Demi terlaksananya demokrasi dengan mempertahankan metode damai, sepanjang perjalanan hidupnya, ia mengikhlaskan cintanya dan kasih sayang terhadap keluarga. Di dalam bayang-bayang kekerasan brutal junta militer, ia sangat mempercayai “spiritualitas tidak bisa dibunuh”. Sosoknya yang berjalan sunyi sendiri, membuat masyarakat dunia mau tak mau menyorot dengan cermat penderitaan warga negeri pinggiran tersebut.
Wajahnya jernih dan memukau, sorot matanya bagai bara api menjilat-jilat, itulah obor tekad dan api kehidupan dengan cahaya menyilaukan. Di dalam mata beningnya terpancar ketegasan dan keuletan seorang perempuan cantik bernama Aung San Suu Kyi, si pemimpin Uni Demokratik Myanmar yang dijuluki Bunga Myanmar, putri pemimpin gerakan kemerdekaan Myanmar, Jenderal Aung San.
Jenderal Aung San yang dianggap sebagai Bapak Myanmar, di dalam Perang Dunia II mengobarkan perlawanan terhadap pemerintahan kejam pasukan Jepang di Myanmar, dan pasca perang masih dilanjutkan dengan pertempuran untuk kemerdekaan Myanmar, sehingga di hati rakyat Myanmar ia memiliki kedudukan yang tinggi. Pada 1947, setahun sebelum kemerdekaan Myanmar, Aung San dibunuh oleh musuh politiknya. Kala itu, Aung San Suu Kyi baru berusia 2 tahun.
Setelah tewasnya sang ayah, Aung San mengikuti sang ibu mengungsi ke India untuk kemudian menempuh kuliah ilmu filsafat, ilmu politik dan ilmu ekonomi di Universitas Oxford-Inggris. Sesudah lulus, ia pernah bekerja sebagai sekretaris asisten kantor PBB, kemudian sempat menjadi dosen. Akhirnya ia menikah dengan Michael Aris, seorang profesor Universitas Oxford.
Pada Maret 1988, Aung San Suu Kyi mendapat kabar ibunya sedang sakit keras, ia buru-buru berpamitan dengan anak dan suami dari Oxford kembali ke Myanmar guna merawat sang ibu. Tapi tak lama setelah ia berada di Myanmar, meletuslah demonstrasi berskala besar menentang pemerintahan junta militer yang brutal dan bobrok.
Sejak saat itulah Suu Kyi mulai terlibat dalam politik Myanmar. Putri dari pahlawan kemerdekaan Burma, Jenderal Aung Sang itu, bersama ribuan orang menyerukan ditegakkannya demokrasi. Namun, rezim militer menanggapinya dengan kekerasan. Sekitar 5.000 demonstran tewas pada 8 Agustus 1988.
Selanjutnya, terjadi kudeta militer pada 18 September di tahun yang sama. Suu Kyi terus menyerukan kebebasan dan demokrasi melalui Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD). Menghadapi tekanan dalam negeri dan internasional, pemerintah diktator junta militer terpaksa menggelar pemilu pada 1990.
Suu Kyi mulai berkampanye untuk NLD. Sebagai imbas, dia ditahan. Meskipun kondisi pemilu jauh dari bebas dan adil karena Suu Kyi ditahan dan para politisi mengalami intimidasi, namun keadaan pada hari pencoblosan sangat berbeda. NLD memenangkan 80 persen kursi di parlemen.
Sayangnya, junta tak mengakui hasil pemilu dan menolak menyerahkan kekuasaan. Suu Kyi menjalani tahanan rumah sampai Juli 1995. Ketika dibebaskan, dia menghadapi pembatasan perjalanan.
Pada 27 Maret 1999 suami Suu Kyi, Michael Aris meninggal karena kanker di London, Inggris, namun Suu Kyi dilarang menemuinya. Terakhir kali mereka bertemu pada kunjungan Natal tahun 1995. Aris sudah berulangkali mengajukan petisi agar bisa mengunjungi Suu Kyi, namun ditolak pemerintah.
Lalu setelah kematian Aris, junta mendesak Suu Kyi agar bergabung dengan keluarganya di luar negeri. Namun Suu Kyi tak mau. Dia tahu betul, jika meninggalkan Burma, maka dia tak akan diizinkan kembali ke negaranya tercinta.
Pada tahun 2000, Suu Kyi kembali menjalani tahanan rumah karena mencoba meninggalkan ibukota Rangoon untuk mengadakan pertemuan politik di negeri bagian lain. Pada 2002, dia dibebaskan dan diperbolehkan melakukan perjalanan ke seluruh negeri.
Pembebasan itu berkat utusan PBB di Burma, Razali Ismail, yang memfasilitasi pertemuan rahasia Suu Kyi dengan militer. Junta sepakat menghentikan serangan keras terhadap Suu Kyi di media. Begitu pun NLD berhenti secara terbuka menyerukan sanksi ekonomi. Namun pemerintah menolak dialog lebih lanjut.
Suu Kyi kembali mengadakan perjalanan dan pertemuan, di mana puluhan orang melihatnya. Hal itu meleset dari perkiraan jenderal militer yang mengira periode panjang penahanan akan membuat orang-orang melupakan Suu Kyi.
Junta mulai menggunakan anggota Partai Union Solidarity and Development Association (USDA) untuk menyerang pertemuan NLD. USDA dikomandoi militer. Jenderal Than Shwe sebagai presiden. USDA kemudian bertransformasi menjadi USDP yang memenangi pemilu 7 November 2010.
Pada 30 Mei 2003, anggota USDA menyerang konvoi kendaraan Suu Kyi. Itu adalah cara diktator membunuh Suu Kyi; menggunakan warga sipil agar nantinya tak dipersalahkan. Beruntung, sopir Suu Kyi berhasil mengantarnya dengan selamat, tetapi lebih dari 70 pendukungnya dipukuli sampai tewas. Serangan itu dikenal dengan nama Pemberontakan De-payin. Junta mengklaim, kerusuhan dua kelompok politik itu dipicu NLD. Majelis Umum PBB menyerukan dilakukannya investigasi namun tidak digubris pemerintah Burma.
Setelah serangan itu, Suu Kyi dijadikan tahanan rumah kembali. Kali ini periode penahanan lebih ketat dari sebelumnya. Saluran telepon dicabut, sukarelawan NLD tak diperbolehkan memberikan pengamanan di sekitar rumah. +++web/cis+++
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar