Tradisi ‘Sunat Lalu Kawini Perempuan’ Di Timor Barat


Sifon adalah sebuah tradisi lelaki di daerah Timor Barat terutama TTS,  TTU, dan Belu — suatu tradisi atau mi­tos agar lelaki menjadi perkasa dengan meninggalkan luka bagi perempuan. Luka betulan, termasuk penyakit menular seksual. Di sungai sebuah ritual Sifon dimulai, di Nusa Tenggara Timur. Sifon adalah hu­bung­an badan paska sunat pada laki-laki.
Sunatnya, tak banyak berbeda dengan su­nat di daerah lain, hanya saja biasanya dilakukan secara tradisional di kampung-kampung. Tujuannya juga baik untuk kebersihan dan kesehatan kaum laki-laki. Segalanya menjadi berbeda dan men­ce­ngangkan, setelah sunat berlangsung.
Kepala BKKBN NTT Soter Parera: (Laki-laki yang sudah punya anak, dua tiga ora­ng, itu supaya kelaki-lakiannya makin ini, maka harus disifon, disunatin. Tapi tidak di­berikan semacam betadin dan obat anti in­feksi, itu malah dengan sifon itu seolah-olah kekuatannya, jadi hebat. Tapi bisa terjadi dia infeksi penyakit kelamin, tapi dari segi potensinya tambah hebat). Itulah sifon. Entah bagimana asal-usulnya, sifon menjadi bagian penting dari sunat. Bagi laki-laki yang melakukan sunat secara tradisional, bila sifon tak dilakukan dipercaya akan men­datangkan bala alias hal-hal yang buruk.
Suster Sisilia dari Forum peduli perem­puan di kabupaten belu: (Sial itu yang ada dalam dirinya, kalau itu belum dibuang, is­tri­nya sendiri yang kena. Termasuk peleceh­an baik itu kepada istrinya maupun pada pe­rempuan yang dijadikan sifon, dan pe­rem­puan harus dijadikan seperti itu baik un­tuk menyembuhkan sekaligus membuang panas).
Jadilah perempuan sebagai tempat membuang sial laki-laki yang disunat. Sifon masih banyak dijumpai, terutama pada suku Atoni Meto, Amarasi dan Malaka Pulau Ti­mor. Bila sang pemuda tidak melakukan hubungan seks paska sunat atau sifon, mereka takut akan menjadi impoten. Peneliti dari Unversitas Nusa Cendana Kupang, Pri­mus Lake mengatakan Sifon masih banyak dijumpai. Di kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan di Timor Tengah Utara (TTU) terdapat di seluruh kecamatan, dan di kabupaten Belu ada di 10 kecematan dari 17 kecamatan yang ada. Primus menyusuri desa-desa tempat para laki-laki banyak melakukan sifon selama lebih dari 5 tahun. Tradisi itu dimulai dengan pen­dinginan dan pengakuan dosa atau naketi di sungai yang mengalir. Pasien berendam dalam air di pagi hari.
Primus Lake: (Orang sunat itu kan dua tiga orang, satu kelompok kecil jarang orang sendiri, sendiri. Nah alasannya kedua dia akan memikul bawa, dosa-dosa. Nanti tukang sunat akan menanyakan, Selama ini sebelum anda sampai penyunatan ini, sudah pernah berhubungan seks dengan berapa perempuan, dan itu harus jujur, kalau tipu itu akan ada tanda. Kalau dengan tiga pe­rempuan akan ambil tiga kerikil kecil, atau biji jagung boleh).
Pelaku sifon harus menyiapkan ayam dan pernak-pernik untuk prosesi sunat yang akan dipimpin dukun sunat atau ahelet. Kira-kira dibutuhkan Rp 25 ribu hingga Rp 150 ribu rupiah. Ahelet kadang pilih-pilih calon pasiennya, jika dalam pengakuan dosa di sungai pasien belum pernah melakukan hubungan seks, dukun sunat menolaknya. Semakin banyak pengalaman seksnya, semakin bagus menurut si dukun sunat.
Sunat kemudian dilakukan dengan meng­gunakan bilah bambu, pisau atau diikat de­ngan tali-tali tertentu. Jika sudah selesai, pa­sien kembali dibawa ke sungai untuk proses penyembuhan. Diperlukan waktu sekitar 1 minggu sampai 10 hari untuk mengeringkan luka sehabis disunat. Nah ketika masih terluka itulah, ritual sifon dilakukan. Menurut Tokoh masyarakat timor Tengah selatan TTS Federick Fobia Sifon dipercaya sebagai cara menyembuhkan luka.
Selanjutnya si pasien tidak boleh lagi berhubungan seks dengan perempuan yang dijadikan obyeks sifon seumur hi­dupnya. Berdasarkan kepercayaan Atoni Meto, perempuan itu sudah menerima panas dari si pasien. Panas dalam konsep ini berarti penyakit kelamin. Jika si pria nekad dan berhubungan seks lagi dengan perempuan yang sama, maka penyakitnya akan kembali padanya. Perempuan yang kena sifon juga diyakini kulitnya bersisik dan berbau. Itulah sebabnya mengapa sifon tidak boleh dilakukan dengan istri sendiri. Juga, tidak akan ada lelaki yang mau memperistri pe­rempuan yang menjadi obyek sifon.
Primus Lake: (Yang penting adalah perempuan akan mengalami penderitaan, penyakit, apakah itu penyakit kelamin, atau penyakit yang menurut mereka matanya kuning, kulitnya kuning kemungkinan besar hepatitis. Makanya kalau orang tahu, wanita melayani laki-laki untuk sifon, maka orang kampung tidak mau kawin dengan pe­rempuan itu, karena dia tahu panas laki-laki di buang kesitu).
Pada saat Sifon berlangsung penyakit menular seksual berpotensi menyebar.
Primus Lake: (Kalau anda pergi ke TTS tidak semua, tapi ada beberapa desa tertentu, yang mengatakan bahwa salah tujuan sifon itu memecahkan kaulili, nama lain dari sifon tape kaulili artinya memecahkan akulili. Anda bisa bayangkan kalau bengka isinya apa, pasti darah dan nanah).
Sifon juga dipercaya membuat laki-laki awet muda. Hubungan seks pakca sunat ada yang berhenti pada taraf sifon, tapi ada pula melanjutkannya hingga tiga tahap.
Primus Lake: (Hubungan yang kedua namanya macem-macem, bisa sebau atau menaikan badan untuk memulihkan kebugaran tubuh, Itu dengan perempuan lain lagi? Dengan perempuan lain lagi. Ada yang waekane, ada yang disebut sebagai haukena, tujuan untuk membersihkan selaput kasar. Pada hubungan yang ketiga biasanya sudah sembuh, haeiki atau TTS menyebut tak nino artinya membuat mengkilat, membuat mulus kembali). Setelah tahap ini, akan dilakukan pen­dingin­an, baru kemudian boleh berhu­bungan lagi dengan istrinya. Tak jarang sang istri tahu bahkan memberi izin bagi suaminya melakukan ritual itu. Menurut para istri, jika ritual itu tidak dilakukan, istri akan mendapat bala.
Menurut Primus Lake, jika seorang pemuda atoni meto tidak melakukan ritual itu maka akan dikucilkan, disindir-sindir dalam upacara adat.
Primus Lake: (Misalnya mereka membuat pantun, menyanyikan pantun, biasanya menyakitkan sindiran-sindiran itu. Atau biasanya ada prilaku simbolik tertentu. Mi­salnya orang datang, tahu kalau laki-laki belum sunat di suruh duduk di atas kulit kambing. Kenapa kulit kambing, laki-laki yang belum sunat baunya mirip kambing yang belum di kebiri. Kalau di belu bagian selata di masyarakat Malaka, da satu kam­pung dekat koba lima dekat perbatasan Timor Timur, kalau laki-laki belum sunat tidak akan dizinkan ikut membunuh hewan untuk pesta).
Sifon sering dilakukan pada masa panen. Karena itu para orang tua kerap mewanti-wanti anak perempuannya agar berhati-hati dan tidak menjadi korban sifon. Tetapi menurut ketua BKKBN Soter Parera yang kerap menjadi korban sifon adalah pe­rem­puan yang sudah punya pengalaman seks, terkadang istri orang.
Soter Parera: (Tetapi kebiasaan mereka dia tidak boleh menggauli istrinya tetapi un­tuk mengobati lukanya, dia harus ber­hu­bungan dengan wanita yang sudah punya anak, wanita atau janda). Ahelet atau dukun sunat juga bisa me­nye­diakan perempuan bagi pasien sifon. Ter­­kadang satu perempuan untuk tiga pa­sien sekaligus. Terkadang, supaya hu­bungan seks itu lancar, perempuan korban sifon lebih dahulu dicoba pembantu sang dukun. Kini banyak juga proses sifon di­lakukan di tempat prostitusi. Menurut penelit Primus, se­kalipun di kalangan pekerja seks komersial, hanya sedikit saja perempuan yang mau menjadi obyek sifon. Mereka juga takut terkena bala, tetapi mereka sering ditipu.
Yosef: (Tergantung keinginan kamu, mau dibesarkan atau mau dipanjangkan atau maulebih kuat, pokoknya banyak lah yang ditawarkan, kita kan malu ke dokter, katanya sunat kampung lebih bagus, setelah disunat habis secara kampung, waktu proses me­ngeringnya yang masih ada lukanya sedikit itu harus tidur dengan perempuan, Kalau engga? Kalau engga yang kita ingini besar kencang panjang ngga jadi).
Pemuda bernama Yosef ini tinggal di Ku­pang, bukan tinggal di kampung. Me­nurut dia, sampai saat ini sifon masih banyak bahkan meluas ke kota kupang, terutama kupang barat. Ada lagi pengakuan Rodi, ia seorang pegawai negeri. Katanya waktu ia melakukan sifon beberapa waktu lalu, banyak sekali yang berminat. Rodi: (Diperpanjang, dan terbukti. Waktu pertama kita dari daerahnya ada sekitar 9 orang, pokoknya kelakar. Semua kelakar abis, maklum laki dengan laki. Sampai di sana ketemu lagi orang tua ada beberapa, antri).
Menurut peneliti dari Universitas Nusa Cendana Primus Lake, banyak pejabat tinggi di kalangan pemerintahan dan kalangan intelektual melakukan hal yang sama. Dukun sunat merasa bangga bila pasiennya adalah pejabat, maka tak heran bila nama-nama besar itu dipamerkan kepada Primus yang telah meneliti adat ini lebih dari 5 tahun.
Primus Lake: (Sudah menjabat tapi masih melakukan sunat dengan sifon. Ada yang sunat di dokter tapi melakukan sifon, sunatnya di dokter. Saya menemukan ada petugas kesehatan yang disunat oleh temannya, temannya juga petugas kese­hatan, juga melakukan sifon. Anda bisa bayangkan, kekuatan mitos ini luar biasa).
Tetapi jangan coba tanyakan ini kepada para pejabatnya. Juga tentang apa upa­yanya mengurangi tradisi sifon ini. Ja­wabanya bakal kompak, itu masa lalu. Jikalau ada di kampung-kampung satu atau dua kasus saja. Ketua BKKBN kabupaten Timor Tengah Selatan, Federick Ndolu, dari daerah yang dikenal masih melakukan tradisi ini mengatakan tradisi sudah hilang sejak 10 tahun yang lalu.
Federick Ndolu: (Benar itu kental sekali, tetapi beberapa tahun terakhir bupati turun ke desa bawa itu adat, itu adat turun me­nurun mulai diminta supaya dikurangi kalau bisa di hapus. Jadi bupati sekarang saja, 3 bupati yang lalu. Sepuluh tahun lalu, sudah minta kalau bisa dihapuslah, ndak boleh ada lagi. Kondisi riil masih ada sediki-sedikit).
Gereja katolik dan BKKBN menjadi lembaga yang paling strategis untuk menekan praktik sifon. Namun, Romo maxi Unbria dari gereja katolik keuskupan Ku­pang menegaskan tradisi ini melanggar norma agam diyakini tinggal kenangan.
Romo Maxi Unbria: (Kalau saya melihat sebenarnya praktik itu secara diam-diam tersembunyi ada. Tapi saya melihat sifon itu bisa terjadi karena ada kompromi antara mereka yang melakukan sunat dan mereka yang siap. Saya melihat ini, ini suatu budaya dulu, tapi perlahan mulai berkurang karena gereja dan pemerintah memperkenalkan cara hidup yang benar).
Kenyataan berbicara lain. Perbincangan dari mulut ke mulut, di tempat para laki-laki bisa nongkrong malah memperluas tradisi sifon. Kini Sifon bukan saja akrab di suku atoni meto atau suku dawan di TTS maupun TTU atau orang malaka di Belu Selatan. Tengoklah pengakuan Yohanes pemuda dari Flores Timur.
Yohanes: (Bahwa buang sial itu, pertama yang kedua biar perkasa. Setelah itu dilakukan apa memang seperti kondisinya” Hehehehee berat sekali pertanyaanya. Saya tertarik karena punya banyak teman, karena informasi dari teman-teman. Waktu saya masih kuliah, Teman-teman aku banyak dari TTS, informasinya berkembang, aku nangkap, aku tertarik. Merasa menyesal? Tidak ada perasaan itu yang muncul). Menurut Primus Lake, jika seorang pemuda atoni meto tidak melakukan ritual itu maka akan dikucilkan, disindir-sindir dalam upacara adat.
Primus Lake: (Misalnya mereka membuat pantun, menyanyikan pantun, biasanya menyakitkan sindiran-sindiran itu. Atau biasanya ada prilaku simbolik tertentu. Mi­sal­nya orang datang, tahu kalau laki-laki be­lum sunat di suruh duduk di atas kulit kam­bing. Kenapa kulit kambing, laki-laki yang belum sunat baunya mirip kambing yang belum di kebiri. Kalau di belu bagian selata di masyarakat Malaka, da satu kam­pung de­kat koba lima dekat perbatasan Timor Timur, kalau laki-laki belum sunat tidak akan di­izin­kan ikut membunuh hewan untuk pesta).
Apa mau dikata, menurut pegawai kantor pemberdayaan perempuan, TTS Yohanes Kleing adat memang melegalkan prilaku ini. Yohanes Kleing: (Ini soal tokoh adat tokoh masyarakt tidak berurusan itu, mereka melihat ini gejala sosial di masayarakat Tokoh adat tidak terketuk untuk mengurangi hal itu ? saya ingin bilang ini gejal sosial, pola pikir mendapat legitimasi dari tokoh adat, tidak secara formal tapi semacam itu terpola dalam pikiran tokoh adat. Tidak ada sikap menentang sifon).
Dari sisi peempuan yang menjadi obyek, sifon jelas menempatkan perempuan sebagai tempat pembuangan bala. Sialnya perempuan yang menjadi obyek sifon ditipu kerap ditipu. Yohanes Kleing: (Bukan santetlah, tapi semacam diperdaya perempuan, terkadang perempuan tidak tahu juga saat melakukan itu, itu kesempatan laki-laki untuk melakukan sifon,Hah semacam hipnotis begitu. Ada yang dibayar ada yang tidak dibayar. Keba­nyakan perempuan tidak tahu saat itu ia se­dang melayani laki-laki yang melakukan sifon).
Di kawasan prostitusi sekalipun praktik ini sesungguhnya di hindari oleh para pekerja seks. Perempuan mana yang ingin dijadikan tempat pembuangan kotoran dan kesialan ? banyak pekerja seks komesial baru menyadari mereka menjadi obyek sifon ketika laki-laki pelaku tak mau menjawab sapaan atau pertanyaanya sewaktu dan seusai hubungan berlangsung. Itu salah satu syarat sifon. Makanya PSK pun akan malu dan takut mengakui ia telah melayani laki-laki sifon.
Bukan hanya secara mental dan fisik perempuan menjadi korban dari prilaku sifon. Suster sisilia dari Forum peduli perempuan di belu mengungkapkan banyak perempuan mengadu ke lembaganya. Sebagian juga di­ru­gikan secara ekonomi dan memecah belah hubungan dengan tetangga maupun keluarga
Suster Sisilia: (Mereka datang biasanya mengadu, bahwa suaminya berbuat begini, setelah itu bikin rusak orang punya anak ini. Sekarang saya harus bayar ganti rugi, kalau anak dibikin rusak dia harus ganti rugi bayar 5 juta, itu termasuk ringan sebenarnya. Tapi buat orang miskin itu berat sekali, karena beri makan anak tidak bisa, sekolah kan anak, kelas enam harus berhenti, tapi dia bisa beli itu).
Sebagai rangkaian dari sunat tradisional Atoni Meto sudah begitu mengakar pada masyarakatnya. Karenanya tak perlu berdebat apakah adat masih ada atau tidak, tapi segera beranjak memberi advokasi. Kenyatannya Primus masih harus menyusuri desa-desa untuk berkampanye tentang tidak perlunya sifon dilakukan. Bukan tanpa hasil, bersama para dokter primus sedikit demi sedikit bisa mendidik para dukun sunat.
Di kalangan masyarakat kampung di TTS dan TTU Primus juga mencatat sekitar 400 pemuda yang melakukan sunat sehat tanpa sifon. Termasuk memperkenalkan sunat pada masa kanak-kanak seperti yang biasa dilakukan kalangan muslim. Ia datang ke perkampungan dengan mitos baru, tanpa sifon laki-laki tak akan impoten.
Primus Lake: (Itu yang paling sulit tidak melakukan hubungan seks setelah sunat. Setelah lima tahun kemudian baru sebagian warga, bersedia menjalani sunat secara sehat, Setelah lima tahun. Jadi itu 33 desa, baru 407 orang, 41 persennya anak dibawah 17 tahun. Itu sesuatu yang baru untuk orang atoni, karena orang atoni tidak mengenal tradisi sunat anak).
Alasannya bila sunat dilakukan waktu masih belia, akan membuat laki-laki impoten dan berbadan kuntet alias kecil. Primus pun menyadari mitos tentang keperkasaan hanya lewat sifon sulit sekali hilang. Jadi menurutnya, tak perlu menyudutkan mereka yang lekat dengan tradisi ini. Tudingan bersalah atau pendosa, tak mempan menyadarkan sebagian laki-laki suku atoni meto, dawan atau malaka untuk meninggalkan sifon. Tetapi mereka bisa didekati menciptakan mitos lain, tanpa caci maki.
Lelaki memang pusing alang kepalang bila mengetahui telah kehilangan fungsi ereksinya. Kekuatiran yang turut membikin jamuran tempat praktik dan pengobatan dengan janji mengembalikan “kemampuan” atau bahkan “lebih greng”. Sifon itu cuma satu fenomena, meski dibilang terlalu kapiran. (Oleh: ARIN SWANDARI/Redaktur Newsroom dan Radio 68H Jakarta)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.