Sejak Kabupaten Nagekeo terbentuk pada 22 Mei 2007, Pit Nuwa —begitulah Drs. Pit Jos Nuwa Wea biasa dipanggil— tidak berpikir lagi untuk menjadi Bupati Ngada. Ia sadar bahwa dirinya bukan anak kelahiran Ngada. Begitu pun dengan umurnya yang sudah terbilang tua. Namun di babak injuri time jelang penetapan paket Calon Bupati dan Wakil Bupati oleh KPU, sikap “anak kesayangan” mantan Gubernur NTT, alm. Piet A. Tallo, SH itu berubah.
Pit Nuwa yang sejak bola suksesi Ngada bergulir hanya diam membisu, tiba-tiba memproklamirkan diri ikut bertarung di pilkada Ngada. Kesiapan Pit Nuwa ini tentu saja membuat jantung kandidat lain berdetak kencang. Keikutsertaan Pit Nuwa dianggap sebagai ancaman yang bisa melululantakan klaim menang para kandidat. Maklum fakta di Pilkada 2005 menjadi reverensi yang tidak terbantahkan. Saat itu Pit Nuwa-Ir. Nikolaus Dopo hanya butuh satu ronde untuk mengkanfaskan empat paket lawan politiknya sekaligus. Drs. Wilhelmus L. Padja-Moses Mogo, B.Sc harus puas sebagai runer up diikuti Ir. Albertus Nong Botha-Drs. Cyrilus Bau Engo, Drs. Nimus Dapa-Ir. Hengky Lodi dan Drs. Joakim Reo-Drs. Jhon Elpi Parera.
Kini Pit Nuwa datang dengan amunisi dan senjata baru. Jika di periode lalu ia menggunakan Gabungan Partai Politik, maka menghadapi pilkada 2010, pria kelahiran Boawae, Kabupaten Nagekeo itu lebih yakin dengan Partai Golkar. Ia disebut-sebut akan menggandeng Ketua DPRD Kabupaten Ngada, Kristo Loko, S.Fil. Bisa benar, bisa juga tidak. Sebab, kontelasi politik di Ngada terus berubah-ubah dari detik ke detik.
Peluang Pit Nuwa di Partai Golkar juga masih samar-samar. Sebab tergantung laporan akhir Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dipakai oleh Partai Golkar untuk mendeteksi figur Calon Bupati dan Wakil Bupati yang paling diidamkan rakyat Ngada.
Yang pasti hanya satu. Kemampuan Pit Nuwa masih sangat diperlukan oleh rakyat Ngada. Buktinya, saat melamar ke Partai Golkar, Pit Nuwa disuport bahkan diantar oleh ratusan tokoh masyarakat dari berbagai kecamatan di Ngada.
“Lima enam bulan lalu ketika saya berkunjung ke kecamatan-kecamatan, saya ditanya oleh masyarakat apakah ingin menjadi Bupati Ngada lagi, terus saya bilang tidak. Secara pribadi saya sampaikan juga bahwa saya ini asalnya dari Nagekeo. Terus dari segi umur, saya ini sudah tua. Sekarang umur saya sudah 63 tahun. 32 tahun mengabdi sebagai PNS, 5 tahun sebagai Bupati. Tapi, dalam perkembangan, terutama di beberapa bulan terakhir ini, banyak masyarakat yang datang kepada saya. Mereka minta supaya saya maju lagi. Karena itu, saya berkesimpulan, ini pernyataan yang jujur dari masyarakat yang mesti saya lanjutkan. Soal jadi atau tidak, itu kita serahkan kepada masyarakat yang memilih,” tegas Pit Nuwa Wea per telepon Rabu (20/01/10).
Itulah sebabnya, kehadiran Pit Nuwa di kancah suksesi kali ini membuat sebagian kandidat bupati mulai berpikir dua kali, maju terus atau stop sampai disini saja. Sementara sebagiannya lagi tetap tegap melangkah maju menuai ambisi menggusur Pit Nuwa dari kekuasaan di bumi Ngada. Asal, umur dan tetek bengek yang tidak penting tentang Pit Nuwa mulai dipersoalkan. Bahkan sejumlah media massa dipakai untuk membantai karakter, popularitas dan kesuksesan Pit Nuwa. Toh begitu, petualang sejati itu tak bergeming. Sebab, di dalam benaknya hanya tertanam prinsip: “hidup ini akan lebih berharga jika berguna bagi orang lain”.
“Undang-Undang Nomor 32 tidak menciptakan sukuisme di daerah. Isue asal-usul itu hanya fenomena. Semangat ini jangan dikembangkan. Bagaimana kalau semua PNS yang bukan asal Ngada tersinggung? Inikan akan menjadi masalah besar. Jadi, janganlah. Kuncinya, ada di masyarakat. Karena itu hak mereka. Sekali lagi mari kita serahkan kepada masyarakat. Karena mereka tahu siapa yang harus mereka pilih untuk menjadi bupati,” pintanya.
Permintaan Pit Nuwa agar semangat primordialisme segera ditiadakan dari bumi Ngada sangat beralasan. Sebab Ngada sangat identik dengan Nagekeo. Dua daerah ini ibarat kakak beradik. Masyarakat pun tak pernah mempersoalkan siapa dan asal dari mana pemimpin mereka. Itu pasalnya Ngada pernah dipimpin oleh bupati yang bukan asli Ngada dan Nagekeo. Sebut saja Drs. Johanes S. Aoh. Bupati Ngada dua periode itu merupakan generasi blasteran Nagekeo-Sikka. Berikut Bupati Ngada periode 2000-2005, Ir. Albertus Nong Botha juga mengalir darah Ngada-Sikka. Soal umur pun tak jadi masalah. Drs. Johanes S. Aoh yang kini umurnya hampir kepala tujuh (68 tahun) saja masih mampu memimpin Kabupaten Nagekeo secara baik. Apalagi Pit Nuwa yang baru berumur 63 tahun.
Sebagai manusia, Pit Nuwa sadar akan kekurangannya. Tapi sebagai pelayan ia tahu akan kewajibannya. Itulah sebabnya ketika rakyat memintanya untuk kembali bertarung di pilkada Ngada, tanpa berpikir dua kali ia langsung menyanggupinya.
“Saya wajib hargai aspirasi mereka. Karena menurut saya permintaan masyarakat itu tulus. Oleh karena itu, ketika ada peluang di partai politik, ya saya jawab permintaan mereka itu. Saya lamar ke partai Golkar. Bahwa kemudian saya diakomodir atau tidak, itu kewenangan partai politik. Yang pasti saya sudah bilang ke mereka (para pendukung-Red), jika saya terganjal di pintu partai politik, jangan kecewa. Karena ini tidak mudah. Tapi jika ada kepercayaan, ya… saya siap jalankan,” ujarnya.
Jika Tuhan berkenan dan kembali dipercayakan oleh masyarakat Ngada, sebagai incamben, Pit Nuwa berjanji akan meneruskan visi-misinya yang belum selesai. Upaya meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat berbasis keunggulan dan kemandirian akan terus digalakan.
“Dalam kepemimpinan saya, jujur saya katakan, ada yang sukses, ada yang belum. Tapi jika dipercayakan lagi, maka saya akan lanjutkan pekerjaan yang belum selesai itu,” tegasnya.
Pro kontra tentang hadirnya Pit Nuwa di kancah suksesi Ngada ditanggapi serius oleh Ketua DPRD Kabupaten Ngada, Kristo Loko, S.Fil. Politisi Partai Golkar asal Kecamatan Riung Barat itu mengatakan, sangat berlebihan jika ada warga Ngada yang menolak Pit Nuwa untuk ikut bertarung dalam pilkada Ngada. Apalagi penolakan itu dilandasi sentimen primitif. Sebab, pilkada merupakan ruang demokrasi yang terbuka untuk siapa saja. Artinya, semua orang boleh menggunakan peluang ini. Jika merasa mampu, siapa saja boleh ikut. Tidak ada aturan yang melarang.
“Kalau mau jadi bupati, yang penting adalah kepercayaan masyarakat kepada kita ada tidak. Pengakuan akan kapabilitas kompetensi kita ada atau tidak. Jangan kita merasa kita mampu jadi pemimpin, jadi bupati, jadi wakil bupati, tetapi respon masyarakat sangat lemah. Kalau seperti itu sebaiknya jangan paksa diri. Kalau paksa diri akibatnya semua cara mulai dihalalkan. Termasuk memfitnah orang. Jangan jadi besar dengan cara mengecilkan orang lainlah,” sergah Kristo Loko.
Saat ditemui di Hotel Kristal Kupang pada Selasa (19/01/10), Kristo Loko mengatakan, suhu politik di Ngada saat ini sedang memanas bak api dalam sekam. Isue primordial mulai merebak dan dijadikan oleh paket-paket tertentu sebagai komoditi politik untuk mematikan lawan. Bahkan peta politik mulai dibuka berdasarkan wilayah pemilih mayoritas dan minoritas.
“Sebagian masyarakat tentu terkejut ketika mendengar pak Bupati (Pit Nuwa – Red) akan maju lagi. Tapi tidak fair bila kejutan ini serta merta ditempel dengan semangat antipatif. Setuju tidak setuju, pak Bupati itu warga Ngada. Dia itu warga Kelurahan Tanalodu sesuai KTP-nya. Kita —maksudnya Calon Bupati dan Wakil Bupati — jangan bangun sentimen primordial yang akhirnya menjerumuskan masyarakat. Asal-usul jangan dijadikan alasan layak tidaknya seseorang menjadi Calon Bupati. Itu kuno,” tohoknya.
Menurut peraih suara terbanyak di PEMILU Legislatif 2009 tersebut, berpolitik praktis mesti pakai etika. Jangan menabur angin, karena diri sendiri yang akan menuai badainya. Jangan menuduh orang tidak pantas, padahal empat jari sedang menunjuk diri sendiri yang tidak pantas.
Pit Nuwa benar-benar di dukung oleh masyarakat Ngada atau tidak, akan kita buktikan di hari “H” Pilkada Ngada nanti. Itu pun kalau survei LSI menempatkan Pit Nuwa di rengking teratas dan Partai Golkar merekomendasikan Pit Nuwa sebagai Calon Bupati Ngada 2010-2015.
Dari aspek usia, tak hanya Pit Nuwa yang berumur tua. Figur lain seperti Drs. Petrus Tena, Ir. Martinus Djawa, Drs. Benediktus Ngete, Drs. Isidorus Jawa dan lain-lain juga umurnya tidak mudah lagi. Semua telah memasuki usia pensiun PNS.
“Umur boleh tua, tapi kalau masyarakat bilang itu belum terlalu tua, apakah ada masalah? Jika kita bandingkan pak Pit Nuwa dengan pak Bupati Nagekeo sekarang, maka pak Pit Nuwa jauh lebih mudah. Saat maju sebagai Calon Bupati Nagekeo, umur pak Nani Aoh waktu itu berusia 67 tahun. Sedangkan usia pak Pit Nuwa saat ini baru 63 tahun. Pak Nani saat itu diklaim oleh pesaing politiknya bahwa beliau sudah tua, terlalu tua dan sebagainya. Tapi ternyata justru dia-lah yang di pilih oleh rakyat. Nah, kalau Pak Pit Nuwa tidak disukai oleh rakyat Ngada, kenapa saat melamar ke Partai Golkar beliau di antar oleh orang Ngada. Terus ada yang bilang selama ini pak Pit Nuwa telah melukai hati orang Bajawa, terus kenapa saat melamar ke Partai Golkar, beliau di antar oleh ratusan tokoh masyarakat Bajawa,” tandasnya.
Pemimpin Bijak
Jika disimak secara obyektif selama lima tahun terakhir, kepemimpinan Pit Nuwa terbilang berhasil. Walaupun kesuksesan itu terselip sejumlah persoalan pembangunan yang belum selesai. Soal bijak, Pit Nuwa bisa dianggap sebagai bupati paling bijak dalam sejarah kepemimpinan di jagat Ngada. Terutama soal penempatan pejabat dalam susunan kabinet pemerintahan. Tak ada sentimen suka atau tidak suka. Teman dan lawan politik dirangkul sekaligus. Yang punya kemampuan dan keahlian kerja di atas rata-rata diprioritaskan menempati jabatan-jabatan strategis.
Kini Pit Nuwa dipuji, tapi juga di hujat. Di puji karena kemampuannya memimpin Ngada. Dihujat karena keikutsertaannya dalam suksesi Pilkada Ngada 2010-2015. Pit Nuwa dianggap tidak pantas lagi menjadi Bupati Ngada, hanya karena dia bukan orang asli Ngada.
“Kita jangan meneropong orang dari sudut pandang yang sempit. Kita mesti melihat dan berkata jujur apa yang sudah dibuat oleh pak Pit Nuwa untuk Ngada. Menurut saya, pak Pit Nuwa itu figur pemimpin yang bijak. Pembangunan di Ngada pun sudah dilaksanakan secara merata. Walaupun dengan keuangan APBD kita yang terbatas. Dia selalu berbagi dari kekuarangan yang ada. Tentu ada yang tidak puas. Itu wajar,” ujar Kristo Loko.
Menurut Loko, kepemimpinan Pit Nuwa bisa dijadikan sebagai patokan pemimpin Ngada masa depan. Demi rakyat, Pit Nuwa rela melepaskan ego pribadinya. Lawan di rangkul dan dijadikan kekuatan bersama untuk membangun daerah. Kepemimpinan Pit Nuwa selalu identik dengan humanis dalam pelayanan. Dia tak pernah dendam. Walaupun ada yang pernah mencederainya. Buktinya, dia berikan kepercayaan kepada tim sukses dari Calon Bupati dan Wakil Bupati yang kalah di pilkada 2005 untuk menduduki jabatan-jabatan strategis. Padahal di tempat lain, hal ini tidak akan pernah terjadi. Lawan didepak, kawanlah yang dipiara.
“Itu yang saya kagumi dari seorang Pit Nuwa. Dia mampu merangkul semua orang dengan semangat yang selalu dia katakan, saya ini bupati Ngada, bukan bupati partai politik atau bupati tim sukses. Yang berikut, selama masa kepemimpinannya, dia menempatkan DPRD dan Pemerintah sebagai mitra yang sejajar. Sehingga hubungan antara DPRD dan Pemerintah di Ngada selama ini selalu berjalan harmonis. Masing-masing tau menempatkan diri, hubungan kemitraan bagus sehingga rakyat tidak dikorbankan,” paparnya.
Di sektor Ekonomi, lanjut Kristo Loko, pemerintahan Pit Nuwa telah melakukan berbagai terobosan, diantaranya pengembangan komoditi – komoditi unggulan. Jadi, jika ada komentar yang mengatakan bahwa meningkatnya perekonomian di Ngada terjadi secara alami dan atas inisiatif masyarakat sendiri, saya kira sangat keliru. Sebab, tanpa peran serta pemerintah, ekonomi masyarakat Ngada tidak mungkin meningkat seperti yang ada sekarang. Itu terjadi karena ada interfensi pemerintah melalui kebijakan anggaran dalam mengembangkan komuditi unggulan. Contoh, tahun 2009, produk kripik pisang asal Ngada mulai dipasok ke Istana Negara. Bahkan produk-produk unggulan lokal lain seperti kopi yang telah dikemas secara baik mampu menembus pasar internasional.
Selain ekonomi, pemerintahan Pit Nuwa juga sangat memperhatikan sarana prasarana jalan dan jembatan, air bersih dan listrik. Tapi jika ada yang belum terurus, itu karena Kabupaten Ngada memiliki kemampuan dana yang terbatas.
Kekurangan dana pembangunan diakui juga oleh Asisten II Setda Kabupaten Ngada, Drs. Petrus Tena. Figur Calon Bupati Ngada yang kini sedang dielus oleh PDI Perjuangan itu mengaku, pembangunan di Ngada tidak bisa dilakukan secara serentak. Sebab Kabupaten Ngada selama ini masih sangat bergantung kepada kemampuan dana pemerintah pusat (pempus).
“Selama ini banyak yang sudah pemerintah lakukan. Tapi karena keterbatasan dana, maka kita selesaikan satu per satu,” ucap Pit Tena. (chris barera)
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar