sergapntt.com [Kupang] -> Kupang dikenal kering. Tapi kota yang kini sedang dipimpin oleh Drs. Daniel Adoe ini juga memiliki daya pikat. Terutama soal kehidupan malam. Banyak cewek import yang menjanjikan kenikmatan. Yang penting ada duit. Itu sebabnya banyak pejabat daerah tak kuasa menahan napsu. Waktu luang dihabiskan di tempat hiburan. Tak terkecuali Ketua DPRD Kabupaten Nagekeo, Gaspar Batu Bata. Woooow…!
Kamis (28/01/10) malam, penulis melakukan pengintaian di Pub Bogenvile Kupang. Sekitar pukul 22.00 Wita, tiba-tiba sebuah mobil memasuki kawasan pub. Dari dalam keluar Ketua DPRD yang juga Ketua DPC PDIP Nagekeo, Gaspar Batu Bata. Tak lama berselang keluar juga Anggota DPRD Nagekeo besutan PDIP, Marsel Damara dan seorang pengusaha kondang di Ngada-Nagekeo bernama Ho’i.
Turun dari mobil ketiganya langsung menuju aquarium tempat wanita penghibur menunggu lelaki penikmat malam. Disana mata mereka liar melahap wajah dan bodi seksi para wanita yang dipajang bahenol membangkitkan andernalin. Setelah kasak-kusuk dengan maminya para cewek, ketiganya langsung menuju VIP Room Prambanan. Tak lama kemudian mereka diikuti tiga orang cewek berpenampilan seksi. Pintu ditutup. Dari luar terdengar musik karoke menggelegar. Samar-samar terdengar suara Gaspar Batu Bata mengiringi musik Lola Draker. Penulis terus meneropong. Sampai pukul 02.00 dini hari, Gaspar Batu Bata cs tak kunjung keluar dari VIP Room Prambanan.
Seminggu kemudian saat ditemui di Mbay, Nagekeo, Gaspar Batu mengaku dirinya bersama Marsel Damara dan Ho’i hanya berkaroke. “Betul malam itu kami ke Bogenvile. Tapi malam itu kami hanya karoke. Tidak lebih. Benar saat berkaroke kami ditemani cewek, tapi cewek-cewek itu adalah pramuria yang tugasnya hanya menuang minuman kami. Setelah puas nyanyi kami langsung pulang,” tegasnya.
Hal senanda diakui juga oleh Ho’i, “Itu malam kami hanya nyanyi pak”.
Bisa benar-bisa juga tidak. Yang pasti menurut salah seorang penikmat dunia malam yang ditemui di Pub Bogenvile, sebut saja namanya Tonni (29), cewek-cewek itu kerjanya hanya menemani sekaligus menghibur kaum lelaki yang ingin menghabiskan malam dengan minum minuman beralkohol sambil berkaroke.
“Ya… biasalah. Sambil nyanyi cewek itu kita peluk, kita cium. Biasanya satu jam di bayar Rp. 50 ribu rupiah. Kita juga bisa langsung “pakai”, tergantung negosiasinya. Kalau cocok, langsung sikat,” papar Tonni.
Hasil penelsuran penulis menyebutkan, tak hanya Gaspar Batu Bata cs. Banyak pejabat daerah juga berkelakuan sama. Ketika berkunjung ke Kupang, mereka selalu meluangkan waktu untuk memburu wanita penjaja seks. Bahkan beberapa pejabat tertangkap basah selingkuh dengan pelacur. Padahal upah pelacur kelas atas mencapai Rp. 500 ribu hingga 1 juta untuk sekali main. Jika dalam seminggu pejabat tersebut rutin meniduri pelacur maka uang yang terkuras sebesar 3,5 – 7 juta. Dalam sebulan akan menghabiskan 14 – 28 juta. Padahal gaji mereka dalam sebulan dibawah Rp. 14 juta. Darimana uang itu didapat? Bisa dipastikan via korupsi. Ironis memang. Uang dicari dan dicuri bukan untuk membahagiakan istri-anak dan rakyat, tapi dihabiskan di tempat maksiat.
Bagi wanita pekerja seks, tak peduli itu uang korupsi atau uang gaji. Yang penting, habis main harus bayar. Tak ada bon. Tak ada utang. Harus kes.
“Habis main bayarlah. Hari gini ngga ada yang gratis pak. Mau enak, ya… bayar,” ujar Sri (20).
Wanita cantik dengan rambut terurai panjang itu mengaku, dirinya biasa melayani para pejabat daerah. Sekali tarung Sri pasang tarif Rp. 500 ribu sampai 1 juta. Bisa short time, bisa long time. Tergantung kesepakatan. Di Kupang Sri indekost di seputaran Kecamatan Kelapa Lima. Penampilannya seperti mahasiswi yang sedang praktek lapangan. Rapih, cakap, seksi menjadi ciri khas Sri. Itu sebabnya ketika Sri pasang tarif tak ada yang menolak.
“Ya enaklah kalau berhubungan dengan pejabat. Mereka kan banyak uang. Terus ngga neko-neko lagi,” ucap wanita asal Menado tersebut.
Pengakuan yang sama juga datang dari Ina (21). Wanita asal Kabupaten Rote Ndao itu mengaku bahagia meladeni birahi para pejabat. “Kalau mereka puas, beta biasa dikasi uang lebih. Seperti tip begitulah,” ujarnya.
Selingkuh
Konon, semua lelaki punya kecenderungan untuk berselingkuh, kendati tidak semua punya kesempatan untuk benar-benar melakukannya. Peluang berselingkuh semakin besar jika seseorang punya jabatan dan uang. Apakah seorang pejabat cenderung berselingkuh? Jika pertanyaan ini diajukan kepada pedangdut Kristina, maka jawabannya ya. “”Memang tidak semua pejabat seperti itu, tapi almost (sebagian besar) memang demikian. Aku kan sering bicara dengan beberapa ibu pejabat. Kita sering sharing bagaimana suami mereka pernah ditawarin cewek,” kata Kristina dikutip sebuah Kantor Berita Online.
Kristina memang punya pengalaman pahit soal ‘pejabat’. Suaminya, mantan legislator Senayan Al Amin Nasution diciduk KPK di sebuah kamar hotel bersama seorang perempuan muda nan cantik.
Asumsi Kristina bisa jadi benar. Dan bisa juga salah. Yang jelas, apa yang dia paparkan merupakan fenomena yang terjadi di negeri ini, terkait dengan mereka yang dipercaya untuk menjabat, dan hubungannya dengan perempuan.
Tentu saja tidak adil jika menyebut semua pejabat gemar berslingkuh. Pasti ada juga yang tetap setia dengan istrinya, dan sama sekali tidak tergiur dengan keindahan dan kemolekan tubuh perempuan muda.
Namun kita juga tak bisa menutup mata dengan adanya fakta menyangkut bagaimana ‘kebuasan’ pejabat terhadap perempuan. Saya kerap mendengar cerita bagaimana perilaku pejabat, baik birokrat maupun legislator, jika mendapat tugas ke luar daerah, termasuk studi banding. Usai melakukan tugas seremonial, malam hari biasanya diisi dengan kegiatan ‘hunting bareng’, memburu perempuan untuk diajak kencan.
Bagi sementara laki-laki memang ada pameo: Tak masalah selingkuh sepanjang itu tak diketahui pacar atau istri. Dan bagi kalangan pejabat, mungkin ada falsafah: selingkuh itu wajar, sepanjang itu tak diketahui istri dan tidak tercium media massa. Anda setuju? (*)
2 Komentar
Comments RSS TrackBack Identifier URI


terimakasih buat penulis atas penulusurannya kami daripada kaum muda nagekeo memberikan apresisi terhadap kinerja penulis. inilah sebuah gambaran yang sangat memprihatinkan, peluncur rakyat yang diharapkan mampu memterjemahkan aspirasi rakyat(masyarakat nagekeo)malah melakukan sesutu hal yang keluar daripada prisip atau hukum dasar negara. entah apa yang terpahami oleh mereka, sadari atau tidak mereka telah mencoreng muka masyarakat nagekeo dengan tidak merealisikan dengan baik tugas dari pada mereka.kami akan menindak lanjuti wacana ini karena ini merupakan tanggung jawab kami sebagai kaum muda nagekeo. sungguh merupakan hal yang memalukan rakyat yang boleh menderita dengan menunggu janji mereka malah enak-enakan mereka menggukan tanggung jawab itu dilur hal tak wajar.
tugas kita bersama untuk mengawal ketidakberesan di negeri ini, tx bro