Kambamba “Bau Harum” Bumi Marapu


sergapntt.com – Banyak potensi yang bisa digali dan dikembangkan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat. Ketika ada pihak yang merasa seolah menjadi korban era globalisasi  yang penuh dinamika dan tantangan, justru ada pihak yang menilai tantangan hidup sebagi pelecut untuk lebih memacu kreativitas dan inovasi.
Globalisasi memang merasuki hampir setiap sendi kehidupan anak manusia. Sama halnya di Kabupaten Sumba Timur. Gencarnya peluncuran dan pemasaran berbagai produk makanan siap saji alias instant berdampak terpuruknya harga jual makanan lokal. Padahal menu makanan lokal lebih bernilai gizi dam memiliki cita rasa unik. Jika saja ada pihak yang mau melakukan survey, mungkin akan tercengang ketika menghadapi fakta. Kaum muda Pulau Sumba mungkin hanya sebatas mendengar cerita tentang uniknya cita rasa “Kambamba’ sebagai penganan khas Sumba Timur, tapi tidak pernah merasakan atau mencicipi kenikmatan tersebut.
“Beragam penganan lokal Sumba Timur, selain bahannya mudah didapat, harganya pun sangat terjangkau. Bahkan, pasokannya gizinya, cita rasanya tidak kalah bersaing,  bisa menggugah selera, tidak kalah dengan makanan masa kini,” ujar Hendrick Dengi, penggagas Acara Demo Masak dengan Bahan dasar Tradisional di Pelataran Radio Max FM, Kallu Waingapu belum lama ini.
Kepedulian berbagai kalangan untuk melestarikan budaya tradisonal bisa dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya, dengan melestarikan makanan khas daerah masing-masing.  Berbagai jenis makanan masa kini yang serba instant selalu dibayangi efek samping negatif. Bahkan cepat atau lambat makanan instant itu berakibat terpuruknya kesehatan konsumen.
Demo Masak di Sumba Timur ini mendapat respon masyarakat. Tak terkecuali Wakil Bupati Kabupaten Sumba Timur, Drs. Gidion Mbiliyora, M,Si dan Kepala Badan Bimas dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba Timur,  Ir. Ida Bagus Putu Punia. Bahkan sajian khas Sumba Timur itu nampak sangat dinikmati Mbiliyora ketika dipersilakan mencicipi makanan yang disajikan Team  Flowers, STIE Kriswina, Tulip dan PKK Kabupaten Sumba Timur.
“ Pemerintah memberikan aspresiasi positif terhadap kegiatan ini, semoga langkah positif ini akan terus dipertahankan. Pemerintah akan mendukung sepenuhnya sesuai dengan kemapuan yang dimiliki. Saya sepenuhnya yakin bahwa sebenarnya tanah kita tidak kekurangan bahan-bahan alami yang memiliki kandungan gizi yang memadai, tinggal bagaimana kita melakukan kreasi dan inovasi baik dalam pola pengolahannya  dan penyajiannya tanpa menepikan nilai unik cita rasanya. Terus terang, saya dulu dan hingga kini masih sangat mengemari Kambamba dan yakin saya banyak penganan khas lainnya yang juga mampu menggugah selera,” ucap Mbiliyora.
Hal yang sama juga diakui Putu Punia  ketika dimintai komentarnya usai mencicipi ‘Kanguta Kakalak’ dan  ‘Kanguta Kayaka’ di meja team STIE Kriswina.  
Animo positif masyarakat yang membludak hingga ke jalan raya, dan undangan yang hadir tampak menjanjikan secercah harapan akan lestarinya “Kambamba”, “Kanguta Kayaka”, “Kanguta Kakalak”, “Kanguta Mbola Manandang”, “Kanguta Watar” dan “Pastel Ubi” olahan Team  Flowers, STIE Kriswina, Tulip dan PKK Kabupaten Sumba Timur. Paling tidak makanan khas ini kedepan diharapkan mampu mengharumkan bumi marapu Sumba Timur.

Demo Masak kali ini merupakan wujud nyata kepedulian akan kelestarian makanan dan penganan khas Sumba Timur serta ikut memeriahkan HUT Radio Max FM Ke- 2 dan HUT Ke- 16 Ranesi (Radio Nederland Siaran Indonesia) ke -16. (by. stw)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.