Yanti (19), “Terpeleset” Ke Dunia Hitam Karena Ortu Bercerai


Sergap NTT ONline -> Pengalaman pahit yang dialami Yanti —-nama samaran—- ini bisa dijadikan pelajaran bagi para orang tua agar selalu menjaga keharmonisan keluarga.  Ya… karena orang tua bercerai dan hidup di lingkungan pergaulan yang buruk, Yanti, gadis 19 tahun yang masih bersetatus sebagai pelajar itu terpeleset ke dalam lubang kemaksiatan. Ia akhirnya berkiprah sebagai wanita penghibur. Astaga!

Kulitnya hitam dengan beberapa bekas luka di kaki, Yanti sebetulnya (maaf) jauh dari cantik. Namun, dia punya kepercayaan diri tinggi terkait dengan pekerjaannya sebagai wanita panggilan. “Gini-gini banyak pria terpikat,” imbuhnya berpromosi sembari melepas tawa menggelegar.
Gaya bicara pelajar kelas III sebuah SMA partikelir di Kupang itu memang ceplas-ceplos, cenderung vulgar. “Bagi saya yang penting uang,” ujarnya sambil tertawa ngakak.
Benar saja, Sabtu malam lalu, Yanti terlihat sedang dipeluk mesra oleh seorang pria di sudut Bar di salah satu hotel di Kota Kupang. Perempuan yang indekos di kawasan Oesapa Kupang itu tampil bahenol dengan pakaian mini blus. Ia nampak menikmati pekerjaannya walaupun dikencani pria gosong.
Kisah mbeling Yanti diawali ketika orang tuanya bercerai lima tahun lalu. Kala itu, remaja berambut lurus sebahu itu masih duduk di bangku kelas II SMP. Kisah cinta orang tuanya membuat dia mulai tak betah tinggal di rumah. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan bermain bersama teman-teman. Bisa diduga, dia pun terbawa arus. Apalagi ketika ibunya menikah lagi dengan pria yang kini menjadi ayah tirinya. Dalam keadaan limbung, seorang teman menawari dirinya bertandang ke sebuah diskotik. Benar saja suasana diskotik ternyata membuat Yanti hilang sters. Ia mulai betah dengan hingar bingar diskotik. Pelan tapi pasti rokok dan minuman mulai menjadi teman setianya. Tak pelak gadis yang hampir tak punya pertahanan mental itu pun tergoda rayuan setan. Ia akhirnya terpeleset ke dalam dunia kemaksiatan. Ketika itu, Yanti masih duduk di kelas III SMP, usianya baru 16 tahun.
Setelah kencan pertama, Yanti sebetulnya tak langsung terjun sebagai wanita panggilan. Dia mengaku menjalani kehidupan normal seperti pelajar lainnya. Tapi lama-lama ia semakin tidak kerasan tinggal di rumah. Apalagi tinggal serumah dengan bapak tiri. Selidik punya selidik ternyata bapak tirinya itu sempat dua kali “menggoyang” Yanti ketika ibunya sedang tidak di rumah. Perilaku ayah tirinya itu benar-benar membuat Yanti terpukul. “Saya akhirnya memutuskan minggat dari rumah dan tinggal di kos-kosan,” ujarnya.
Hidup lepas dari pantauan orang tua membuat pergaulannya semakin bebas. “Akhirnya, saya diajak teman-teman kerja begini (wanita panggilan, Red),” kata pelajar jurusan IPA itu.
Selama ini, gerak-gerik Yanti di bawah koordinasi seorang makelar. Tarifnya berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu untuk sekali kencan. “Sebelum kencan kan tawar-menawar. Kalau lagi banyak uang, saya jual mahal. Kalau tidak Rp 500 ribu saya tidak akan mau. Tapi kalau lagi kere, 250 ribu atau 300 ribu juga saya mau,” katanya.
Kencan bisa dilakukan di mana saja. Bisa di hotel atau di rumah pembooking. “Pokoknya dibayar saya mau. Tidak peduli tua atau muda,” sergahnya.
Uang hasil pergumulan dengan tamu, kata Yanti, tak semua masuk kantong sendiri. Biasanya ia bagikan dengan bosnya. Kalau tarifnya Rp 500 ribu, Yanti dapat Rp 400 ribu, bosnya Rp. 100 ribu. “Yah.. hitung-hitung untuk uang jaga-jaga. Soalnya kalau saya sakit, yang biasa urus saya, itu bos saya. Termasuk masalah uang sekolah. Kalau saya lagi tak punya uang, bos saya yang biasa talangi,” bebernya.
Meski menjalani kehidupan kelam, Yanti tak mengesampingkan sekolah. Yanti tetap masuk sekolah. Jarang ia bolos. Kalau sakit atau capek, biasaya Yanti izin tidak masuk. “Kencannyakan tidak tiap hari. Seminggu paling dua hari atau tiga hari. Bahkan dalam seminggu kadang tidak ada tamu. Kan masih ada waktu untuk sekolah,” ucapnya.
Kata Yanti, koordinatornya punya banyak koleksi cewek lokal. Rata-rata ceweknya cantik dan seksi. Diantara koleksi itu ada beberapa yang masih bersetatus sebagai pelajar. Alasan hingga terjun ke dunia esek-esek pun bervariasi. Ada yang stres karena orang tua bercerai, ada yang stres karena sakit hati ditinggal pacar dan ada pula yang dililit masalah ekonomi. Karena itulah tak jarang Yanti bertindak sebagai makelar juga. “Kadang ada tamu yang minta cewek, saya punya kontaknya. Tinggal telepon saja. Saya dapat komisi,” ujarnya nyerocos.
Yanti mengaku, dia bisa dengan mudah mengidentifikasi pelajar yang punya sampingan sebagai wanita panggilan. Kata Yanti, pelajar plus-plus biasanya cukup glamor. Penampilannya khas, dua kancing baju atas dibuka, rok seragamnya pasti pendek, di atas dengkul. Dandanannya lebih menor dibanding kawan-kawannya. Satu lagi, mereka selalu pakai handphone seri terbaru dan suka jajan di sekolah. Padahal, keluarganya biasa-biasa saja.
“Kalau kaka ketemu pelajar yang seperti itu, selanjut tergantung anda bangun komunikasi,” katanya sambil tersenyum manja.
Boleh percaya, tidak pun boleh apa yang dikatakan Yanti. Namun sinyal ini jelas memberitahukan kepada para orang tua agar selalu memberikan perhatian serius terhadap anak gadisnya. +++chris parera+++

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.