sergapntt.com – MALANG benar nasib Omega Dayang Sari alias Mega. Wahasiswi salah satu universitas terkemuka di kota Kupang ini mengaku pernah diperkosa oleh Wakil Bupati Kabupaten Rote Ndao, Bernad E. Pelle, S.Ip sebanyak tiga kali hingga vaginanya mengalami pendarahan. Ulah bejat sang Wakil Bupati itu terjadi di Hotel Kaisar Jakarta, Hotel Kristal Kupang dan Hotel Flobamora II Kupang. Benarkah? Berikut penuturan Mega;
Maret 2006 aku resmi menjadi anggota DPD Partai Demokrat NTT dan ditempatkan pada Biro Pemberdayaan Perempuan Partai Demokrat NTT. Tak lama berselang aku dimutasi sebagai staf sekretariat bersama seorang temanku bernama Merry Jagi. Aku diberi upah kerja sebesar Rp. 500 ribu per bulan. Setiap hari aku bekerja dari pukul 09.00 hingga 17.00 wita. Namun tidak jarang pula aku pulang malam hari karena harus mengikuti rapat-rapat yang digelar oleh partai. Jujur, aku baru mengenal Ketua Partai Demokrat NTT yakni pak Bernard Pelle ketika aku bertugas sebagai staf di sekretariat. Awalnya keseharian kami tidak ada yang khusus. Hubungan kami tidak lebih dari hubungan antara atasan dan bawahan. Baru pada bulan Mei 2006, prilaku aneh pak Bernard mulai mengganggu fokus kerjaku sebagai staf. Itu bermula ketika Partai Demokrat melakukan Musyawarah Cabang (Muscab) selama tiga hari di Kabupaten Belu. Waktu itu dia dan semuanya staf sekertariat ikut serta dalam kegiatan Muscab, hanya aku yang tinggal karena aku masih disibukan dengan ujian smester. koran Timor Express (Timex) memberitakan bahwa kegiatan partai lima tahunan itu diwarnai permainan uang. Sebagai staf yang baik aku melaporkan pemberitaan koran itu kepada pak Bernard melalui SMS (short message service). Ujungnya, sekembali dari Belu, pak Bernard memintaku via telepon untuk segera membawa koran Timor Express ke rumahnya. Aku tak keberatan. Dengan menggunakan ojek, sekitar pukul 10.00 wita aku tiba di rumahnya. Anehnya ketika sampai dan dipersilahkan duduk disalah satu kursi di ruang tamunya, pak Bernard justru dengan cekatan menutup pintu dan gorden jendela rumahnya. Aku tak tahu maksudnya apa. Belakangan aku ditanya,”Kau datang tadi, apa ada yang lihat?”. Lalu aku polos menjawab, “Iya pak, ada yang lihat”. Mendengar itu, beberapa saat kemudian dia kembali membukakan pintu dan gorden jendela rumahnya. Toh begitu, selama berada di rumahnya, pak Bernard sempat memegang pipiku dan memujiku bahwa aku cantik sekali. Jujur saat itu perasaanku tak menentu. Bangga bercampur takut menjadi satu. Aku bangga karena aku dipuji. Namun aku takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padaku. Karena itulah tak beberapa saat kemudian aku pamit pulang. Saat hendak pulang aku masih ditawari untuk diantar oleh pak Bernard. Tapi aku tolak. Aku pulang jalan kaki. Beberapa hari kemudian kami bersua kembali di sekretariat partai di jalan Eltari Kupang. Kali ini aku diminta untuk ke ruang kerjanya. Awalnya aku tak mau. Tapi karena takut dipecat lantaran dianggap tidak loyal, akhirnya aku turuti juga. Tapi lagi-lagi aku digoda. Aku dibilang cantik lah, dibilang manis lah dan lain sebagainya. Pada hari berikutnaya, yakni pada 3 Juni 2006, pak Bernard kembali menelponku. Saat itu aku sedang berada di kampus. Dia memintaku untuk segera datang ke Restauran Teluk Kupang karena ada sesuatu yang penting menyangkut klarifikasi pemberitaan Timor Express. Aku disuruh membawa serta sejumlah uang. Disana aku temui pak Bernard sedang berbincang dengan dua orang wartawan Timor Express. Setelah itu aku dan pak Bernard kembali ke sekretariat partai. Disana aku dipanggil ke dalam ruang kerjanya. Didahului dengan basa-basi, tiba-tiba pak Bernard mengutarakan cintanya kepadaku. Katanya dia jatuh cinta padaku. Mendengar itu aku hanya diam saja. Mungkin karena aku diam itulah pak Bernard seketika bangun dari duduknya dan langsung memeluk serta menciumku. Tentu aku tak terima diperlakukan seperti itu. Dadaku benar-benar terbakar karena amarah. Tapi aku tak mampu ungkapkan kemarahanku. Aku hanya bisa berusaha menghindar dengan cara keluar dari ruangan. Dalam hati aku tak ingin lagi bertemu dengan pak Bernard, tapi di sisi lain aku masih ingin bekerja di sekretariat Partai Demokrat NTT. Selepas itu, pada 10 Juni 2006 aku diajak pak Bernard ke Kabupaten Ngada untuk memantau kegiatan Muscab Partai Demokrat Kabupaten Ngada. Selama di Ngada aku tidur sekamar bersama temanku Ance. Waktu itu kami nginap di Hotel Roda Bintang di Bajawa, ibu kota Kabupaten Ngada. Disana aku nyaris diperkosa. Aku dicium, dipeluk, bahkan pakaianku dipreteli secara paksa hingga nyaris telanjang. Dia juga sempat menutup wajahku dengan bantal agar aku tak berteriak minta tolong. Tapi usahanya itu tak berhasil. Sekuat tenaga aku berusaha meronta. Hasilnya kehormatanku berhasil aku pertahankan. Pada 29 Juli 2006, lagi-lagi aku diajak ke Jakarta menggunakan penerbangan Sriwijaya Air. Di Jakarta pak Bernard merayuku. Dia berjanji jika aku meladeni napsu seksnya, maka dia akan menikahiku. Bahkan dia rela pindah agama jika aku berkenan menerimanya sebagai suami. Aku terjebak. Aku tiba-tiba terpengaruh dengan rayuan gombalnya. Toh begitu dalam hati aku belum mau melakukan hubungan seks. Tapi dasar sudah kebelet, selama dua hari dua malam di Hotel Kaisar Jakarta aku disetubuhi secara paksa sebanyak tiga kali. Akibatnya aku mengalami pendarahan, mungkin karena selaput keperawananku robek.
Dari Jakarta aku pulang sendiri dengan menggunakan pesawat Sriwijaya Air. Sedangkan pak Bernard via Surabaya baru ke Kupang. Setibanya di Kupang, pak Bernard meneleponku bahwa istrinya sudah tahu tentang apa yang terjadi di Jakarta. Sontak saja aku ketakutan. Untuk menenangkan diri, aku berangkat ke Surabaya. Tapi karena diminta dan dirayu oleh pak Bernard, maka pada 5 Agustus 2006 aku kembali ke Kupang. Aku tiba di Kupang sekitar jam 13.00 wita. Dari bandara aku langsung ke sekretariat. Tak lama berselang aku di sekretariat, tiba-tiba aku didatangi oleh istrinya pak Bernard. Aku dimarahi habis-habisan. Takut jika terjadi sesuatu aku langsung hubungi pak Bernard via hand phone. Aku bilang ke pak Bernard bahwa istrinya sedang berada di sekretariat dan sedang ngamuk tak karuan. Entah darimana datangnya tiba-tiba pak Bernard sampai juga ke sekretariat. Serta merta dia membentak dan menampar istrinya. Aku panik. Sementara perasaan takut terus mengnatuiku. Aku bisa agak lega ketika istri pak Bernard datang meminta maaf kepadaku. Mungkin disuruh oleh pak Bernard. Tidak lama kemudian kemudian istrinya berlalu pergi pulang ke rumahnya. Begitu istrinya pulang, pak Bernard membujukku agar aku jangan terpengaruh dengan kedatangan dan kemarahan istrinya. Waktu itu pak Bernard bilang begini, “Lu jangan percaya dia, beta pung rumah tangga sudah hancur lama. Dia sendiri ada selingkuh dengan sesama anggota DPRD”. Aku sih percaya-percaya saja. Tapi rasa takut terus menghantuiku. Oleh karena itu pada malam harinya aku berusaha menghubungi pak Bernard sekedar membagi kepanikan dan ketakutanku. Sayang saat dihubungi pak Bernard mematikan HP-nya.
Keesokan harinya pagi-pagi buta aku diminta oleh istrinya pak Bernard untuk datang ke rumahnya yang terletak di jalan Air Lobang II, Kelurahan Sikumana, Kota Kupang. Kata istrinya dia ingin masalah cinta antara saya dan pak Bernard diselesaikan secara baik-baik. Aku setuju. Singkat cerita dengan menggunakan ojek aku sampai juga di rumahnya. Saat itu istri pak Bernard meminta aku untuk tidak lagi mendekati suaminya. Tapi pak Bernard justru balik menuding istrinya berselingkuh. Sempat terjadi pertengkaran antara pak Bernard dan istrinya. Aku jadi tak enak. Karena kasihan terhadap istrinya, aku bilang ke pak Bernard bahwa biar aku yang mengalah saja. Walaupun sebetulnya aku sudah hancur. Tapi pak Bernard tak mau. Pak Bernard tetap pada pendiriannya ingin menikahiku. Bahkan saat itu juga dia berjanji akan menikahiku di tahun 2008 ketika masa jabatan sebagai Wakil Bupati Kabupaten Rote Ndao berakhir dan setelah dia menceraikan istrinya. Dia memintaku untuk bersabar hingga saatnya tiba. Untuk itu pak Bernad meminta aku untuk berpura-pura mengalah di depan istrinya. Konsekuensi dari berpura-pura itu kami membuat pernyataan bahwa aku bersedia menjauhi pak Bernard. Karena pernyataan itu istrinya sempat berterima kasih kepadaku. Setelah itu aku diantar pulang oleh adiknya pak Bernard Pelle bernama Edwin Pelle.
Antara bulan Agustus hingga Desember, pak Bernard kembali mengajakku untuk melakukan hubungan badan layaknya suami istri. Karena percaya akan janji-janjinya aku pun nurut saja. Seingatku kami pernah berhubungan seks di Hotel Kristal dan di Hotel Flobamora II. Ironisnya, belakangan ini pak Beranard mulai menjauh, bahkan mengingkari semua janji-janjinya. Oleh karena itu aku akhirnya jadi nekad lapor polisi. Kini aku sudah bulat tekad bahwa masalahku dan pak Bernard harus diselesaikan secara hukum. Aku minta keperawananku harus segera direhabilitasi oleh pak Bernard di rumah sakit Raden Saleh Jakarta. Selanjutnya dia juga harus menjamin biaya hidupku sebesar Rp. 5 juta per bulan selama aku belum menikah. (Diceritakan oleh Mega kepada Koordinator PIAR NTT, Ir. Sarah Leri Mboeik yang disarikan oleh Chris Parera)
3 Komentar
Comments RSS TrackBack Identifier URI


pejabat buk yg gilaaaaaaaaaaaa……..
lanjutinn aja kan enakkkkk……,dpet duit lgi.
hidup memang banyak suka dukanya. intinya masih saling mengenal, daripada tidak dikenal sama sekali lalu terjadi pemaksaan kehendak?