Aib ini terungkap setelah warga Desa Kalali, Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang menggerebek Ataupah dan Hani di Puskesmas Pembantu (Pustu) Kalali. Menurut warga, Jumat (06/11/10) lalu, Ataupah dan Hani masuk ke Pustu dengan cara mendobrak pintu belakang. Mereka tidur di kamar milik bidan Elisabeth Abuk ( bidan tetap di Pustu Kalali). Di kamar itu, Ataupah dan Hani melepas rindu bak suami istri. Sementara yang empunya kamar tidak berada di tempat.
“Awalnya beta dengan beta pung teman mau pi kerja, sampai di sebelah pustu, teman saya itu bilang, tadi beta lihat ibu bidan ada menangis. Trus beta tanya, kenapa? Lalu dia bilang, ada orang bongkar ibu bidan punya rumah,” ujar Desnan Pahnael, warga Desa Kalali saat ditemui wartawan di rumah Kepala Dusun II Desa Kalali, Yulius Tnunai, Senin (9/11/10).
Mendengar itu Pahnael langsung mengajak temannya untuk mengecek secara langsung ke Pustu. Disana Pahnael menanyakan keberadaan Elis —begitulah bidan Elisabeth Abuk biasa dipanggil—. Kata sejumlah pasien yang lagi antri, tadi Elis ada, hanya saja sudah disuruh pergi oleh seorang laki-laki yang belakangan diketahui bernama Messerasi BV Ataupah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang.
“Lalu saya bilang, itu pasti dong ada di dalam. Lebih baik kita pake cara kekerasan sa. Lalu beta sengaja omong ke beta pung teman, lu cepat ambil beta pung kelewang. Kalau dia sonde keluar, ini hari beta potong dia kasih mati. Dia bikin apa di dalam, ko su jam begini pustu sonde buka-buka. Sonde lama dong dua keluar lewat pintu belakang. Itu ibu (Hani-Red) yang keluar duluan, ju dia tanya beta. Ade mau perlu apa? Lalu beta bilang, ibu… kenapa ini pustu belum buka-buka juga. Ini sudah jam sembilan. Di luar sana pasien lagi antri. Ju itu ibu bilang, sonde Adek, ibu bidan ada pi sebelah kali. Ada pi tolong orang celaka motor. Trus beta tanya, di sebelah mana? Dia hanya bilang di sebelah kali,” papar Pahnael.
Penjelasan Hani benar-benar tak masuk akal. Sebab batas Desa Kalali dan Desa Poto adalah sungai. Kalau Elis ke sebelah kali, itu artinya Elis pergi ke desa tetangga. Disanakan ada Pustu juga. Untuk apa Elis kesana. Pasti ini alasan yang dibuat-buat. Tak lama berselang, lanjut Pahnael, “Lalu itu pak (Ataupah, red) keluar. Dia mengamuk. Dia masparak, kenapa…? Lalu, beta bilang, sonde bos, kenapa ini pustu belum buka juga sampai dengan jam begini. Pertanyaan saya itu tidak ditanggapi. Mereka justru berpaling dan omong pake bahasa Inggris. Beta langsung bilang ke itu ibu, tunggu e be pi panggil Kepala Desa. Lalu beta star motor pi kestau kepala desa. Kembali pi pustu, beta sonde tau lai bapak desa omong apa di mereka, tapi karena emosi, beta sempat ambil kayu kudung mau pi pukul itu laki-laki. Untung orang di kiri-kanan saya tahan. Karena lihat saya sudah emosi, itu laki-laki bilang, sudah adik, saya su salah,“ ucap Pahnael.
Ditempat terpisah, Kepala Desa Poto, S.P Koffi mengaku, Jumat (6/11/10) malam, sekitar pukul 23.00 Wita, dengan mengendarai mobil dinas DH 8000 NW, Ataupah datang ke Kantor Desa Poto. Disana Ataupah menanyakan keberadaan Elis. Entah kenapa, ketika melihat Ataupah datang, Elis justru melarikan diri dan bersembunyi di rumah Sekertaris Kecamatan (Sekcam) Fatuleu Barat.
“Bidan dong samua su tau dia (Ataupah-red) pung model. Jadi pas datang tanya di pak Benny, pak Benny bilang, ibu Elis tidak ada. Dia ju pernah pi tidor di pustu Oelbubuk. Bidan dong su tau dia pung bagatal, makanya dong lari sembunyi semua,” papar Koffi.
Kepala Desa Kalali, Samuel Yacobus Alle juga membenarkan kalau Ataupah dan Hani menghabiskan malam Sabtu itu di Pustu Kalali. “Desnan Pahnael yang pigi kasitau beta di rumah, katanya bapa pigi dulu karena ada orang di Pustu, ada bawa satu ibu. Mereka dobrak pintu Pustu. Katanya mereka sudah dari malam. Mereka tidur disitu. Ibu bidan tidak ada. Setelah itu, saya langsung ke di pustu. Dan, ternyata mereka ada. Saya lalu temui mereka lewat pintu belakang. Saya jabat tangan. Tapi dia tanya saya, bapak siapa? Saya tanya balik dia, bapak siapa dan dari mana? Tapi dia tanya saya ulang-ulang, bapak siapa? Saya marah, saya emosi. Kita ribut disitu. Pokoknya lama kita ribut. Saya omong sudah tidak pake sopan-sopan lagi, pokoknya sudah kasar. Trus dia bilang, ini saya punya rumah, lalu saya bilang iya, itu bapak punya rumah tapi jangan dobrak pintu kasih rusak, nanti pemerintah yang pusing cari uang kasi baik itu pintu. Saya sempat ambil bebak mau pukul dia, tapi tidak jadi pukul. Lalu anak-anak datang dan kasitau dia bahwa ini kami punya Kepala Desa, baru dia mengalah. Lalu dia panggil saya, tapi saya tidak mau. Lalu saya suruh Desnan pigi cari ibu bidan. Setelah ibu bidan datang, itu Kadis dorong-dorong ibu bidan, dia tolak-tolak ibu bidan. Lalu saya bilang jangan begitu pak, jangan buat ibu bidan begitu. Lalu dia jawab, ini saya punya anak. Lalu saya jawab dia, kalau bapak punya anak, kenapa bapak buat dia begitu. Ah… saya benar-benar emosi. Saya hampir mau tempeleng dia. Untung tidak jadi. Kalau tidak, dia mati. Karena disitu anak-anak muda yang lagi emosi banyak sekali,” ujar Ale.
Tidur di Kamar Bidan
Bukan main dongkolnya Elisabeth Abuk ketika tahu Ataupah dan Hani tidur di kamarnya. Apalagi Ataupah dan selirnya itu masuk ke ruang privasi Elis dengan cara mendobbrak pintu Pustu. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Kini Elis hanya berharap Ataupah bertanggung jawab terhadap apa yang dia buat.
Ditemui wartawan di Pustu Kalali, Selasa (8/12/09) lalu, bidan Elis mengaku, “Waktu itu hari Jumat, dong (Ataupah dan Hani) datang sekitar jam delapan. Mereka tidur di beta pung kamar. Beta pi ketuk pintu. Itu ibu keluar. Lalu dia tanya, tadi malam lu pi mana. Terus beta bilang, beta ada keluar. Saat itu pak Kadis masih tidur, masih di kamar”.
Usai bertemu Hani, Elis pergi ke rumah salah seorang pasien. Sekembalinya dari sana, dia melihat sudah banyak orang mengelilingi Pustu. Kepala Desa Kalali, Samuel Yacobus Alle terlihat marah-marah. “Pak Kades marah, karena pak Kadis dan itu perempuan dobrak pintu Pustu. Pintu belakang hanya pake grendel. Itu yang rusak. Kalo dia pung gagang pintu sonde apa-apa. Setelah pintu dibuka paksa, mereka masuk. Nah beta pung kamar ju sonde kunci, karena kunci pintu itu rusak. Mereka lalu tidur disitu,” papar Elis.
Menurut Elis, saat Ataupah dan Hani mendobrak pintu, sebenarnya di dengar oleh warga tetangga di sekitar Pustu. “Tapi karena dong pikir itu saya punya saudara, mereka akhirnya tidak bereaksi. Keesokan harinya baru mereka tahu, ternyata yang dobrak pintu itu bukan saudara saya, tapi pak Kadis. Selama ini beta pikir itu pak Kadis pung istri, ternyata tidak,” ucapnya.
Enjoy
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, Messerasi BV Ataupah berkali-kali didatangi wartawan di kantornya selalu tidak ada. Namun ketika dihubungi via hand phone pada Selasa (10/11/09), Ataupah memberi respon. Melalui SMS, Ataupah berjanji keesokan harinya, tepatnya Rabu (11/11/09), dia akan sediakan waktu untuk wartawan. “Bsk ko jam 10 biar bisa bahas sama2,” demikian pesan SMSnya.
Ironisnya, ketika keesokan harinya dihubungi lagi, Ataupah meminta wartawan untuk menemuinya pada Jumat (13/11/09), saat acara penyerahan bantuan unilever buat posyandu melalui PKK. Tak putus akal, wartawan pun mengkonfirmasi Ataupah lewat SMS. Mulai dari masalah perselingkuhan hingga pengrusakan pintu Pustu. Benar saja, tak lama berselang Ataupah pun membalas SMS, “Nggak ada rusak apa2, bos cek sa ke lapangan, salah paham biasalah. Ha ha ha lelucon sa, kdesx msh hub keluarga. Iyalah om kandung b krn kwn dg tanta kandung b, mereka yang ksh bsr keluarga kdes bu. Ok thanks snd apa2, hidup biasa ada naik turun, jadi yaah enjoy sa, thanks”. (*)
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar