Ny, J. Ati, Si Pendoa Yang Tega Menipu Para Pencari Kerja


sergapntt.com [KUPANG] – Terkadang orang menghalalkan segala cara demi menggapai kenikmatan duniawi. Tidak terkecuali dengan Ny. J. Ati. Hanya karena ingin memiliki uang dalam jumlah banyak, warga Jl. Nangka, Kota Kupang yang mengaku sehari-hari berprofesi sebagai pendoa itu  tega menipu puluhan pencari kerja asal Kabupaten Ngada dan Nagekeo yang berdomisili di Kupang. Para pencari kerja ini dijanjikan akan dipekerjakan di Bank NTT atau Pertamina Cabang Kupang. Hanya saja tiap orang diharuskan terlebih dahulu membayar uang pelicin sebesar Rp 8 juta. Hasilnya, dalam seminggu Ny. J. Ati berhasil meraup uang ratusan juta rupiah.
Aksi penipuan tersebut terungkap tatkala 29 Mei 2007 lalu, sekitar pukul 16.00 WITA, Tim WRC Sergap NTT memergoki Ny. J. Ati sedang bertransasksi dengan puluhan pencari kerja asal Ngada dan Nagekeo di kediaman Sipri Radho —salah seorang dosen Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang asal Nagekeo— di Kampung Nasipanaf, Kecamatan Penfui Timur, Kabupaten Kupang. 
Kepada Sergap NTT, Ny. J. Ati mengatakan, para jebolan SMA dan Sarjana yang telah membayar uang pelicin sebesar Rp 8 juta itu akan dipekerjakan di Bank NTT dan Pertamina Cabang Kupang. 
“Mereka akan saya kasi masuk di Bank NTT dan Pertamina Cabang Kupang. Saya jamin itu. Setiap orang bayar Rp 8 juta. Itu untuk uang pelicin. Saya tidak mencari untung dari ini semua. Saya hanya mau membantu mereka yang belum punya pekerjaan. Untuk yang ke Bank NTT, mereka akan dipanggil tanggl 16 Juni 2007. Sedangkan yang ke Pertamina mereka akan dipanggil awal Juli 2007 ini,” ujar Ny. J. Ati
Menurut dia, aksi penipuan ini bukan yang pertama. Kegiatan tersebut sudah sering ia lakukan atas persetujuan Direktur Utama (Dirut) Bank NTT dan Kepala Pertamina Cabang Kupang. 
“Kami buat ini karena ada persetujuan dari pak Direktur Bank NTT, pak Amos Corputy dan pak Kepala Pertamina Cabang Kupang. Uang yang saya kumpul ini akan saya setor ke Bank NTT dan Pertamina Cabang Kupang,” tegasnya.
Ny. J. Ati mengaku, perbuatan ini ia lakukan berawal dari kedekatan dirinya dengan Dirut Bank NTT dan Kepala Pertamina Cabang Kupang.
“Saya biasa layani doa di rumah mereka. Kami sudah biasa kerjasama,” ucap Ny. J Ati yang dibenarkan Sipri Radho dan istrinya.
Sementara itu, Sipri Radho meminta Sergap NTT untuk tidak mempublikasikan sepak terjang Ny. J. Ati. Semua itu, kata Radho, demi kebaikan para calon karyawan Bank NTT dan Pertamina Cabang Kupang asal Ngada dan Nagekeo yang telah direkrut Ny. J. Ati.
“Jangan dimuat dulu Chris. Kami malu. Kami tidak dapat apa-apa dari ini semua. Tolong adik-adik kita ini, supaya mereka bisa kerja di Bank NTT dan Pertamina. Selama ini kan susah orang kita bisa kerja disana, mungkin dengan cara ini kita punya anak-anak bisa masuk ke sana,” pintanya. 
Sayangnya, janji-janji yang pernah diucapkan Ny. J.Ati tidak pernah terbukti. Ketika dihubungi lagi via hand phonenya bernomor: 085239364753, Ny. J. Ati hanya meminta agar para calon karyaran bersabar, bersabar, bersabar dan bersabar terus.
“Sekarang saya lagi layani doa di rumah pak Direktur Bank NTT. Saya sedang usaha ni pak, bersabar saja. Sesuatu akan indah pada saatnya,” pinta NY. J. Ati.
Rupanya aksi kelompok J. Ati itu sudah banyak diketahui oleh tokoh masyarakat asal Ngada di Kupang. Hanya saja kejahatan terselubung ini dirahasiakan. Buktinya, Senin, 11 Juni 2007 lalu, sekitar pukul 10.00 Wita, ketika melintas di belakang Kantor DPRD NTT, tiba-tiba Sergap NTT distop oleh Sekertaris Badan Ketahanan Pangan NTT, Martinus Jawa. Tokoh asal Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada yang ketika itu baru saja keluar dari Kantor DPRD NTT meminta Sergap NTT untuk mendiami ulah kelompok J Ati.
