sergapntt.com [KUPANG] – Desakan Wiliam Bram dan Koordinator Penanggulangan TKW Bermasalah asal NTT di Bandara Juanda, Oktovianus Pekaata agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT segera membuka Kantor Perwakilan NTT di Bandara Juanda ternyata ditanggapi dingin oleh Kepala Dinas Nakertrans NTT, Drs. I.N Conterius. Bahkan Conterius membantah pengakuan Bram bahwa ada 16 TKW asal NTT yang mati dibunuh di Surabaya.
“Kita tidak akan buka Kantor Perwakilan NTT di Bandara Juanda. Karena dasar hukumnya tidak ada. Sebab, itu ada biayanya. Sebagai dinas teknis, kami sudah sampaikan permintaan warga NTT di Surabaya itu kepada Gubernur NTT, tapi karena dasar hukumnya, seperti Perda (Peraturan Daerah) belum ada, ya… tidak bisa,” ujar Conterius.
Menurut Conterius, desakan Bram dan Pekaata itu terkesan mengada-ada. Sebab, tindak kekerasan dan jumlah korban yang mati dibunuh oleh kelompok Yudi tidak seperti yang dipaparkan Bram dan Pekaata.
“Yang kami tahu, pada 2005 lalu itu, TKW asal NTT yang mati dibunuh hanya satu, dan itu sudah kami urus semua. 16 orang itu dari mana? Masa ada orang NTT yang mati begitu banyak koq kami tidak respon? Karena selama ini, setiap TKI asal NTT yang terlibat masalah, kami selalu terlibat menyelesaikan masalah yang dihadapi para TKI itu. Masa yang ini kami tidak tahu, yang benar saja,” tandasnya.
Khusus untuk mengatasi kepulangan TKW yang menjadi korban perampokan di Surabaya, kata Conterius, ada mekanismenya.
“Selama ini kita sudah bangun kerjasama dengan Pemerintah Daerah Jawa Timur, kalau ada orang kita yang kena masalah di Surabaya, maka itu akan diurus oleh pemerintah setempat. Dan, PJTKI penyalur para TKW itu harus bertanggung jawab, termasuk mengurus kepulangan TKI sampai ke kampung halamannya,” tegas mantan Kepala Biro Kepegawaian Setda NTT itu.
Conterius meminta, jika Bram dan Pekaata mengetahui ada TKW NTT lainnya yang mati dibunuh, sebaiknya segera melapor ke polisi setempat.
“Perimintaan mereka (Bram dan Pekaata-red) sudah kami jawab. Kita tidak bisa bentuk perwakilan disana. Itu harus ada dasar hukumnya. Tapi kami perlu sampaikan terima kasih kepada warga NTT yang ada di Surabaya yang selama ini sudah membantu mengatasi masalah-masalah yang dihadapi para TKW. Nah kalau mereka tahu bahwa ada TKW asal NTT lain yang mati dibunuh, sebaiknya segera lapor polisi,” pintanya.
Ironisnya, sejumlah sumber di Kota Kupang mengaku, sesungguhnya desakan dan data korban TKW yang disampaikan Bram dan Pekaata tersebut dibuat-buat. Sebab, data korban itu sengaja diciptakan agar mampu mengsukseskan desakan pembentukan Kantor Perwakilan NTT di Bandara Juanda yang pada gilirannya akan dinikmati Bram dan Pekaata.
“Ini kerja mafia pak. Jangan percaya. Data itu tidak benar. Itu versi mereka saja. Bahkan Kantor Perwakilan NTT belum dibentuk saja, mereka sudah berani buat surat pakai kop Kantor Perwakilan NTT. Bermodalkan surat itu mereka lalu meminta-minta uang kesana-kemari. Kerja kayak apa itu,” papar berbagai sumber.
Kegiatan Bram dan Pekaata yang masuk kategori Pungutan Liar (Pungli) itu dibenarkan juga oleh Conterius, Kasubdin Huban Saker Dinas Nakertrans NTT, I.G.L Ardika dan Kasubdin PPTK Dinas Nakertrans NTT, Abraham Djamin.
“Menurut laporan, ya…seperti itu. Tapi secara resmi melalui surat, kami sudah ucapkan terima kasih kepada mereka, karena selama ini mereka sudah peduli terhadap TKW asal NTT,” ucap Conterius yang diamini Ardika dan Djamin. (by. cis)
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar