Hidupkan Ekonomi Rakyat Melalui Koperasi


SERGAP NTT -> Puskopdit Bekatigade Ende-Ngada-Nagekeo merupakan organisasi koperasi kredit (kopdit) tingkat sekunder yang memayungi 59 koperasi kredit primer di wilayah Kabupaten Ngada, Nagekeo dan Ende. Sejak awal kiprahnya, lembaga ini mempunyai fokus perhatian terhadap kehidupan ekomoni rakyat kecil. Benarkah?
Puskopdit Bekatigade telah bertekad akan terus berjuang membangun ekonomi rakyat Ende, Ngada dan Nagekeo. Uang yang dikumpulkan dari masyarakat akan dikembalikan kepada masyarakat. Uang tidak akan di bawa keluar dari kabupaten Ende, Ngada dan Nagekeo.
“Masyarakat yang diasumsikan miskin, ternyata susah memiliki potensi untuk membangun dirinya sendiri dalam kebersamaan. Hal ini hanya mungkin jika dilaksanakan secara terus menerus dan terprogram melalui pendidikan, pendidikan dan pendidikan,” ujar Ketua Puskopdit Bekatigade Ende, Ngada dan Nagekeo, Yoseph Dopo, S.Pd saat memberi kata sambutan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke XI Puskopdit Bekatigade Ende, Ngada di Kemah Tabor Mataloko, Ngada, Sabtu (13/02/10).
Oleh karena itu, lanjut Yoseph Dopo, pendidikan menjadi fokus utama Puskopdit Bekatigade. Disamping itu, Puskopdit juga senantiasa memfasilitasi penataan kelembagaan kopdit, baik menyangkut keorganisasian, keanggotaan maupun manajemen.
Tahapan pembenahan keanggotaan puskopdit mulai dilakukan tahun 2001 (kesepakatan RAT di Mauponggo) dan diharapkan final pada 30 Juli 2010. Bagi Kopdit yang belum mencapai anggota 250 orang diharapkan bergabung dengan kopdit lain demi peningkatan pelayanan kepada anggota. Kita berharap agar mulai Juli 2010 dan seterusnya, kita lebih memfokuskan perhatian pada pengembangan koperasi kredit.
Arah pandang baru, pengembangan koperasi kredit di wilayah ini terbangun ketika mulai adanya kerjasama dengan Canadian Coperative Associtation (CCA) melalui Inkopdit pada tahun 2001 dengan program kopdit model 2000. Berbagai pencerahan dilakukan melalui modul-modul pelatihan terbesit kesadaran untuk membangun habitus baru dalam pengembangan koperasi kredit. Salah satu perubahan yang dilakukan adalah tidak adanya dualisme dalam pengelolaan kopdit. Pengurus lebih berperan sebagai pembuat kebijakan dan manajer berfungsi pada tataran menjalankan kegiatan operasional. Namun perubahan ini tidaklah semudah mengedipkan mata. Adanya sikap resistensi terhadap perubahan. Namun berkat pencerahan melalui pelatihan dan studi banding pada beberapa koperasi kredit baik diwilayah Flores maupun di luar Flores mulai terbangun kesadaran dan motivasi baru untuk melakukan gebrakan perubahan guna menata organisasi dan usaha koperasi kredit.
Pertumbuhan anggota dan usaha keuangan merupakan dampak penataan sistem kelembagaan kopdit. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau koperasi kredit yang senantiasa membuka diri terhadap pembenahan dan perubahan akan berimplikasi pada pertumbuhan dan perkembangan kopdit.
Data per Desember 2009 menunjukkan jumlah anggota individual koperasi kredit di Ngada, Nagekeo dan Ende sebanyak 60.038 orang. Penambahan anggota baru tahun 2009 sebanyak 14.306 orang dan anggota kopdit yang meninggal selama tahun 2009 sebanyak 359 orang sesuai data Solidaritas Kedukaan Puskopdit. Selama tahun buku 2009 ada tiga kopdit yang menambah anggota baru di atas 1.000 orang yakni (1) kopdit Sangosay (Ngada), tambah anggota baru 2.813 orang, (2) Kopdit Boawae (Nagekeo) tambah anggota baru 2.208 orang, dan (3) Kopdit Bahtera (Ende) tambah anggota baru 1.280 orang. Ekspansi atau perluasan keanggotaan yang diraih oleh ketiga kopdit ini dapat memberikan semangat dan motivasi bagi koperasi lainnya untuk terus berjuang meningkatkan jumlah dan mutu anggota. Patut disadari bahwa koperasi kredit adalah organisasi berbasis anggota, kumpulan orang-orang dan bukannya organisasi berbasiskan modal sehingga perluasan keanggotaannya menjadi fokus utama segenap fungsionaris dan insan kopdit. Hendaknya perluasan anggota kopdit dimulai dari keluarga : Bapak, Mama, dan Anak. Keluarga menjadi inti pengembangan koperasi kredit. Dari aspek keuangan, gerakan koperasi kredit di tiga kabupaten ini per Desember 2009 tercatat aset sebesar 283,6 miliar, simpanan saham 155,9 miliar, simpanan non saham 74,5 miliar, pinjaman beredar 237 miliar.
Pertumbuhan anggota dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 31,28% dan pertumbuhan aspek keuangan: kekayaan, simpanan dan pinjaman di atas 40%. Angka-angka ini memang kecil jika dibandingkan dengan lembaga keuangan formal lainnya. Namun di balik angka-angka ini mencerminkan kemandirian, keswadayaan masyarakat setempat untuk membangun dirinya dalam semangat kebersamaan dan solidaritas.
Menyikapi era perkembangan era ekonomi pasar sebagai bagian dari globalisasi ekonomi sekarang ini maka koperasi kredit sebagai badan usaha perlu mengatur langkah-langkah strategis dan aktis sesuai tuntutan sebuah badan usaha tanpa harus menunggalkan prinsip-prinsip koperasi yang dianut secara universal. Dalam era ekonomi baru sangat ditekankan kesiapan sumber daya manusia sebagi faktor kunci sukses penataan kelembagaan dan usaha koperasi kredit selaras dengan perkembangan kebutuhan anggota sesuai tiga strategi Puskopdit Bekatigade Ende, Ngada, Nagekeo 2007 – 2012 yakni gerakan pertumbuhan anggota kopdit melalui gerakan kopdit 1000 anggota setiap tahun, unggul dalam persaingan (Profesionalisme dalam Manajemen), dan keberlanjutan kopdit dengan melembagakan sistem untuk bekerja. Strategi ini bisa terlaksana kalau pengurus berpikir visioner dan manajemen bekerja secara profesianal, serta anggota sadar berkopdit.
“Inti tujuan kami adalah menghidupkan ekonomi rakyat melalui koperasi,” tegas Yoseph Dopo.

Ngada
Dalam konteks pengembangan kapasitas dan kapabilitas fungsionaris koperasi kredit, Pemda Ngada telah memberi dukungan baik dukungan moril maupun dukungan financial.
“Masih terekam baik dalam catatan Puskopdit bahwa pada 14 Januari 2006, fungsionaris Puskopdit telah melakukan audiens dengan pak Bupati Ngada, Drs. Pit Jos Nuwa Wea. Dalam temu dialog itu ternyata adanya kesamaan visi antara Puskopdit dengan Pemda Ngada yakni pemberdayaan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan atau “terwujudnya kemajuan dan kesejahteraan, berbasis keunggulan dan kemandirian”. Atas dasar kesamaan visi ini maka tercetus komitmen pak Bupati Ngada untuk mendukung kegiatan pendidikan anggota serta fungsionaris kopdit dan menyediakan lokasi tanah untuk pembangunan pusdiklat di Mbay. Meskipin lokasi tanah pembangunan pusdiklat belum terealisir tetapi pada tahun 2006 langsung direalisasikan dukungan dana untuk pendidikan anggota dan fungsionaris koperasi kredit,” papar Yoseph Dopo.
Puskopdit Bekadigade Ende, Ngada dan Nagekeo telah menerima bantuan dana pendidikan kopersi kredit dari Pemkab Ngada sebesar Rp.225 juta dengan rincian : 2006 sebesar Rp.100 juta yang penggunaannya untuk kegiatan pelatihan motivator kopdit, pembelajaran kopdit di Philipina, Lokakarya dan Asian Forum di Colombo-Srilanka. Tahun 2007 sebesar Rp.75 juta digunakan untuk pelatihan teknisi komputer, lokakarya standarisasi pelayanan kopdit, Pelatihan Pelatih Gab Analisys Access Branding. Tahun 2009 sebesar Rp. 50 juta digunakan untuk pelatihan kompetensi Pengurus dan Manajer berstandar Asia, Pelatihan Pelatih Pendidikan Lanjutan bagi Anggota Kopdit. Kerja sama Puskopdit Bekatigade Ende-Ngada-Nagekeo dengan Pemkab Ngada juga telah menghasilkan penerbitan buku Access branding sebagai alat penilaian koperasi kredit sesuai strandar Asia. Hasil lainnya yakni, adanya motivator di setiap kopdit sebagai ujung tombak perluasan keanggotaan kopdit, kemampuan dan ketrampilan untuk melakukan internal audit, adanya perubahan tata pelayanan koperasi kredit, terbangun kebiasaan untuk melakukan perawatan dasar komputer, adanya perubahan cara berpikir dan cara berindak di tingkat pengurus dan manajer kopdit, pengembangan pendidikan lanjutan bagi anggota kopdit.
Perhatian Pemkab Ngada terhadap dunia koperasi ini ternyata mendapat perhatian Presiden RI, Susilo Bambang Yudoyono (SBY). Sebagai bentuk penghormatan, Presiden SBY memberikan penghargaan Setya Lencana Pembangunan di Bidang Koperasi kepada Bupati Ngada, Drs. Pit Jos Nuwa Wea. Selain penghargaan dari Presiden, Oktober 2009 lalu, Menteri Koperasi RI telah mencanangkan Ngada sebagai penggerak koperasi di NTT.
Sementara itu Kepala Dinas Koperasi Kabupaten Ngada, Anastasia Mo’i mengatakan, agenda program Pemkab Ngada 2005-2010 adalah perkuatan modal bagi koperasi sebagai lembaga keuangan mikro.
“Prinsipnya, pemerintah akan terus memberikan dukungan modal usaha bagi koperasi dan Usaha Kecil Mengengah,” ucapnya.

Lembaga Keuangan Lokal Yang Kuat
Terwujudnya koperasi sebagai lembaga keuangan lokal yang kuat, profesional, kompetitif serta berbasis anggota yang berkualitas menjadi visi utama Kopdit Sinar Harapan. Dibawa arsitek Yoseph Madha, Kopdit Sinar Harapan terus bergerak maju dengan misi merumuskan berbagai tata aturan guna menjadi titik pijak kebijakan pengurus, meningkatkan bentuk pelayanan serta memasarkan produk-produk simpanan dan pinjaman yang bersaing dan mengikuti pendidikan dan pelatihan memperoleh inovasi-inovasi baru.
Pengelolaan Kopdit Sinar Harapan mengacu pada empat perspektif Access Branding, yakni perspektif finansial, perspektif Nasabah, perspektif Bisnis Internal dan Pembelajaran dan Perkembangan. Aplikasi dari keempat perspektif tersebut dilaksanakan secara bertahap sesuai kondisi dan kemampuan sumber daya manusia dan sumber daya modal.
“Semangat kita adalah menjadikan Kopdit Sinar Harapan sebagai lembaga keuangan lokal yang kuat. Dengan begitu kami berharap mampu mengimbangi dunia perdagangan bebas,” ujar Yoseph Madha.
Menurut Madha, perjalanan Kopdit Sinar Harapan penuh lika-liku. Kopdit yang berkantor pusat di Malapedho, Kecamatan Aimere itu didirikan pada 10 Januari 1982 oleh 25 orang warga Desa Ineria, Aimere, Ngada dengan modal awal Rp. 234 ribu. Di awal pembentukan, perkembangannya cukup meyakinkan. Karena itu keberadaan Kopdit Sinar Harapan saat itu menjadi kebanggaan masyarakat Desa Inerie. Sebab, sebagai koperasi baru, Kopdit Sinar Harapan mampu menjadi lembaga keuangan lokal yang sanggup menyaingi lembaga keuangan formal. Namun di 1984 – 1986, Kopdit Sinar harapan dirundung salah urus. Pada fase ini boleh dibilang Sinar Harapan bak “Mati Suri”. Karena itu, tahun 1987, atas prakarsa mantan Kepala Desa Inerie, alm. Rofinus raga mencoba mencari akar masalah dan membenahinya dengan motto tak ingin mati suri kedua. Tahun 1988, Kopdit Sinar Harapan mengadakan RAT yang pertama dan memilih Rofinus Raga sebagai ketua. Dalam kurun waktu 10 tahun (1988-1998) dibawa kendali kepemimpinan Rofinus Raga, Kopdit Sinar Harapan yang pada awal keanggotaannya hanya terbatas pada masyarakat Desa Inerie, mulai diincar dan diminati mayoritas masyarakat Kecamatan Aimere dan sekitarnya. Karena itu, tahun 1999, Kopdit Sinar Harapan diusulkan oleh Puskopdit Bekatigade menjadi salah satu kopdit model setelah berkompetisi memenuhi delapan kriteria “harus sudah” dan sembilan kriteria “Harus Mau”. Ujungnya, tahun 2000, Kopdit Sinar Harapan menjadi salah satu model 2000.
“Tahun 2004, kami mendapat piagam penghargaan dari Kementrian Koperasi dan UKM RI sebagai salah satu Koperasi Berprestasi tingkat nasional, tingkat propinsi NTT dan juara satu tingkat Kabupaten Ngada. Tahun 2008, Kementrian Koperasi dan UKM RI kembali memberi kami predikat sebagai salah satu “Koperasi Berprestasi” jenis koperasi simpan pinjam tingkat nasional. Karena itu Kopdit Sinar Harapan sebagai salah satu koperasi penerima Award dari Kementrian Koperasi dan UKM RI pada hari Koperasi ke 61 tingkat nasional tanggal 12 Juli 2008 di Gelora Bung Karno Jakarta,” paparnya.

Koperasi Bangkit
Ketua Kopdit Handayani Bajawa, Mamerius Rudju mengaku dunia koperasi di Kabupaten Ngada dalam lima tahun terakhir mulai bangkit dari keterpurukan. Selain karena tekad para pelaku koperasi, kemajuan koperasi di bumi “Ja’i” itu berkat dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada yang diarsiteki Drs. Pit Jos Nuwa Wea.
“Peran pemerintah yang kami rasakan sangat luar biasa. Pemerintahan Pit Nuwa-Niko Dopo sangat antusias membantu kemajuan koperasi di Ngada. Fakta mengatakan sebelum Pit Nuwa jadi Bupati Ngada, koperasi di Ngada seperti hidup enggan mati tak mau. Karena apa? Tidak ada perhatian dari pemerintah. Terutama soal pendidikan bagi para pelaku koperasi. Kami sangat bersyukur, di periode lima tahun terakhir ini, kami mendapat perhatian serius dari pemerintah. Semoga ini terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya,” ujar Rudju
Menurut Rudju, koperasi merupakan lembaga keuangan mikro yang dapat secara langsung membantu kaum marginal di desa-desa. Untuk itu perlu didukung oleh pemerintah. “Koperasi adalah salah satu jalan keluar dari lubang kemiskinan. Untuk itu semangat berkoperasi mesti digalakan bersama,” tegasnya. (chris barera)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.