Lembata Terkontaminasi HIV/AIDS, Dua Pasien Dirawat di RSUD Lewoleba


sergapntt.com [LEWOLEBA] – Di gedung putih RSUD Lewoleba-Lembata, Tim DPRD NTT bertemu pasien kronis ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Mulanya, Tim berencana meninjau proyek pembangunan gedung Rumah Sakit yang dibiayai oleh dana Tugas Pembantuan dari APBN. Namun konsentrasi Tim sempat beralih ketika laporan dari dr. Maryono, Kepala RSUD Lewoleba bahwa ada pasien ODHA sedang dirawat. Pasien itu adalah seorang ibu berumur 47 tahun dan seorang lagi anak berumur 7 tahun.
dr. Maryono menerangkan bahwa Ibu 47 tahun berinisial FK memiliki 2 suami dan 4 orang anak. Sewaktu menikah dengan suami pertamanya, mereka pergi merantau ke Malaysia dan dikaruniai 1 anak. Sekembalinya mereka dari Malaysia, suaminya meninggal dunia dan FK pun memilih untuk kawin lagi dengan laki-laki lain. Dari suami keduanya itu, FK dikaruniai tiga orang anak. Sampai saat ini, semuanya masih hidup dengan dugaan terjangkit HIV/AIDS.
Setelah mendapat keterangan tersebut, Tim DPRD akhirnya memutuskan untuk menemui dua pasien ODHA di ruang ICU RSUD Lewoleba. Dari petugas medis yang merawat kedua pasien ini, FK dikabarkan sampai saat ini belum mengetahui penyakit apa yang sedang dideritanya. Hal ini disengaja, agar yang bersangkutan tidak shok ketika mendengar bahwa penyakit yang dideritanya adalah HIV/AIDS. Ketika menemui FK, Expo Lamaholot memperoleh informasi yang membenarkan keterangan petugas medis tersebut. Secara terbuka FK mengakui, jika penyakit yang sedang dideritanya itu sama dengan yang dialami oleh suami pertamanya. Lebih parah lagi, ketika anak-anak FK hendak datang dengan maksud menjenguk mamanya, mereka diperiksa dan ternyata semuanya menjurus keindikasi kuat terjangkit HIV/AIDS. Sementara anaknya yang berumur 12 tahun yang masih duduk dibangku SMP belum bisa diperiksa karena masih mengikuti ujian sekolah.
Ada lagi bocah berumur 7 tahun terlihat begitu ketakutan saat Tim DPRD menemuinya. Bocah yang tak tercelah inipun masuk sebagai tersangka ODHA. Bukan salah Maria Dolorosa, tetapi akibat perkawinan sedarah orang tuanya, ia menjadi korban penyakit ganas itu. Sejak lahir, Maria Dolorosa seolah-olah hadir membawa aib bagi keluarganya. Lalu dengan ketabahan neneknya, ia akhirnya dipelihara sampai genap umur 7 tahun. Namun dimasa ia ingin dimanja, ternyata nasibnya tidak berubah. Ia kini menjadi tumbal. Menurut medis, jika orang tua telah mengidap maka sangat mungkin anaknya akan teridap pula, sebab air susu yang dialirkan ketubuh anak pasti mengandung virus HIV/AIDS.
Pihak Rumah sakitpun tidak bisa berbuat banyak. Peralatan dan kelengkapan yang dimiliki hanya bisa memberikan pertolongan sementara. Selama ini, RSUD. Lewoleba mengirim pasiennya ke RS. Hiler Maumere. Karena RSUD Hiler Maumere memiliki peralatan yang cukup memadai berupa VCT, tempat bimbingan dan konseling. Sementara sampel darah harus dikirim ke Kupang untuk diperiksa di Laboratorium RSU Kupang.
Keluhan beberapa masyarakat yang ditemui terpisah mengatakan bahwa, saat ini Lembata cukup rawan dengan persoalan-persoalan sosial. Menjamurnya tempat-tempat hiburan malam memicu munculnya masalah sosial antara lain penyakit HIV/AIDS. Banyak sekali penjaja seks komersial yang berdatangan dari berbagai tempat untuk menjajakan tubuhnya di Lembata. Tempat-tempat karoke yang mendapat ijin dari pemerintah setempat dalam perjalanan berubah jadi tempat esek-esek, namun tidak pernah digubris oleh Pemda.
Kasus HIV/AIDS datang pertama dari para perantau Malaysia. Seperti FK, diduga kuat ia bersama suaminya pertama kali terjangkit di Malaysia. Sehingga setelah kembali dari sana, suami pertamanya meninggal dunia. Akibatnya, suami kedua berserta tiga anaknya dipastikan ikut terjangkit, dan yang pasti sumbernya dari istri dan ibu mereka sendiri. Jika demikian maka rasio penyebarannya semakin bertambah besar dari waktu ke waktu. 
Bayangkan saja, menurut Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Provinsi (KPAP) NTT bahwa rasio penyebaran 1:1000. Maka tidak heran jika suatu saat ada 8.000 penderita HIV/AIDS di Lembata. Karena menurut data sementara yang dikeluarkan pihak Rumah Sakit Daerah Lewoleba sudah ada 8 pasien sejak tahun 2004, belum termasuk yang tidak sempat teridentifikasi.
Kasus yang saat ini mencuat adalah, mereka yang sekedar datang dan memeriksakan diri ke Rumah Sakit. Setelah pemeriksaan baru diketahui kalau terjangkit HIV/AIDS. Jika demikian, maka masih ada FK-FK lain di Lembata yang masih berkeliaran dengan virus HIV/AIDS di tubuhnya.
Kasubdin Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, dr. Arnold Marbun saat ditemui di ruang kerjanya membenarkan informasi tersebut. Hanya saja, menurut Marbun, data yang disampaikan pihak RSUD Lewoleba adalah data awal yang belum diuji kebenarannya. Karena selama ini, pihak rumah sakit hanya menggunakan satu jenis reagen untuk pemeriksaan. Seharusnya untuk kasus HIV/AIDS harus menggunakan tiga reagen. Ia mencontohkan, tahun 2004 pihak Rumah Sakit menampung 6 pasien yang telah ditetapkan sebagai tersangka pengidap HIV/AIDS. Namun setelah sampel darahnya dikirim ke Kupang untuk diperiksa ternyata hanya 2 orang yang positip HIV/AIDS. Di Lembata sendiri belum memiliki laboratorium pemeriksaan HIV/AIDS.
Oleh karena itu, sebaiknya jangan terlalu dibesar-besarkan masalah ini karena sangat sensitif dan berpengaruh besar pada penderita. Namun dari hasil analisa data yang dikumpulkan Expo lamaholot, ternyata data resmi yang dikeluarkan oleh pihak RSUD. Lewoleba berbeda dengan data yang ada pada dinas Kesehatan. Berarti masih ada kesimpangsiuran dalam penanganan masalah data HIV/AIDS. Seperti tahun 2005, didalam data RSUD. Ada 4 kasus HIV/AIDS, namun pihak dinas mengakui tidak ada kasus sama sekali. Ditahun 2007 ini, dua pasien yang lagi dirawat di RSUD. Lewoleba yakni FK dan Mater Dolorosa sampel darahnya sudah diambil oleh pihak dinas kesehatan dan selanjutnya akan dikirim kepusat laboratorium di Kupang untuk diperiksa. Darah penderita itu saat ini diamankan dalam sebuah box steril dengan suhu yang tetap dijaga guna menghindari kerusakan. Marbun juga mengakui, bahwa kebanyakan pasien adalah warga yang pernah merantau ke Malaysia.
Sementara itu Wakil Bupati Lembata, Drs. Andreas Nula Liliweri saat ditemui di ruang kerjanya mengatakan kasus HIV/AIDS akan ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa sehingga penanganannya lebih serius lagi. Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Daerah Lembata selama ini telah bekerjasama dengan semua tokoh masyarakat dan semua stakeholder guna melakukan sosialisasi tentang bahaya HIV/AIDS.
Ande Liliweri juga mengimbau para orang tua agar selalu menyerukan dan mengingatkan seluruh anggota keluarganya tentang penyakit ini. Karena menurut Liliweri, keluarga adalah benteng pertahanan pertama yang harus dibangun untuk menangkis sergapan bahaya HIV/AIDS.
Kepada masyarakat Lembata ia mengharapkan agar selalu menjauhkan diri dari praktek-praktek hidup yang menyimpang  yang menimbulkan masalah-masalah sosial yang mengganggu kehidupan banyak orang. Karena Lembata cukup terbuka dengan masuknya parantau-perantau dari luar maka langkah-langkah antisipatif perlu diambil, seperti memproteksi daerah ini dari bahaya laten lainnya. Contoh kasus HIV/AIDS ini merupakan penyakit yang bibitnya dibawa dari luar oleh perantau, ujar Liliweri. Kedepannya, pemerintah akan berusaha mengeliminir dengan memberdayakan tokoh-tokoh masyarakat terlebih untuk orang tua dan keluarga untuk turut serta memerangi HIV/AIDS. (by. Ruddy)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.