OBESITAS merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Terlebih, orang-orang tampaknya sulit sekali meluangkan waktu hanya setengah jam sehari untuk bergerak di sela rutinitas. Ditambah lagi pola makan yang tak teratur disertai kurangnya waktu tidur menambah risiko kesehatan yang buruk.
Dr Monica Goel mengatakan, “Para dokter mengkhawatirkan tentang tren hidup tak sehat yang semakin meningkat membuat orang semakin berisiko obesitas. Lebih lanjut dampak negatif ini menyebabkan peningkatan kejadian resistensi insulin dan diabetes atau diabesitas. Ini merupakan sindrom kompleks dari resistansi insulin, hiperglikemia, dislipidemia, dan peradangan . Ada pula peningkatan risiko hipertensi yang memicu kolesterol dan trigliserida yang pada gilirannya menyebabkan meningkatnya kemungkinan penyakit arteri koroner dan penyakit pembuluh darah perifer, arthritis, osteoporosis, gangguan paru seperti sleep apnea.”
Seperti dikutip dari Times of India , Sabtu (11/6/11), Dr Monica Goel memberikan cara untuk mencegah obesitas yakni dengan membiasakan makan sehat: (1). Lemak tidak boleh melebihi 30 persen dari total kalori dan lemak jenuh harus kurang dari 7 persen. (2). Sebanyak 55-60 persen kalori harus berasal dari karbohidrat. Adapun 30 sampai 40 gram serat dianjurkan setiap hari. (3). Beralih ke tepung terigu, bukan tepung putih. (4). Bawa bekal makan dari rumah untuk makan siang ke tempat kerja. (5). Hindari makanan olahan dengan asam lemak trans dan pengawet. (6). Kurangi konsumsi daging merah. (7). Buat camilan dari buah-buahan untuk anak-anak daripada makanan cepat saji. (8). Mengurangi asupan alkohol dan minuman soda.
Untuk lantihannya; (1). Berolahraga teratur dan usahan kulit terkena paparan sinar matahari yang cukup. (2). Ciptakan sikap mental positif.
Kurang Tidur
Para peneliti dari New York menemukan, orang-orang yang tidur kurang dari 6 jam semalam berisiko lebih tinggi mengalami diebetes dibandingkan dengan mereka yang tidur lebih lama.
Mereka mengatakan, studi ini didukung oleh sejumlah bukti yang kuat bahwa mengurangi jumlah jam tidur mempunyai dampak yang serius terhadap kesehatan. Studi yang dilakukan selama 6 tahun ini dipresentasikan dalam American Heart Association conference.
Kasus diabetes jenis 2, yang seringkali dikaitkan dengan obesitas terus meningkat di seluruh dunia. Kondisi ini disebabkan karena tubuh memproduksi terlalu banyak insulin, tetapi tidak menggunakan hormon tersebut secara efektif untuk memecah gula dalam darah.
Batu sandungan dalam mendiagnosanya adalah kondisi yang dikenal dengan kadar glukosa puasa lemah, dimana kadar gula darah terlalu tinggi tetapi tidak cukup tinggi untuk didiagnosa sebagai diabetes.
Batu sandungan dalam mendiagnosanya adalah kondisi yang dikenal dengan kadar glukosa puasa lemah, dimana kadar gula darah terlalu tinggi tetapi tidak cukup tinggi untuk didiagnosa sebagai diabetes.
Satu tim dari Universitas Buffalo, di New York, mengikuti perkembangan sekelompok relawan selama 6 tahun. Mereka menemukan, orang yang tidur dengan rata-rata kurang dari 6 jam semalam selama hari kerja memiliki kemungkinan 4.56 kali lebih besar mengalami kadar glukosa puasa lemah dibandingkan mereka yang tidur 6-8 jam satu malam.
Pemimpin studi dr. Lisa Rafalson mengatakan, “Studi ini mendukung bukti yang kuat mengenai hubungan antara kurang tidur dengan masalah kesehatan yang buruk.”
Pemimpin studi dr. Lisa Rafalson mengatakan, “Studi ini mendukung bukti yang kuat mengenai hubungan antara kurang tidur dengan masalah kesehatan yang buruk.”
Menurut Rafalson, hubungan ini didasari oleh hormon dan sistem saraf.”Penemuan kami bisa mendorong penelitian tambahan mengenai area kompleks tidur dan penyakit,” ujar dia.
dr Neil Stanley, pakar tidur dari Norfolk and Norwich University Hospital mengatakan ada sejumlah bukti yang menghubungkan kurang tidur dengan kondisi seperti diabetes. Akan tetapi, lanjut dia, alasannya masih belum jelas, walaupun ada kemungkinan bahwa kurang tidur berisiko meningkatkan berat badan, yang pada akhirnya bisa meningkatkan risiko diabetes.
“Ada bukti bahwa kurang tidur mengundang hormon selera makan, jadi Anda selalu ingin makan, dan makan makanan yang salah, saat lelah kita cenderung mengkonsumsi makanan bergula.”
dr Neil Stanley, pakar tidur dari Norfolk and Norwich University Hospital mengatakan ada sejumlah bukti yang menghubungkan kurang tidur dengan kondisi seperti diabetes. Akan tetapi, lanjut dia, alasannya masih belum jelas, walaupun ada kemungkinan bahwa kurang tidur berisiko meningkatkan berat badan, yang pada akhirnya bisa meningkatkan risiko diabetes.
“Ada bukti bahwa kurang tidur mengundang hormon selera makan, jadi Anda selalu ingin makan, dan makan makanan yang salah, saat lelah kita cenderung mengkonsumsi makanan bergula.”
Tidur malam yang nyenyak, menurut Stanley, merupakan kebutuhan biologis.”Tubuh Anda ingin dan perlu tidur nyenyak setiap malam, dan jika Anda cukup istirahat, Anda akan bisa lebih aktif pada siang hari.”
10 Penyebab
Tubuh kita bagaikan sebuah celengan. Apa yang kita makan saat ini akan lambat laun ditimbun sebagai tabungan dalam tubuh yang hasilnya bisa kita rasakan sedikit demi sedikit, dalam jangka waktu yang relatif lama. Kita pun tak pernah menyangka, jika makanan yang kita minum, makanan yang kita makan, bahkan kebiasaan kita akan menjadi pemicu timbulnya sumber penyakit.
Berikut ini 10 kebiasaan kecil yang menjadi pemicu diabetes; (1). Teh manis.
Segelas the manis mengandung 250-300 kalori. Padahal kebutuhan kalori perempuan dewasa rata-rata adalah 1.900 kalori per hari. Inilah yang menyebabkan kadar gula darah melonjak tinggi. Belum risiko kelebihan kalori. Ujungnya: obesitas dan diabetes. (2). Makanan yang digoreng. Gorengan adalah salah satu faktor risiko tinggi pemicu penyakit degeneratif, seperti kardiovaskular, diabetes melitus, dan stroke. Penyebab utama penyakit kardiovaskular (PKV) adalah adanya penyumbatan pembuluh darah koroner, dengan salah satu faktor risiko utamanya adalah dislipidemia. Meningkatnya proporsi dislipidemia di masyarakat disebabkan kebiasaan mengonsumsi berbagai makanan rendah serat dan tinggi lemak, termasuk gorengan. (3.) Suka ngemil. Sepotong atau lebih biscuit untuk mengganti porsi makan bukanlah keputusan yang bijak. Jangan kira dengan mengganti porsi bisa menghindarkan diri dari obesitas dan diabetes. Sebab makanan pengganti seperti biskuit, keripik kentang, dan kue-kue manis lainnya mengandung hidrat arang tinggi tanpa kandungan serta pangan yang memadai. Semua makanan itu digolongkan dalam makanan dengan glikemik indeks tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang terkandung di dalamnya mempunyai peranan dalam menaikkan kadar gula dalam darah. (4). Kurang tidur. Jika kualitas tidur tidak didapat, metabolisme jadi terganggu. Hasil riset para ahli dari University of Chicago mengungkapkan, kurang tidur selama 3 hari mengakibatkan kemampuan tubuh memproses glukosa menurun drastis. Artinya, risiko diabetes meningkat. Kurang tidur juga dapat merangsang sejenis hormon dalam darah yang memicu nafsu makan. Didorong rasa lapar, penderita gangguan tidur terpicu menyantap makanan berkalori tinggi yang membuat kadar gula darah naik. (5.) Malas beraktivitas fisik. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kasus diabetes di negara-negara
Asia akan naik hingga 90 persen dalam 20 tahun ke depan. Kesimpulannya, mereka yang sedikit aktivitas fisik memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibanding mereka yang rajin bersepeda, jalan kaki, atau aktivitas lainnya. (6). Sering stres. Stres sama seperti banjir, harus dialirkan agar tidak terjadi banjir besar. Saat stres datang, tubuh akan meningkatkan produksi hormon epinephrine dan kortisol supaya gula darah naik dan ada cadangan energi
untuk beraktivitas. Tubuh kita memang dirancang sedemikian rupa untuk maksud yang baik. Namun, kalau gula darah terus dipicu tinggi karena stres berkepanjangan tanpa jalan keluar, sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan. (7). Kecanduan rokok. Sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan 4.572 relawan pria dan wanita menemukan bahwa risiko perokok aktif terhadap diabetes naik sebesar 22 persen. Disebutkan pula bahwa naiknya risiko tidak cuma disebabkan oleh rokok, tetapi kombinasi berbagai gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan dan olahraga. (8). Menggunakan pil kontrasepsi. Kebanyakan pil kontrasepsi terbuat dari kombinasi hormon estrogen dan
progestin, atau progestin saja. Pil kombinasi sering menyebabkan perubahan kadar gula darah. Menurut dr Dyah Purnamasari S, Sp PD, dari Divisi Metabolik Endokrinologi RSCM, kerja hormon pil kontrasepsi berlawanan dengan kerja insulin. Karena kerja insulin dilawan, pankreas dipaksa bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Jika terlalu lama dibiarkan, pankreas menjadi letih dan tidak berfungsi dengan baik. (9). Takut kulit jadi hitam. Menurut jurnal Diabetes Care, wanita dengan asupan tinggi vitamin D dan
kalsium berisiko paling rendah terkena diabetes tipe 2. Selain dari makanan, sumber vitamin D terbaik ada di sinar matahari. Dua puluh menit paparan sinar matahari pagi sudah mencukupi kebutuhan vitamin D selama tiga hari. (10). Keranjingan soda. Dari penelitian yang dilakukan oleh The Nurses’ Health Study II terhadap 51.603 wanita usia 22-44 tahun, ditemukan bahwa peningkatan konsumsi minuman bersoda membuat berat badan dan risiko diabetes melambung tinggi. Para peneliti mengatakan, kenaikan risiko itu terjadi karena kandungan pemanis yang ada dalam minuman bersoda. Selain itu, asupan kalori cair tidak membuat kita kenyang sehingga terdorong untuk minum lebih banyak. +++chris parera+++
Segelas the manis mengandung 250-300 kalori. Padahal kebutuhan kalori perempuan dewasa rata-rata adalah 1.900 kalori per hari. Inilah yang menyebabkan kadar gula darah melonjak tinggi. Belum risiko kelebihan kalori. Ujungnya: obesitas dan diabetes. (2). Makanan yang digoreng. Gorengan adalah salah satu faktor risiko tinggi pemicu penyakit degeneratif, seperti kardiovaskular, diabetes melitus, dan stroke. Penyebab utama penyakit kardiovaskular (PKV) adalah adanya penyumbatan pembuluh darah koroner, dengan salah satu faktor risiko utamanya adalah dislipidemia. Meningkatnya proporsi dislipidemia di masyarakat disebabkan kebiasaan mengonsumsi berbagai makanan rendah serat dan tinggi lemak, termasuk gorengan. (3.) Suka ngemil. Sepotong atau lebih biscuit untuk mengganti porsi makan bukanlah keputusan yang bijak. Jangan kira dengan mengganti porsi bisa menghindarkan diri dari obesitas dan diabetes. Sebab makanan pengganti seperti biskuit, keripik kentang, dan kue-kue manis lainnya mengandung hidrat arang tinggi tanpa kandungan serta pangan yang memadai. Semua makanan itu digolongkan dalam makanan dengan glikemik indeks tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang terkandung di dalamnya mempunyai peranan dalam menaikkan kadar gula dalam darah. (4). Kurang tidur. Jika kualitas tidur tidak didapat, metabolisme jadi terganggu. Hasil riset para ahli dari University of Chicago mengungkapkan, kurang tidur selama 3 hari mengakibatkan kemampuan tubuh memproses glukosa menurun drastis. Artinya, risiko diabetes meningkat. Kurang tidur juga dapat merangsang sejenis hormon dalam darah yang memicu nafsu makan. Didorong rasa lapar, penderita gangguan tidur terpicu menyantap makanan berkalori tinggi yang membuat kadar gula darah naik. (5.) Malas beraktivitas fisik. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kasus diabetes di negara-negara
Asia akan naik hingga 90 persen dalam 20 tahun ke depan. Kesimpulannya, mereka yang sedikit aktivitas fisik memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibanding mereka yang rajin bersepeda, jalan kaki, atau aktivitas lainnya. (6). Sering stres. Stres sama seperti banjir, harus dialirkan agar tidak terjadi banjir besar. Saat stres datang, tubuh akan meningkatkan produksi hormon epinephrine dan kortisol supaya gula darah naik dan ada cadangan energi
untuk beraktivitas. Tubuh kita memang dirancang sedemikian rupa untuk maksud yang baik. Namun, kalau gula darah terus dipicu tinggi karena stres berkepanjangan tanpa jalan keluar, sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan. (7). Kecanduan rokok. Sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan 4.572 relawan pria dan wanita menemukan bahwa risiko perokok aktif terhadap diabetes naik sebesar 22 persen. Disebutkan pula bahwa naiknya risiko tidak cuma disebabkan oleh rokok, tetapi kombinasi berbagai gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan dan olahraga. (8). Menggunakan pil kontrasepsi. Kebanyakan pil kontrasepsi terbuat dari kombinasi hormon estrogen dan
progestin, atau progestin saja. Pil kombinasi sering menyebabkan perubahan kadar gula darah. Menurut dr Dyah Purnamasari S, Sp PD, dari Divisi Metabolik Endokrinologi RSCM, kerja hormon pil kontrasepsi berlawanan dengan kerja insulin. Karena kerja insulin dilawan, pankreas dipaksa bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Jika terlalu lama dibiarkan, pankreas menjadi letih dan tidak berfungsi dengan baik. (9). Takut kulit jadi hitam. Menurut jurnal Diabetes Care, wanita dengan asupan tinggi vitamin D dan
kalsium berisiko paling rendah terkena diabetes tipe 2. Selain dari makanan, sumber vitamin D terbaik ada di sinar matahari. Dua puluh menit paparan sinar matahari pagi sudah mencukupi kebutuhan vitamin D selama tiga hari. (10). Keranjingan soda. Dari penelitian yang dilakukan oleh The Nurses’ Health Study II terhadap 51.603 wanita usia 22-44 tahun, ditemukan bahwa peningkatan konsumsi minuman bersoda membuat berat badan dan risiko diabetes melambung tinggi. Para peneliti mengatakan, kenaikan risiko itu terjadi karena kandungan pemanis yang ada dalam minuman bersoda. Selain itu, asupan kalori cair tidak membuat kita kenyang sehingga terdorong untuk minum lebih banyak. +++chris parera+++
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar