Sekelompok warga Kota Kupang tampak duduk enjoi dipojok lantai disko Dancing Hall (DH), Flobamor Mall Kupang. Lengkingan house music terdengar keras membisingkan teling, minuman keras seakan menjadi teman setia sembari mata terpana menatap tarian seronok yang disuguhkan sejumlah penari yang hanya mengenakan pakaian bikini ala kadarnya. Tubuh yang meliuk-liuk terus beraksi seakan ingin membangkitkan gairah biologis kaum laki-laki.
Keglamoran hidup para pencinta hiburan malam di Kota Kupang boleh dibilang semakin gila. Kelompok sosial yang satu ini berasal dari semua strata, tidak terkecuali para pejabat eksekutif maupun legislatif.
Suatu malam di akhir pekan lalu, penulis mencoba menelusuri aktivitas DH. Alamak…! Dengan modal “saribu sah” pengunjung sudah bisa berdekat-dekatan dengan si penari. Asalkan uang itu disisipkan dibalik BH atau celana yang dipakai si penari.
Bagi pengunjung baru, andrenalinnya pasti terpacu saat penari menyajikan gerakan hotnya. Belum lagi jika turut tergoda melahap minuman keras yang on line dijual. Diantara dentuman musik, sesekali terdengar gemerincing minuman keras yang sedang diramu para bar tender. Alhasil goyangan hot yang dipadu pengaruh alkohol terkadang membuat sebagian pengunjung DH menjadi nekad. Namun dari sekian banyak, ada juga pengunjung yang datang ke DH hanya sekedar untuk melototi paras dan tubuh mulus para penari. Perasaan malu dan dosa seakan tak pernah ada dalam benak mereka.
Oh yang pembaca, penulis juga sempat kesulitan menemukan lokasi DH. Ceritanya begini! Awalnya penulis hanya mendengar cerita teman-teman kalau lokasi DH berada di areal Flobamor Mall. Bermodalkan informasi ini, penulis lantas mendatangi Flobamor Mall. Usut punya usut, ternyata arena disko DH berada persis dibagian belakang Flobamor Mall.
Dari kejauhan, tampak di depan pintu masuk diskotik berdiri beberapa petugas keamanan berseragam biru-biru. Sesekali terlihat mereka menyodorkan secarik kertas kepada para pengunjung yang ingin masuk. Ternyata itu adalah karcis atau tiket masuk ke lantai disko. Hal yang sama berlaku juga bagi penulis. Kepada penulis sang pengaman meminta Rp. 20 ribu. Sebagai bonusnya penulis diberi sebotol minuman penyegar. Singkat kata penulis pun langgeng memasuki arena pertunjukan hot.
Saat pertama kali memasuki lantai danca, penulis langsung disambut lantunan musik disko. Dibagian barat, diatas panggung, tampak sekelompok perempuan cantik dan seksi sedang meliuk-liukan tubuh mereka sambil mengikuti irama musik. Dibagian timur kaum pria duduk secara berkelompok sembari menikmati minuman alkohol. Sesekali terlihat wanita-wanita cantik mondar-mandir menebar pesona agar menarik minat para lelaki hidung belang.
Dibagian lain tampak disc joky (dJ) memainkan piringan hitam. Lampu ruangan yang sengaja dibuat remang-remang nyaris membuat pengunjung tak saling kenal. Hiruk pikuk diskotik terasa memacu jantung. Belum lagi sejumlah perempuan lokal yang ikut nimbrung di arena danca sesekali terlihat melekatkan tubuh mereka dibelahan dada teman kencannya. Intrik-intrik vulgar dilakoni tanpa rasa malu. Adegan demi adegan yang membangkitkan birahi diperagakan tanpa peduli dengan orang sekitar.
Sejumlah pria mengaku, tiap malam, jumlah pengunjung DH berkisar antara 50 sampai 200 orang. 40 persen diantaranya adalah kaum wanita lokal. Namun tidak sedikit juga ABG-ABG Kota Kupang yang datang secara berpasangan.
Tepat pukul 23.30 Wita, dari balik pintu arena disko, tampak keluar sejumlah penari yang hanya mengenakan BH dan celana yang digunting menyerupai celana dalam. Lekukan tubuh mereka terlihat jelas. Indah memang. Tapi tidak sedeikit juga kaum pria yang tergoda ingin merekuh kenikmatan tubuh mulus para penari.
Sesaat kemudian para penari mulai menyuguhkan tarian erotis. Sesekali mereka rebahkan tubuh ke panggung, kedua kakinya dibuka lebar hingga bagian selangkangan terlihat memikat. Terkadang bokong sengaja di tonjolkan sembari melempar senyum seakan mengundang pengunjung untuk menerawang imajinasi seks. Lebih edan lagi, para pengunjung diperbolehkan menyentuh bagian-bagian terlarang asalkan sembari memasukan uang, berapa pun jumlahnya. “Seribu sa ju bisa bu…”, ujar salah seorang pengunjung. Untungan-untungan jika penari menerima “sumbangan” sebesar Rp. 5 ribu hingga Rp.50 ribu. Sementara kaum wanita lokal terlihat bersungut-sungut ketika melihat pria lokal menghamburkan uang hanya sekedar untuk menyentuh bagian vital si penari. Astaga! (Catatan : Ruddy Tokan)
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar