Wisma “Lelepak” Menawarkan Kenikmatan Seks


sergapntt.com [OELAMASI] – Sudah delapan tahun dua rumah bordir beratap alang-alang dan berdinding bebak beroperasi di dekat gereja di Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Pemerintah Desa Noelbaki, maupun aparat kepolisian terkesan membiarkannya.
Salah satu rumah prostitusi yang dijuluki  ‘Wisma Lalepak’  oleh warga setempat, dikendalikan oleh seorang germo,  Ba’i SP. Disebut Wisma Lalepak karena praktek prostitusi itu dilakukan di sebuah rumah berdinding bebak dan berdaun gewang serta tempat tidur untuk ‘esek-esek’ terbuat dari batang bebak.
“Kalau ‘main’, tempat tidurnya fafeduk (melenting-lenting, Red) seperti lalepak (pemikul dari bambu, Red),” kata seorang tukang ojek yang sering mangkal di samping Wisma Lalepak.

Tukang ojek yang tidak ingin disebutkan namanya itu menyebutkan SP mempunyai 10 orang ‘anak buah’. “Sering ada ribut-ribut karena saling rebutan pelanggan atau wanita,” timpal tukang ojek yang lainnya.
Ia mengatakan, aparat pemerintah Desa Noelbaki tidak pernah melakukan penggerebekan. “Polisi pun tidak datang gerebek. Bahkan ada anggota Polres Kupang yang rumahnya cuma berjarak 30 meter dari Wisma Lalepak cuma bisa diam, tidak bertindak apa-apa,” tukasnya.
Jarak ‘Wisma Lalepak’ sendiri dengan gedung Gereja Katolik Sta. Maria Angelina hanya 150 meter. Sedangkan dengan gedung Gereja Kristen Narwastu cuma  200 meter. Jika umat atau jemaat ke gereja, pasti harus melewati samping dan depan rumah prostitusi itu.
Satu lagi tempat prostitusi, dibuka dibekas lapangan voli, di sebuah rumah berdinding bebak beratapkan daun gewang. Rumah ini milik seorang pria  bernama MD. “Dia (MD, Red) adalah anak buah SP. Jika di Wisma Lalepak terlalu banyak pelanggan, dipindahkan ke sini,” tukas warga yang berdomisili dekat tempat prostotusi itu. Tempat prostitusi ini cuma berjarak 50 meter dari Taman Doa Maria Angelina Noelbaki.
“Saya terpaksa jajakan seks karena butuh biaya hidup,” tukas Mbak In, seorang penjaja seks di Wisma Lalepak.
Mbak In mengaku sebelumnya berprofesi sebagai penjual jamu keliling di Kota Kupang.  “Sejak suami saya meninggal, terpaksa saya begini,” kata wanita berpostur tinggi hitam dan berhidung pesek ini.
By. COPAS

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.