Bram: Sebelum Dibunuh, Dua dari 16 TKW Sempat Bertemu Saya!


sergapntt.com [KUPANG] – Kematian 16 orang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal NTT di Surabaya, Jawa Timur Tahun 2005 lalu ternyata tidak mengakhiri penderitaan para TKW asal NTT lainnya yang transit via Bandara Juanda Surabaya ketika pulang dari Malaysia, Arab Saudi atau Singapura. Hingga sekarang, para pahlawan devisa asal NTT itu masih sering di peras, disiksa bahkan satu dari sejumlah TKW asal NTT sempat diperkosa oleh empat orang oknum sopir taksi Bandara Juanda di seputaran Bandara Juanda.  
Demikian dikatakan Wiliam Bram, pria asal Kabupaten Ende, NTT yang kini berdomisili di RT 08 Desa Manyar Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur. Menurut pria yang mengaku sehari-hari berprofesi sebagai sopir taksi gelap di Bandara Juanda itu, hampir tiap hari selalu saja ada TKW asal NTT yang diperas. Bahkan Mei 2007 lalu, ada seorang TKW asal NTT yang diperas lalu diperkosa oleh empat orang oknum sopir taksi Primkopal Bandara Juanda.
“Sekarang TKW memang tidak dibunuh lagi seperti yang dilakukan kelompok Yudi terhadap 16 TKW asal NTT dua tahun lalu. Tapi, hampir tiap hari selalu saja ada TKW asal NTT yang mengeluh bahwa mereka diperas oleh oknum-oknum di Bandara Juanda. Bahkan bulan lalu, ada seorang TKW asal NTT yang diperas lalu diperkosa oleh empat orang sopir Bandara Juanda. Kasus ini hanya diselesaikan ditingkat RT. Di depan pak RT, sebagian uang milik TKW itu dikembalikan. Tapi, setelah urusan di RT, korban dibawa lari lagi oleh pelaku. Sampai sekarang apakah dia sudah dibunuh atau masih hidup, saya kurang tahu,” papar Bram kepada Mingguan Berita Rakyat di Kupang belum lama ini.
Tidak itu saja, kata Bram, tindak perampokan juga dialami  oleh Roni Astagina Bani alias Ani, warga Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang saat baru pulang dari Pining, Malaysia Barat. Selain perhiasan mas berupa Kalung, Gelang dan Cincin, Rp 18 juta dan 1400 Ringgit milik Ani pun ludes dirampas perampok.
“Sekarang Ani tinggal di rumah saya di Sidoarjo. Dia mau kembali, tapi tidak ada uang. Satu dua hari ini, kalau Tuhan berkat saya dapat uang di Kupang sini, begitu saya kembali dari Kupang, saya langsung suruh dia pulang kampung,” ujarnya.
Bram mengaku, di Bandara Juanda banyak berkeliaran pelaku kejahatan, khususnya mereka yang ingin memeras para TKW. Bahkan di terminal pesawat itu ada seklompok mafia yang dikenal dengan nama Kelompok 26. Kelompok ini dikoordinir oleh oknum AL dan diketahui oleh Asosiasi Perlindungan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) Propinsi Jawa Timur. Kelompok yang beranggotakan para sopir taksi Bandara Juanda ini punya kantor khusus di seputaran Surabaya yang digunakan untuk mengeksekusi para TKW.  
“Saat turun dari pesawat para TKW diserbu kayak artis. Mereka biasanya dikumpulkan di ruang Kantor APJATI Jawa Timur di Bandara Juanda. Setelah terkumpul, orang APJATI, oknum Angkatan Laut dan para eksekutor yang tergabung dalam Kelompok 26 mulai main mata. Biasanya orang APJATI hitung per kepala. Jaringan ini rapih. Yang tahu hanya orang-orang yang sering nongkrong di Bandara Juanda. Setelah para TKW berhasil dipengaruhi, mereka langsung digiring ke dalam taksi milik Kelompok 26. Disitulah aksi pemerasan dimulai. Para sopir taksi ini mulai sengaja putar pi, putar datang sekedar untuk membingungkan para TKW. Setelah merasa cukup, korban pun diminta bayar ongkos taksi sebesar Rp 2,5 juta hingga Rp 4 juta. Ini pengakuan teman saya yang juga termasuk kelompok 26. Sedangkan untuk biaya pesawat dari Juanda ke Kupang atau ke Flores, biasanya TKW diminta Rp 4 juta hingga Rp 8 juta. Sementara TKW asal NTT yang turun di Bandara Juanda berkisar dua sampai sepuluh orang per hari,” tuturnya.
Untuk itu, Bram meminta Pemerintah Provinsi NTT segera membuka Kantor Perwakilan NTT di Bandara Juanda Surabaya. Sehingga penipuan dan kekerasan terhadap TKW  asal NTT dapat diminimalisir.
“Kalau mau penderitaan orang kita itu berhenti, pemerintah harus segera buka Kantor Perwakilan NTT di Bandara Juanda. Perwakilan ini yang kemudian bertugas membantu TKW asal NTT agar selamat dan mudah pulang kampung. Saya dan pak Oktovianus Pekaata sudah ulang-ulang minta pemerintah NTT agar membuka perwakilan NTT di Bandara Juanda, tapi sampai sekarang belum juga terealisasi. Pak Oktovianus Pekaata itu, salah satu putra NTT yang ada di Surabaya yang selama ini kami percaya sebagai koordinator penanggulangan TKW bermasalah asal NTT di Bandara Juanda,” tandasnya.
Kekerasan yang dialami TKW asal NTT, lanjut Bram, bukan hanya terjadi ketika mereka pulang dari luar negeri. Tapi, saat masih dalam masa pelatihan di penampungan pun, mereka sering menerima perlakuan tidak adil dari perusahaan Penyalur Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). 
“Calon TKW asal NTT sering disiksa. Khususnya  mereka yang direkrut oleh PJTKI Prayogo Prajogo. Tahun 2002 lalu, di tempat perusahaan itu  pernah ada TKW asal Soe, TTS yang dikubur dibawah kolong tempat tidur. Itu terjadi saat pelatihan, sebelum dia dikirim ke luar negeri. Kasus itu kami sempat angkat. Tapi entah kenapa hingga sekarang seakan tenggelam di makan bumi,” paparnya.  
Tahun 2005 lalu, jelas Bram, Pemerinatah Provinsi (Pemprov) NTT melalui Kepala Dinas Nakertrans NTT, Drs. I. N. Conterius pernah berjanji akan membuka Kantor Perwakilan NTT di Bandara Juanda Surabaya. Bahkan saat itu, Conterius berjanji akan mengalokasikan dana untuk biaya penguburan bagi 16 TKW asal NTT yang dirampok dan dibunuh oleh kelompok Yudi Dariansyah (33 Tahun). Sayangnya, hingga kini janji itu tidak pernah terealisasi.    
“Pemerintah kita ini hanya janji-janji to… Saat datang ke Surabaya, Conterius pernah berjanji akan turunkan dana untuk penguburan 16 jenasah. Tapi sampai sekarang mana? Tidak pernah ada! Janji Conterius itu dia sampaikan saat kami pertemuan di warung makan Tempo Doeloe di Bandara Juanda. Katanya Pemerintah NTT akan perhatikan serius masalah ini. Tapi mana? Dia enak makan tidur, terima gaji di Kupang sini, tapi kasihan kami yang di Surabaya. Setiap kali TKW bermasalah, kami selalu jadi tempat pelarian dan pengaduan para TKW. Padahal di Suarabaya, kami juga hidup pas-pasan. Tapi hanya karena kasihan dengan TKW asal NTT, kami terpaksa tampung mereka. Misalnya, sekarang ini si Ani itu masih tinggal di rumah saya. Dia belum bisa pulang karena tidak punya uang. Lalu dimana itu Pemerintah NTT,” timpalnya. 
Sebelum Dibunuh……..
Dua tahun lalu, 16 orang TKW asal NTT dirampok dan dibunuh oleh Yudi cs. Komplotan sadis ini baru diketahui setelah Esther Baniwine asal NTT —-korban yang lolos dari maut walau sempat dijerat dengan seutas tali dan dibuang di kebun tebu di Desa Wonoplintahan Prambon, Sidoarjo—-  mengadu ke polisi. Berawal dari informasi inilah, polisi akhirnya menemukan sederet nama korban TKW asal NTT yang tak pernah tiba di kampung halamannya.
Begitu menginjakkan kakinya di Bandara Juanda, Esther yang bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) di sebuah keluarga di Jl. Murni 11 No 37, Bandar Malaka Malaysia itu sudah disongsong 4 pria dan satu wanita. Kepada Esther, mereka mengaku biasa membantu para TKW asal NTT pulang kampung. Singkat cerita, Esther pun diboyong ke sebuah rumah di Perumahan Candra Mas, Jl. Wijaya Kusuma, Blok FB/23C Sedati Sidoarjo.
Selama berada dalam penyekapan, Esther dan sejumlah TKW asal NTT tak pernah merasa sedang disekap. Maklum Esther cs diperlakukan dengan baik oleh para pelaku. Namun Esther mulai curiga ketika paspor dan cek senilai Rp 16 juta miliknya diminta oleh pelaku. Tapi karena alasan untuk memudahkan kepulangannya ke kampung halaman, kecurigaan itu pun pudar. Alhasil, Minggu (21 Agustus 2005) dini hari, Esther yang tiba di Bandara Juanda pada 27 Juli itu, diajak pulang lewat Bali. Esther yang tidak paham peta Sidoarjo sengaja dibawa keliling Sidoarjo hingga ke Surabaya. Tiba-tiba, di tengah jalan sepi, gadis lugu yang ketika itu duduk di samping pengemudi langsung dijerat dengan tali dari belakang oleh dua orang anak buah Yudi.
Merasa yakin Esther telah meninggal, tubuh Esther pun langsung dibuang ke perkebunan tebu. Sayang, perkiraan para pelaku meleset. Esther ternyata masih hidup. Keesokan harinya, Esther ditemukan dalam kondisi sekarat oleh warga Desa Wonoplintahan Prambon, Sidoarjo dan langsung dilarikan ke RSUD Sidoarjo. Dua pekan setelah mendapat perawatan intensif, kondisi Esther akhirnya pulih. Dari mulutnya itulah, polisi akhirnya meringkus Husainul Hamdi alias Andik (23) dan Sulianton alias Boy. Warga Lombok Barat, NTB ini ditangkap polisi di rumah kontrakannya di Sidoarjo.
Namun ketika Esther masih dalam perawatan, komplotan ini berhasil mengeksekusi Masri (33). Mayat Masri ditemukan warga Desa Praya Lombok Tengah NTB di sebuah parit di Desa Tambak Sumur Waru, Sidoarjo. Selang tiga hari kemudian Yudi cs juga mengeksekusi Sisilia (20). Jazad Sisilia dibuang di sebuah kawasan sepi di Kecamatan Bangil Pasuruan. Nasib yang sama juga dialami Deby, jenazahnya ditemukan di Ngoro Jombang.
Cerita sadis kelompok Yudi ini awalnya tidak dipercayai oleh Margaretha alias Reta yakni korban yang sebetulnya juga tengah menunggu giliran diantar ke ‘akherat’. Reta mengaku heran saat baru tiba dari luar negeri, dirinya langsung akrab dengan kelompok Yudi. Kelompok Yudi sendiri sehari-hari berprofesi sebagai sopir taksi di Bandara Juanda. Bahkan karena kebaikan yang selalu ditunjukkan kelompok Yudi, Reta masih sulit percaya bahwa teman TKW-nya yang pernah diantar kelompok Yudi untuk pulang kampung ternyata tak pernah sampai.  Seakan tak percaya juga disampaikan Any, Rika dan Sonbai yang juga disekap kelompok Yudi di rumah yang sama. Namun bulu kuduk Reta merinding ketika mengingat pengalaman dirinya yang sempat dibawa jalan-jalan oleh anggota kelompok Yudi. “Untung saya tidak diapa-apakan,” ujarnya.
Belakangan kabar santer pembunuhan para TKW asal NTT ini mulai mengusik perhatian warga NTT di Surabaya. Apalagi saat polisi menggeledah rumah penyekapan, ditemukan 15 paspor di kamar Yudi. Dampak dari ‘musibah’ itu, para TKW asal NTT yang selamat terpaksa pulang kampung dengan tangan kosong. Sebab, semua hasil jerih payah memeras keringat di negeri orang, sudah lenyap digondol sindikat.
“15 orang dikubur di Sidoarjo, sedangkan Sisilia dipulangkan ke Sumba. Jika ada perhatian serius dari pemerintah NTT, kami yakin jazad para korban bisa dikembalikan ke kampung halamannya. Identitas korban seperti paspor dan lain sebagainya, sampai sekarang masih ada di Polwiltabes Surabaya. Sebelum Dibunuh, dua dari 16 korban itu sempat bertemu saya. Satunya asal Boawae, dan satunya lagi asal Ende, Lio,” papar Bram. 
Ironisnya, kata Bram, hingga kini polisi belum berhasil menangkap Yudi. Tragisnya lagi, setelah kasus Yudi terbongkar, di Madiun terungkap kasus mutilasi. Diduga  korbannya adalah TKW yang juga berasal NTT. Badan korban ditemukan di sungai di Madiun, sedangkan kepala korban ditemukan di hutan semak di Kabupaten Magetan.
“Polisi baru tangkap tiga pelaku, diantaranya Abdul Raub. Dia ditangkap di Mataram sebelum Bom Bali II terjadi. Abdul Raub asal Sidoarjo itu dihukum mati. Sedangkan dua temannya yang asal Mataram, satunya dihukum mati dan satunya lagi dihukum seumur hidup. Abdul Raub cs itu saya kenal baik. Mereka itu  adalah sopir taksi di Bandara Juanda,” papar Bram.  (by. cis) 

1 Komentar

  1. mau baca dgn serus ngain cewek muncul ngagetin aja ngapain tidur disitu


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.