“Baru-baru, katanya ade dong ada pi gerebek rumahnya pak Sipri Radho ko? Tidak usaha tulis ade. Jangan potong orang punya nasib,” timpal Jawa seraya berlalu pergi. 
Ironisnya, pengakuan Ny. J. Ati dan harapan Martinus Djawa itu dibantah oleh Kepala Pertamina Cabang Kupang, Viktor Lumbangaol.
“Saya nggak kenal tu, itu ibu. Lagian kita di Pertamina belum ada penerimaan karyawan. Kalau pun ada, itu wewenang pusat, bukan kita. Kita disini justru sedang berusaha mengurangi jumlah pegawai. Sekarang kita lagi macet pak. Lalu siapa yang terima karyawan? Itu nipu pak. Nggak benar tu. Tangkap aja tuh,” tegas Lumbangaol saat ditemui Sergap NTT di kantornya pada Kamis, 28 Juni 2007 lalu.
Kata Lumbangaol, kini Pertamina Kupang maupun Pertamina Cabang lainnya yang tersebar di NTT, tidak lagi menerima karyawan. Itu sudah menjadi keputusan Pertamina Pusat demi penghematan anggaran Pertamina.
“Kemarin-kemarin banyak yang tipu begitu pak. Bahkan ada yang pake nama kami untuk peras orang. Minta uang pake transfer lewat rekening lah, dan lain sebagainya. Itu kerja yang nggak benar. Polisi sebaiknya tangkap aja orang kayak gitu. Bikin susah orang aja,” tegasnya.
Permintaan agar polisi segera membekuk kelompok J. Ati disampaikan juga oleh Gubernur NTT, Piet A. Tallo, SH saat ditemui Sergap NTT di ruang kerjanya belum lama ini. Menurut Mantan Bupati Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dua periode itu, aksi penipuan tersebut harus segera dihentikan agar tidak menambah jumlah korban.
“Sekarang ini orang cenderung berlindung dibalik Agama. Legitimasi politik, legitimasi ekonomi berlindung dibawah legitimasi rohani. Orang kayak begitu sebaiknya ditangkap saja. Polisi harus tangkap pelakunya. Ini untuk menjaga agar korban tidak bertambah banyak,” ujar Gubernur Tallo.
Sementara itu, Direskrim Polda NTT, Kombes Pol. Ricky H.P Sitohang mengatakan aksi Ny. J. Ati ini murni penipuan.
“Ya, sudah jelas pasti bermuara pada penipuan. Jika ada bukti faktual maka semua yang terlibat dalam rangkaian masalah ini akan kena termasuk pak Amos Corputy. Cuma si korban berikan uang itu, kapasitas dia apa? Contohnya begini, ada yang mau test polisi dengan memberikan sejumlah uang sebagai pelicin ke oknum polisi. Ternyata hasilnya si penyuap tidak lulus, lalu dia tuntut, otomatis dua-duanya kena. Penyuap juga diproses, yang disuap juga diproses. Kan korban sudah baca ketentuan bahwa test polisi itu tidak dipungut apapun. Jika anda bisa memberikan bukti ke polisi, maka kita akan mencari korbannya walau dia tidak melapor. Sehingga kita bisa tindak lanjuti kasus ini. Ini yang dinamakan hukum sebab akibat,” tegas Ricky.
Sejumlah karyawan Bank NTT mengaku kenal dan pernah mendengar aksi “gerylia” kelompok J. Ati. Hanya saja mereka tak percaya, jika Direktur Bank NTT, Amos Corputy terlibat seperti yang diutarakan Ny. J. Ati.
“Kami pernah dengar itu. Tapi tidak mungkinlah Bank NTT kerja kayak gitu,” ujar salah seorang karyawan Bank NTT.
Anehnya Direktur Bank NTT, Amos Corputy terkesan menghindar saat akan ditemui pada Jumat, 6 Juli 2007 lalu. Padahal sebelumnya, Corputy melalui sekretarisnya telah berjanji akan menerima Sergap NTT pukul 14.00 Wita.
Sejumlah sumber di Bank NTT mengaku, Corputy cukup kenal dekat dengan Ny. J. Ati.
“Kayaknya pak Amos kenal itu ibu. Kami sudah dengar lama, tapi betul atau tidak, kami kurang tahu,” papar karyawan Bank NTT lainnya. (by. cis/rud)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.