sergapntt.com [ENDE] – Aspirasi pembentukan Propinsi Flores, yang meliputi seluruh kabupaten di Pulau Flores dan Kabupaten Lembata, ternyata masih diwarnai kecemasan. Setidaknya, ada yang khawatir kalau-kalau pembentukan Propinsi Flores hanya akan memuluskan gagasan TNI Angkatan Darat untuk mendirikan markas Komando Resort Militer (Korem) Flores sebagai pemekaran dari Korem 163 Kupang. Namun, ada juga yang menggagas agar Flores menjadi propinsi tanpa Korem, apalagi Kodam.
Ya, “Flores menjadi propinsi tanpa Korem dan Kodam,” ungkap pegiat LSM di Flores, Roni So, S.Sos ketika menjawab pertanyaan peserta diskusi bertajuk: Korem dan Urgensitasnya Bagi Kehidupan Masyarakat Flores, yang digelar Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ende St. Yohanes Don Bosco di aula PUSPAS Jln El Tari, Ende, Sabtu (16/6/2007).
Rony So menjadi narasumber dalam diskusi tersebut bersama Romo Dr. Domi Nong, Pr. Kegiatan ini merupakan upaya PMKRI Cabang Ende untuk menggali input dari masyarakat dan mengajak masyarakat untuk menanggapi isu ini secara bersama. Mereka juga menggelar sejumlah kegiatan lain terkait isu pembentukan Korem Flores, seperti aksi damai dan dialog.
Rm Domi yang menyajikan makalah yang berjudul: “Jangan Memeras, jangan merampas”, mengupas secara khusus soal urgensi Korem di Flores. Menurutnya, masyarakat Flores masih menganggap kehadiran Korem di Flores sebagai suatu keinginan bukan sebuah kebutuhan. Sebab kebutuhan masyarakat Flores yang sangat mendesak adalah pendidikan, infrastruktur, sandang, pangan dan papan, transportasi, teknologi informasi dan komunikasi.
Kendati begitu, pembicaraan mengenai gagasan pembentukan Korem di Flores tetap dianggap penting. Pasalnya, menurut Rm Domi, esensi dari militer itu haus akan kekerasan, karena mereka dididik dan dilatih dengan kekerasan yang kemudian membentuk karakter mereka. “Tentara sudah dibentuk dan dididik karakternya untuk menjadi haus akan kekerasan melalui proses pendidikan militer,” tandasnya.
Menjawab pertanyaan Arkadius Aku Suka dalam sesi dialog tentang kemungkinan terbentuknya Korem Flores jika Flores benar-benar menjadi propinsi sendiri, Romo Domi menuturkan bahwa terbentuknya Propinsi Flores memang ada hubungan dengan isu Korem. Sehingga, diharapkan agar masyarakat perlu mencermati apakah kehadiran Korem merupakan kebutuhan atau keinginan. Dia juga mengajak masyarakat Flores untuk mempertimbangkan secara matang dan tegas terhadap militer atau tentara. Akan tetapi, bukan bersikap anti tentara.
Sementara itu, seorang tokoh masyarakat Ende, Martinus Ngaga mengajak seluruh elemen masyarakat, TNI dan pemda agar tidak gegabah dalam mengambil sikap. Diharapkan agar semua pihak dapat duduk bersama untuk membicarakan masalah ini secara bersama guna mencarikan solusi penyelesaiannya. “Sehingga kesepakatan yang dicapai bersama mampu mengakomodir semua harapan dan aspirasi setiap elemen dan tidak ada satu elemen pun yang merasa dirugikan, agar ketika dalam perjalanan tidak ada yang merasa kecewa dan dendam,” ujarnya.
Sikap masyarakat yang masih pro-kontra dinilainya sebagai sesuatu yang lumrah di alam demokrasi. “Adanya pro kontra dalam masyarakat itu wajar-wajar saja, dan itu pertanda bahwa demokrasi di negeri ini berjalan dengan baik dan benar,” ujarnya. (by. bal)
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar