotan sadis ini, seperti dituturkan salah seorang tersangka, sengaja memilih para Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang baru pulang berburu ringgit di negeri jiran sebagai katak. Tetapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Seorang korbannya Esther Baniwine asal Nusa Tenggara Timur (NTT) lolos dari maut dan mengadukan kasus ini ke polisi.
Bermula dari informasi awal inilah, polisi akhirnya menemukan sederet nama korban TKW yang tak pernah tiba di rumahnya. Selain Esther yang bernasib mujur karena tetap hidup meski telah dijerat dengan seutas tali dan dibuang di kebun tebu Desa Wonoplintahan Prambon Sidoarjo, ada juga beberapa korban yang tinggal menyisakan nama.
Esther menuturkan, begitu menginjakkan kaki di Bandara Juanda, pembantu rumah tangga sebuah keluarga di Jl Murni 11 No 37 Bandar Malaka Malaysia itu sudah disongsong 4 pria dan satu wanita. Mereka yang mengaku biasa membantu para TKW asal NTT pulang kampung. Singkat cerita, Esther kemudian diboyong ke sebuah rumah di Perumahan Candra Mas Jl Wijaya Kusuma Blok FB/23C Sedati Sidoarjo. Lokasi perumahan yang berada di tengah persawahan berhadapan dengan perumahan Dinas TNI AL Pulungan Sedati itu, sebetulnya tak layak untuk lokasi penyekapan. Rumah berpagar setinggi orang dewasa itu, lokasinya berhimpitan di kawasan yang sudah dipadati penduduk. Tak ada yang keluar ketika rumah pintu pagar diketuk. Sejumlah tetangga yang ditemui mengaku tak terlalu banyak mengenal penghuni rumah.
Hingga kemarin, tak ada police line seperti layaknya tempat kejadian peristiwa (TKP) yang harus diamankan karena terjerat kasus. “Mungkin penghuninya sedang keluar,” ujar seorang pekerja yang tengah merenovasi rumah di sebelahnya.
Menurut Esther, dirinya bersama sejumlah TKW yang ditampung di lokasi itu memang tak pernah merasa dalam penyekapan. Mereka mengaku diperlakukan baik oleh para pelaku. Awalnya dia curiga karena paspor dan cek senila Rp 16 juta sempat diminta pelaku. Tapi karena alasan untuk memudahkan kepulangannya ke kampung halaman, kecurigaan itu pun pudar dengan sendirinya.
Puncak musibah terjadi pada Minggu (21/8) lalu. Esther yang tiba di Bandara Juanda 27 Juli itu diajak pulang lewat Bali. Minggu dini hari itu, Esther yang tak paham peta Sidoarjo sengaja dibawa keliling Sidoarjo hingga Surabaya. Di tengah jalan yang sepi, Esther yang duduk di samping pengemudi, dijerat dengan tali dari belakang oleh dua pelaku.
Tubuh gadis yang dianggap sudah meninggal itu, kemudian dibuang ke perkebunan tebu. Esther yang dalam kondisi sekarat itu kemudian ditemukan warga dan dirawat di RSUD Sidoarjo, keesokan harinya. Karena lukanya yang terlalu parah terutama di bagian leher, Esther baru mulai pulih dan bisa bicara selang 2 pekan kemudian.
Dari keterangan mulut mungil itulah polisi akhirnya meringkus Husainul Hamdi alias Andik (23) dan Sulianton alias Boy. Andik yang ditangkap di rumah kontrakan, tak pernah mengira rahasianya telah terbongkar. Karena itulah, warga Lombok Barat NTB ini, balik ke rumah yang sudah beberapa hari disanggong polisi.
Jajaran Polwiltabes Surabaya dan Polda Jatim yang geram melihat kesadisan sindikat ini ikut turun tangan. Sebuah sedan Timor milik Yudi yang juga pimpinan komplotan sudah disita polisi. Yang lebih mengejutkan lagi, eksekutor yang hanya dibayar Rp 600 ribu untuk aksinya itu, justru cenderung lebih memilih korbannya yang sama-sama satu daerah.
Belakangan, ketika Esther masih dalam perawatan, komplotan ini juga mengeksekusi Masri (33) pada Minggu 18 September 2006 lalu. Mayat Masri ditemukan warga Desa Praya Lombok Tengah NTB di sebuah parit Desa Tambaksumur Waru Sidoarjo. Selang 3 hari kemudian mereka juga mengeksekusi Sisilia (20) dan jazadnya dibuang di sebuah kawasan sepi di Kecamatan Bangil Pasuruan. Nasib yang sama juga dialami Deby, jenazahnya ditemukan di Ngoro Jombang.
Sulit Percaya
Kisah “kebaikan” komplotan sadis pada para calon korbannya juga dituturkan Margareta. Korban yang sebetulnya juga tengah menunggu giliran diantar ke ‘akherat’ itu mengaku heran karena langsung akrab dengan Yudi yang sehari-hari berprofesi sebagai sopir taksi gelap di Bandara Juanda. Bahkan karena kebaikan yang selalu ditunjukkan, Margareta masih sulit percaya bahwa teman-temannya sesama TKW yang diantar komplotan itu, tak pernah sampai ke rumah seperti yang dijanjikan.
Ungkapan senada juga dilontarkan Any, Rika dan Sonbai yang juga menginap di rumah yang sama. Bulu kuduk Margareta berdiri ketika menuturkan pengalaman dirinya yang sempat dibawa jalan-jalan oleh anggota komplotan ini. “Untung saya tidak diapa-apakan,’ ujarnya.
Belakangan kabar santer pembunuhan para TKW asal NTT ini mulai mengusik perhatian warga setempat di Surabaya. Apalagi saat polisi menggeledah rumah itu, ditemukan sedikitnya 15 paspor di kamar Yudi. Sejumlah anggota masyarakat mulai berdatangan ke Mapolsek Waru. Salah seorang diantaranya Oktavianus yang menyebutkan 13 TKW asal daerahnya yang sudah pulang dari negeri asing, tapi tak pernah sampai ke rumah.
Dampak ‘musibah’ itu, para TKW yang hendak pulang ke kampung halamannya nyaris tak punya apa-apa. Semua hasil jerih payah memeras keringat di negeri orang, lenyap digondol sindikat. Untuk sementara kehidupan mereka menjadi tanggungan bersama warga RT 08/11 perumahan itu. Termasuk juga bantuan warga Surabaya asal NTT yang ikut trenyuh mendengar buruknya nasib para korban.
Warga NTT amat berharap jaringan ini bisa segera digulung. Polwiltabes Surabaya seperti ditegaskan Kapolwil Kombes Pol Sutarman pun tak main-main.
“Kami sudah turunkan tim khusus untuk memburu komplotan Yudi,” tegasnya. Semuanya berharap tak ada lagi ‘bangau-bangau’ lain yang begitu tega menipu komunitas ‘katak’ seperti itu. (by. fortun)
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar