sergapntt.com [BAJAWA] – SUKSESI Pemilihan Umum Kepada Daerah (Pemilukada) Kabupaten Ngada menyisahkan duka dan kecewa bagi Kepala Dinas (Kadis) Peternakan Provinsi NTT, Ir. Martinus Jawa dan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kabupaten Ngada terpilih, Sil Pati Wuli. Sebab dua figur debutan Calon Bupati dan Wakil Bupati Ngada yang menggunakan sandi MERPATI itu “dilempar” oleh tujuh (7) dari sembilan (9) Pengurus Anak Cabang (PAC) PDIP se Kabupaten Ngada keluar ring Pemilukada Ngada. Sebagai gantinya PAC-PAC tersebut menunjuk Drs. Petrus Tena dan Sipri Radho alias TENAR sebagai paket PDI Perjuangan.
Tinus Jawa —begitulah Ir. Martinus Jawa biasa dipanggil—– tak tahu lagi harus berbuat apa. Keinginanannya untuk merebut kursi bupati Ngada via pemilukada berakhir dengan tragis. Di penghujung pertarungan memperebutkan kendaraan politik, ia justru disingkirkan oleh PDIP. Padahal menantu mantan Anggota DPRD NTT asal Partai Golkar, Frans Dima Lendes ini mengaku sejak tahun 1986, atau sebelum konggres PDIP di Surabaya hingga Suksesi Gubernur NTT yang menghantar Drs. Frans Lebu Raya dan Ir. Esthon Foenay, M.Si menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT Periode 2008-2013 dan PEMILU Legislatif 2009, ia telah mengabdi, berbakhti dan tetap setia dengan PDIP.
“Sakit pak, hati ini. Apa yang kurang dari saya. Mulai dari tahun 1986, sampai dengan suksesi Gubernur NTT dan Pemilu Legislatif tahun 2009, saya tetap dengan PDIP. Tapi kenapa di suksesi Kabupaten Ngada saya dijegal seperti ini,” ujar Tinus Jawa, Kamis (14/01/10).
Saat ditemui di ruang kerjanya, Tinus Jawa sedang duduk bersama Sely Tokan, adik kandung Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Tak tahu apa yang mereka diskusikan. Namun Wajah Tinus Jawa tampak layu dan panik, gerak-geriknya tak selincah sedia kala. “Ya adik. Saya lagi stres. Saya trauma dengan PDIP. Kenapa bisa jadi begini ya…,” ucapnya, lirih.
Mendengar komentar Tinus Jawa yang sayup itu, Sely Tokan pun menawarkan diri untuk mempertemukan Tinus Jawa dengan Frans Lebu Raya. “Sudah, tidak usah panik pak. Kalau kakak (maksudnya Frans Lebu Raya) pulang dari Jakarta, kita dua pi ketemu sa. Kita tanya langsung saja, apa paket TENAR itu sudah tidak bisa diganggu lagi atau bagaimana,” ajak Sely Tokan.
Toh begitu Tinus Jawa seakan tak gubris. Umpatan, bahkan makian terus keluar dari mulutnya. Rasa kecewa terhadap PDIP seakan tak bisa terobati. Ia menuding Wakil Ketua DPD PDIP NTT, Kornelis So’I, SH sebagai aktor yang mengusir peluang MERPATI untuk terbang bersama PDIP menuju kancah suksesi Ngada.
“Saya ini kurang baik apa Nelis. Coba dia ada disini, saya mau tanya dia. Kenapa saya dibuat begini. Nelis So’i itu pernah makan minum di rumah saya, tapi saya tidak pernah pergi ke rumahnya. Lalu kenapa Nelis tega tikam saya dari belakang. Nelis fitnah saya di sana-sini. Contoh, kepada saya Nelis bilang Sil tidak pengaruh di Ngada, kepada Sil, Nelis bilang saya tidak pengaruh. Ini maksudnya apa? Waktu dia omong soal Sil, saya diam saja. Karena di kedalaman hati saya mengatakan, Sil itu figur pemimpin yang baik. Buktinya selama dia menjadi pimpinan dewan, antara eksekutif dan legislativ di Ngada tidak pernah berantem,” papar Tinus Jawa disambut Sely Tokan dengan tertawa kecil.
Tinus Jawa tentu kecewa berat. Sebab, sejak bola suksesi Ngada bergulir, Tinus Jawa sangat berharap banyak bahwa PDIP akan mengakomodir paket MERPATI. Karena itu amunisi politik seperti uang mulai ia kucurkan ke tubuh PAC dan DPC PDIP Ngada. Tinus Jawa mengaku dirinya telah memberikan uang sebesar Rp. 30 juta kepada DPC dan Rp. 5 juta per PAC.
“Saya hargai PDIP, makanya saya melamar ke PDIP. Saya hormat PDIP, karena dari dulu saya dengan PDIP. Saya ini berjasa untuk PDIP. Sekarang saya kecewa dengan PDIP. Kenapa? Ya kenapa PDIP tidak akomodir MERPATI. Kenapa kami dikhianati seperti ini. Apa yang kurang dari MERPATI. Sekarang justru tetapkan TENAR. Terus apa jasa paket TENAR untuk PDIP selama ini? Tidak ada kan! Aneh…! Saya yang berjasa untuk PDIP tidak didukung oleh Nelis. Nelis justru dukung manusia-manusia yang tidak pernah berkontribusi untuk PDIP maupun untuk dirinya. Di Pemilu Legislatif 2009, saya dan keluarga saya berkontribusi banyak untuk dia itu (Nelis So”i-Red). Tapi dia balas saya begini. Tidak apa-apa. Omong soal kontribusi dana, sudah saya lakukan. Kepada DPC saya berikan Rp. 30 juta. Kepada Sembilan PAC, saya berikan masing-masing Rp. 5 juta. Apalagi? Kalau mau minta tambah uang, bilanglah! Jangan buat saya seperti ini. Saya benar-benar kecewa. Saya sangat kecewa dengan PDIP. Karena waktu saya kasi uang, PDIP menjamin akan mengutamakan paket MERPATI. Ternyata itu hanya tipu muslihat. Istri saya pernah suruh saya, pak minta kembali itu uang, tapi saya bilang tidak usah ma, ikhlaskan saja,” tohoknya.
Tinus Jawa juga menjamin TENAR akan kalah dalam Pemilukada Ngada. Sebab, kualitas dan popularitas TENAR jauh dibawah pengaruh MERPATI. Respon mayoritas pemilih Ngada diklaim lebih mendukung MERPATI ketimbang TENAR. Oleh karena itu, kata Tinus Jawa, jika MERPATI tak bertarung, maka yang lebih berpeluang menang adalah paket BERNAS yang dihuni Bene Ngete (Sekda Kabupaten Manggarai Barat) dan Lorens Nau (mantan Kadispenduk Kabupaten Ngada). Sebab Bene Ngete akan mendulang suara mayoritas dari Kecamatan Golewa. Setidaknya bisa dipastikan 99 persen dari 22 ribu pemilih di Golewa akan memilih paket BERNAS. Sedangkan paket Isidorus Jawa dan Bruno Paskalis (IDOLA), Marianus Sae dan Paulus Soli (MULUS) serta Hengky Lodi dan Hendra Yusuf (Hoky) bisa dibilang sebagai paket ikut rame.
“Paket MERPATI sekarang ini ibarat burung Merpati yang sayapnya patah. Tapi perlu diingat, paket TENAR mau menang dari mana? Peta politik di Ngada itu lebih dukung saya ketimbang yang lain. Coba lihat, petanya seperti ini; pemilih di Riung Barat ada 4.800, disana ada pengaruh istri saya. Riung induk 9000, Wolomeze 3000. Disini ada Veny Kota dan Bruno Paskalis. Bajawa Utara 4.800. Daerah ini adalah daerah perebutan. Soa 8000, menjadi daerah basis Marianus Sae. Aimere 9000, itu teritori Pit Tena dan Lorens Nau. Kota Bajawa 19000. Daerah ini diperebutkan oleh Isidorus Jawa, Sil Pati Wuli, Paulus Soli, Hengki Lodi, hendra Yusuf. Jerebuu 3000 pemilih. Ini daerah perebutan. Sedangkan Golewa 22.000 menjadi basis saya, yang juga diperebutkan oleh Bene Ngete, Veny Kota, Marianus Sae dan Sipri Radho,” papar Tinus Jawa berusaha meyakinkan SERGAP.
Toh begitu PDI Perjuangan telah menetapkan paket TENAR sebagai Calon Bupati dan Wakil Bupati Ngada 2010-2015 melalui Konferensi Cabang (Konfercab) DPC PDI Perjungan Ngada.
“Konfercab itu ada dua agenda. Pertama; pergantian kepengurusan di DPC PDIP Ngada dan penjaringan Calon Bupati dan Wakil Bupati Ngada. Kalau agenda pergantian pengurus partai, Sil Pati Wuli terpilih sebagai Ketua DPC PDIP Ngada untuk periode 2010-2015. Sedangkan untuk calon Bupati dan Wakil Bupati Ngada, PAC-PAC se Kabupaten Ngada menghendaki paket TENAR. Oleh karena itu kami telah tetapkan paket TENAR sebagai paket PDIP,” ujar Sekretaris DPD PDI Perjuangan Propinsi NTT, Nelson Matara di kantor DPRD NTT, Jumat (15/01/10).
Dalam Konfercab PDIP yang digelar di Mataloko pada Rabu (13/01/10) terkuak fakta TENAR lebih di dukung oleh PAC-PAC PDIP se Kabupaten Ngada. Dari 9 PAC, 7 PAC dukung TENAR dan hanya 1 PAC memilih MERPATI .
“Mayoritas PAC berkehendaki agar PDIP mengusung TENAR. Skornya 7 PAC untuk TENAR dan hanya 1 PAC untuk MERPATI. Karena didukung oleh mayoritas PAC, maka kami berkesimpulan, inilah paket idaman PDIP,” tegas Nelson Matara.
Disinggung soal tudingan dan anggapan Tinus Jawa bahwa jajaran PDIP telah menghianati dirinya, Nelson Matara mengatakan, pada prinsipnya PDIP tidak pernah berpikir untuk menghinanati siapa saja, termasuk Tinus Jawa.
“Saya kira Tinus Jawa tidak dikhianati. Karena penetapan paket TENAR ini berdasarkan hasil penjaringan partai. Tinus Jawa kan hanya dapat dukungan satu PAC. Apa kami mesti tetapkan dia. Terus bagaimana dengan 7 PAC yang dukung TENAR. Bagaimana satu PAC bisa kalahkan tujuh PAC. Itukan tidak realistis.
Partai tidak pernah memberi jaminan bahwa akan menetapkan MERPATI. Kita harus luruskan. Jaminan dari partai itu datang dari siapa. Terus kepada siapa Tinus Jawa setor itu uang. Kalau tidak luruskan, kami akan praperadilkan dia. Karena itu fitnah,” ujar Nelson Matara.
Menurut Nelson Matara, berpolitik praktis selalu membutuhkan biaya. Tidak ada politik yang gratis. Oleh karena itu curahan hati Tinus Jawa tersebut sebenarnya tak perlu dibeberkan.
“Politik itu ada kos. Komunikasi politik butuh biaya. Itu konsekuensi kalau mau berpolitik. Kalau memang benar dia keluarkan uang untuk PAC, sekedar beli rokok, isap sama-sama atau beli makan minum dan makan minum sama-sama, saya kira itu wajarlah. Tapi mungkin karena Tinus Jawa tidak bangun komunikasi politik secara baik dengan PAC-PAC, maka paket TENAR yang mendapat tempat di hati PAC-PAC. Kalau benar dia telah bangun komunikasi politik secara baik, maka saya kira di Konfercab kemarin paling tidak setengah tambah satu PAC se Kabupaten Ngada akan dukung MERPATI. Tapi kenyataannya lain kan? Salah siapa? Jangan karena itu lalu tuding sana-tuding sini. Yang benar aja,” tandasnya.
Setelah MERPATI didepak dari PDIP, kini TENAR terus melakukan konsolidasi massa sampai ke tingkat desa. TENAR dan PDIP dikabarkan makin solid menyambut hari “H” Pemilukada Ngada. Targetnya, menang! Namun dibalik itu TENAR terus digerogoti isue korupsi yang diduga dilakukan oleh Petrus Tena semasa menjabat sebagai Kepala Dinas PPO Kabupaten Ngada.
“Saya ada data kalau Pit Tena itu terlibat kasus korupsi. Saya pernah ditelpon oleh tim sukses saya, supaya saya sediakan uang sekitar 10 juta untuk bayar Jaksa, agar Jaksa proses itu kasusnya Pit Tena yang merugikan negara sekitar Rp. 700 juta. Kalau macam-macam, saya akan buat seperti itu. Rp. 10 juta berapa sih,” kata Tinus Jawa.
Ketika diburu dengan pertanyaan, apakah anda benar-benar memiliki bukti? Dengan lantang Tinus Jawa mengatakan, “Ya, saya punya bukti. Dan, saya pernah diberitahu oleh orang Dinas PPO Ngada. Siapa dia, itu rahasia saya”.
Kendati demikian kabar tak sedap juga mengerubuti diri Tinus Jawa. Sejumlah pejabat eselon II dan III di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada dan lingkup Pemerintah Propinsi (Pemprop) NTT mengatakan, Tinus Jawa telah melakukan sewa beli mobil dinas sebanyak tiga unit. Dua dibawa dari Timor Timur, sedangkan satunya di dapat Badan Ketahanan Pangan NTT. Tak puas dengan itu, pejabat eselon II yang diorbitkan oleh Ketua DPD PDIP NTT yang juga Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya tersebut, masih meminta secara paksa mobil dinas bernomor polisi DH. 37 yang dipakai oleh staf UPTD Pembibitan Ternak Dinas Peternakan NTT bernama Edy Birelawa. Mobil “rampasan” itu dibawa Tinus Jawa ke Bajawa untuk kepentingan suksesi Ngada. Disana plat merah diganti dengan plat hitam.
“Masalahnya ada dimana? Benar saya dapat dua mobil dari Timor Timur. Yang ketiga ini sedang dalam proses sewa beli. Sekarang saya tinggal tunggu SK-nya. Sebenarnya mobil yang saya bawa dari Timor Timur itu bukan hanya 2, tapi 6. Lalu oleh pimpinan saya, saya disuruh pilih dua yang terbaik dari enam unit itu untuk saya sewa belikan. Kalau sudah begitu, apa masalahnya? Soal ganti plat, harus tahu bahwa kami para eselon II ini diberi kuasa untuk menggunakan 2 plat nomor, yaitu plat merah dan plat hitam. Kalau sewaktu-waktu kami harus menggunakan plat hitam, ya kami gunakan. Tidak ada masalah” tutur Tinus Jawa, enteng.
Luar biasa. Dengan mudah Tinus Jawa mendapat mobil dengan cara sewa beli. Padahal sejumlah pejabat eselon III di lingkup propinsi NTT harus berjibaku dengan ojek lantaran pemprop masih kekurangan kendaraan dinas.
Tak hanya soal mobil dinas, Tinus Jawa juga disebut-sebut sebagai Kadis yang otoriter. Sewaktu baru dilantik menjadi Kadis Peternakan, Tinus Jawa meminta semua UPTD dan Instalasi Peternakan yang berada dibawah payung Dinas Peternakan untuk menyiapkan uang dan ternak demi suksesnya acara syukuran. Begitupun dengan setiap gawe open house yang dibuat Tinus Jawa saat merayakan pesta Paskah atau Natal dan Tahun Baru.
Parahnya lagi sewaktu gaung suksesi Ngada berkecamuk membangkitkan gelora ambisi menjadi bupati, Tinus Jawa mengarahkan semua bantuan dinas untuk masyarakat NTT ke Kabupaten Ngada. Tujuannya merebut empati masyarakat Ngada agar memilihnya menjadi Bupati Ngada. Bisa benar-bisa juga tidak. Namun yang pasti semua tudingan itu dibantah oleh Tinus Jawa.
“Tidak benar semua itu,” tegasnya. (*)
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar