sergapntt.com – Luasnya wilayah maritim Kabupaten Sumba Timur ternyata memiliki potensi laut yang sangat menjanjikan. Namun, hingga kini pemanfaatannya belumlah optimal. Padahal, jika potensi ini dimanfaatkan secara maksimal, peningkatan taraf hidup rakyat bukanlah sebatas impian atau harus menunggu 1000 tahun lagi.
Kabupaten Sumba Timur merupakan satu dari lima kabupaten di NKRI yang diberi kepercayaan menjadi ‘Pilot project’ program Saka Sakti (Satu Kabupaten, Satu Komoditi Inti) yang ditetapkan Departemen Perindustrian RI. Komoditi yang menjadi unggulan program Saka Sakti ini adalah Rumput Laut. Selain Sumba Timur, kepercayaan Pemerintah Pusat itu juga diberikan kepada Kabupaten Palu (Provinsi Sulawesi Tengah), Konawe (Sulawesi Tenggara), Lampung Barat dan Katingan (Kalimantan Selatan) dengan produk unggulan yang berbeda.
Demikian dikatakan Kepala Dinas (Kadis) Perindustrian dan Perdagangan ( Disperindag) Kabupaten Sumba Timur, Ir. Sili Wolu, M.Si saat ditemui Mingguan Berita Rakyat di ruang kerjanya, pekan lalu.
Sili Wolu menjelaskan, pemilihan rumput laut sebagai produk unggulan Sumba Timur didahului dengan penelitian potensi yang dilakukan peneliti Universitas Indonesia. Awalnya, ada dua potensi yang ditawarkan untuk dikembangkan. Namun setelah diteliti lebih jauh, akhirnya ditetapkan rumput laut menjadi komoditi unggulan.
Guna mengsukseskan program ini, Departemen Perindustrian telah mengalokasikan dana sebesar Rp.1,3 miliar. Dana ini, akan dipakai untuk pengadaan mesin dan peralatan pengolahan rumput laut sebesar Rp 470 juta, laboratorium plus peralatannya Rp 360 juta serta kelengkapan penunjang lainnya.
“Pemerintah Sumba Timur juga telah mengalokasikan dana pendampingan dan pembangunan gedung dari APBD Tahun 2007 senilai Rp 360 juta. Dan, dengan ditetapkan Sumba Timur sebagai daerah pilot project program Saka Sakti, maka diharapkan diwaktu mendatang Sumba Timur tidak lagi mengekport rumput laut dalam bentuk setengah jadi. Harus diolah dulu dan kemudian nantinya dikirim dalam bentuk tepung dengan harga jual yang lebih tinggi dan memiliki daya saing, agar bisa bersaing dipasar global,” imbuhnya.
Sili Wolu menambahkan, untuk mendukung kelangsungan produksi pabrik, bahan baku tidak hanya didapat dari Pulau Sumba, tetapi juga bisa didatangkan dari Pulau Sabu, Flores dan daerah lain di NTT. Lokasi pabrik direncanakan akan ditempatkan di Kawasan Industri Kuta, bersebelahan dengan Pabrik Pakan Ternak dan Pabrik Jarak.
Tenun Ikat Sumba Masuk Muri
Tenun ikat Sumba Timur ternyata mampu memikat siapa saja yang melihatnya. wisatawan nusantara, para wisatawan mancanegara pun tak kuasa ingin memiliki ketika berhadapan dengan kain tenun khas Sumba Timur. Sayangnya, tak jarang keunikan tersebut dieksploitasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan pribadi.
Mengatasi ulah tak bertanggung jawab itu, Pemkab Sumba Timur melalui Disperindag telah menjalin kerja sama dengan Dewan Kesenian Nasional dan Daerah (Dekranasda) guna membidik Museum Rekor Indonesia (Muri) milik Jaya Suprana.
“Pemkab Sumba Timur akan membuat kain tenun dengan Motif ‘Pahikung’ sepanjang 25 meter dan Kain tenun ‘Hinggi’ sepanjang 50 meter. Nantinya dalam kain tenun ini termuat seluruh motif khas daerah Sumba Timur yang rencananya nanti akan dibuat hak ciptanya. Sementara baru Pahikung yang hak patennya sudah dibuat. Rencananya dalam tahun ini 10 motif khas Sumtim akan dibuat hak ciptanya,” tegas Sili Wolu seraya menambahkan, proses pengerjaan kain tenun tersebut nantinya akan memakai desainer dan tenaga tenun lokal dengan tetap memakai alat tenun tradisonal yang dimodifikasi ukurannya. (by. stw)
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar