Bagi masyarakat Sumba Tengah, NTT, kekerabatan adalah hal yang sangat penting. Demi menjaga kekerabatan, budaya kawin paksa pun diterapkan.
Tapi lama-lama ada motif ekonomi di balik budaya kawin paksa ini. Para perempuan yang jadi korban kawin paksa tak jarang juga menjadi korban kekerasan fisik. Kontributor Radio Nederland (KBR68H), Shinta Ardhany dibantu Reporter Doddy Rosadi berbincang dengan salah satu korban kawin paksa yang hingga kini masih trauma.
Dihadang di jalan
Laju sepeda motor kami berhenti di tengah jalan. Kami tengah mencari rumah Intan Rambu Dauki, perempuan dari Desa Makatekeri, Sumba Tengah, yang menjadi korban penculikan dan kawin paksa.
Sungguh kebetulan, laki-laki yang kami temui di tengah jalan itu adalah paman Intan. Namanya Dominggus. Ia adalah satu-satunya saksi mata saat Intan diculik.
Dominggus: “Kita mau keluar pi pasar mereka datang dari sana, saya pikir orang dari sawah, begitu orang langsung palang saya. Saya tidak bisa lewat lagi, dorang langsung ambil. Ada berapa orang pelaku? Tak sampai sepuluh. lima sampai enam orang. Mas ikut bantu? Mau ke luar. Saya paman Intan. Saya boncengin Intan, mereka tangkap bawa lari. Banyak orang laki-laki semua. Intan nangis-nangis.”
Rumah Intan
Dominggus lantas membawa kami menuju rumah Intan. Jalan menuju rumah Intan belum beraspal, masih berupa jalan kampung berupa tanah dan berbatu. Di kiri kanan terhampar persawahan. Setelah perjalanan 15 menit, kami tiba di rumah keluarga Intan.
Rumah keluarga Intan berupa rumah panggung dengan atap alang-alang, di bagian bawah untuk kandang babi. Dindingnya dari anyaman bambu atau gedek. Begitu masuk ke dalam rumah terasa gelap, karena tak ada ventilasi yang memadai. Juga tak ada listrik. Penerangan hanya mengandalkan lampu teplok. Di dalam rumah tak terlihat barang mewah.
Rumah ini tampak mencolok dibandingkan rumah-rumah warga Sumba yang lain. Meski sama-sama berbentuk rumah panggung, namun rumah-rumah lain sudah memakai atap genteng atau seng, sudah ada listrik, sementara di bagian bawah rumah bersih, tak lagi jadi kandang babi.
Penculikan Intan
Intan dan keluarga tinggal di Desa Makatekeri, Kecamatan Katikutana, Sumba Tengah. Sekitar dua kilometer dari pusat kota Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur. Nama Intan mulai sering dibicarakan masyarakat setelah kasus kawin paksa dan penculikan yang dialaminya disiarkan di Radio Gogali, satu-satunya radio di Sumba Tengah.
Saat itu akhir Desember 2008. Intan diculik siang hari, ketika Intan sedang berboncengan motor bersama pamannya Dominggus untuk pergi ke pasar. Di tengah jalan mereka dihadang enam laki-laki yang langsung mencekal dan mengangkut Intan dari atas motor. Ini cerita versi Intan, yang sudah kembali dari Malaysia.
Intan Rambu Dauki: “Saya lagi jalan, lepas itu mereka langsung tahan motor saya, mereka langsung tangkap saya, lepas itu mereka bawa pergi saya ke rumah mereka. Itu bukan jodoh saya. Saya tidak mau dikawin paksa.”
Keluarga penculik
Para penculik Intan ini adalah keluarga laki-laki yang menginginkan Intan menjadi istrinya. Ini berdasarkan perjanjian di masa lalu, ketika Intan masih kecil, keluarga Intan dan keluarga laki-laki ini akan saling menjodohkan anak mereka.
Intan lantas dibawa ke rumah keluarga laki-laki, di Desa Laimerang, berjarak sekitar tiga kilometer dari desa Intan. Intan terus menangis, tak mau dibawa masuk ke dalam rumah.
Intan Rambu Dauki: “Bisa lepas? Bantuan polisi dan pemerintah dan bapak Umbu Lane. Saya dibawa lari, mereka tak mau lepaskan. Mereka terus bawa saya ke kampung. Sodara lapor polisi, polisi turunkan kembali.”
Tolak kawin paksa
Orangtua Intan mengaku tak lagi ingin memaksakan anaknya menikah dengan laki-laki yang tak dicintai. Perjanjian kawin paksa yang mereka sepakati dulu dengan keluarga laki-laki yang masih terhitung saudara, dibatalkan sepihak. Ibu Intan, Rambu Mura Guna, tak ingin anaknya menikah dengan seseorang tanpa cinta.
Rambu Mura Guna: “Kenapa nolak? Sekarang bukan jaman memaksa ibu. Persetujuan laki-laki dan perempuan macam kami saja orang tua tidak ada.”
Ayah Intan, Umbu Yora Sabatundung juga tak mau dianggap mencari keuntungan dengan mengawinkan paksa anaknya.
Umbu Yora Sabatudung: “Macam sekarang omong pendek karena lapar. Tidak mau jual anaknya. Biar tidak ada hewan tergantung anaknya laki-laki dan perempuan. Kalo setuju antara dua bisa juga, kalo tidak, tidak juga harus turun kembali juga. Kami ini punya anak jangan sampai ini saya punya ibu bapak yang pergi jual.”
Pelestarian hubungan keluarga
Kawin paksa adalah tradisi masyarakat Sumba yang sudah berlangsung dari generasi ke generasi. Tokoh perempuan Sumba Tengah Maria Rambu Kawurung mengatakan, dulu tradisi ini dipakai untuk melekatkan hubungan keluarga. Perkawinan dilakukan antar saudara, yang masih satu garis keturunan.
Maria Rambu Kawurung: “Yang dikawinkan anak tante kita harus iya dengan anak om, sodara tapi wajar. Tidak bisa kawin paksa yang tidak ada hubungan anak om? Tidak bisa. Agar apa? Agar hubungan tetap berlanjut terus tidak putus. Perjodohan antar keluarga yang sudah punya garis keturunan kalo di luar itu tidak bisa.”
Rambu Legi Nguju, warga Desa Makatekeri, pernah melakukan praktik kawin paksa ini untuk anaknya. Tahun 1990-an, ia mengawinkan anak laki-lakinya dengan perempuan yang masih kerabat jauh. Sebelumnya kedua keluarga sudah punya kesepakatan.
Rambu Leki Nguju: “Sudah ada perjanjian? Iya. [bicara dengan bahasa Bahasa daerah] Sudah perjanjian memang. Dengan om. Kenapa buat perjanjian. Supaya tidak diambil laki-laki lain. Dibawa lari atas persetujuan keluarga. Dorang sudah berencana. Tidak bisa batal bawa lari dorang Ada memang kita punya perjanjian karena kita bersaudara. Saya kasi saya punya anak saya ingat saya punya sodara perempuan.”
Untuk proses kawin paksa ini, dia memberikan mas kawin berupa belasan ekor kuda dan kerbau senilai 30 juta rupiah.
Rambu Leki Nguju: “Bawa hewan berapa? 15 ekor, kerbau, kuda dan 1 ekor babi. Dikasi ke pihak perempuan. Karena kawin paksa, karena bawa lari. Tidak mau anak milih anak lain? Tidak mau. Dorang sudah berencana. Tidak bisa batal bawa lari dorang.”
Kekerasan fisik
Kekerasan secara fisik pun bisa terjadi jika ada yang menolak dikawinkan secara paksa. Perempuan yang menolak kawin paksa, misalnya, bisa diteror, ditangkap dan diculik. Seperti yang terjadi pada Intan, kata tokoh masyarakat Sumba Tengah Umbu Lane.
Umbu Lane: “Tapi karena diteror begitu saya, tidak mau, karena diculik diangkat dipikul tidak mau, macam babi bawa lari ke rumah laki-laki, sebagai masyarakat tidak setuju penculikan seolah pemerkosaan. Kalo cara baik bawa sirih pinang dulu, mau dengan mau ya OK. Ini tidak ada komunikasi, diculik, angkat. Karena rasa kasian kita ambil alih.”
Penangkapan terhadap calon mempelai korban kawin paksa kadang diketahui, juga direstui kedua keluarga. Koordinator LSM Wahana, yang mendampingi perempuan korban kawin paksa Sumba Tengah, Farida Paduleba.
Farida Paduleba: “Ketika ada perundingan yang jelas antara bapa dan calon suami maka akan ada satu waktu yang ditentukan kapan dan di mana cara tangkapya. Ketika tangkapnya, di mana, di pasar. Mungkin hari Rabu, perempuan ke pasar dan perampasan di pasar, laki-laki siapakan bemo dari laki-laki mengoper. Perempuan jatuh sarungnya dipaksa betul-betul. Kalo sampai di rumah suaminya, dia makan atau tidak, dia dikurungkan.”
Pria tolak kawin paksa
Kalaupun kawin paksa tetap terjadi, tak hanya si perempuan yang tersiksa, tapi juga si laki-laki. Carles Kaseduk, warga Anakalang, Sumba Tengah, menikah dengan istrinya secara paksa pada 1986.
Carles Kaseduk: “Kawin paksa. Kalo berfikir positif sangat tidak bermoral tidak beretika. Saat itu lingkungan berpengaruh masi terikat dengan budaya. Caranya? Dalam suatu musyawarah keluarga. Saya pelaku. Mengapa? Satu kebudayaan. Dan pilihan sendiri. Tidak ada alternatif lain selain bawa lari. Seakan kalo tidak lakukan itu. Macam kompetisi. Antar laki-laki.”
Andreas Sabaora, tokoh adat di Sumba Tengah, menekankan, tak ada yang diuntungkan dengan adat kawin paksa. Mereka pasti menderita batinnya, kata dia.
Andreas Sabaora: “Penderitaan korban kawin paksa? Batin. Karena cinta tidak tumbuh dari dalam. Dia hanya mau menerima kenyataan. Hanya karena tenggang rasa dengan bapak mamanya.”
Terbukti pada Intan Rambu Dauki, salah satu korban kawin paksa. Meski kejadian sudah setengah tahun berlalu, Intan mengaku masih trauma.
Intan Rambu Dauki: “Masi takut? Takut seh, pulang dari malaysia dua minggu lebih sekarang saya masi takut ada orang yang buat seperti dulu lagi, saya takut.” (by.chris parera/ KBR68H)
Laju sepeda motor kami berhenti di tengah jalan. Kami tengah mencari rumah Intan Rambu Dauki, perempuan dari Desa Makatekeri, Sumba Tengah, yang menjadi korban penculikan dan kawin paksa.
Dominggus lantas membawa kami menuju rumah Intan. Jalan menuju rumah Intan belum beraspal, masih berupa jalan kampung berupa tanah dan berbatu. Di kiri kanan terhampar persawahan. Setelah perjalanan 15 menit, kami tiba di rumah keluarga Intan.
Intan dan keluarga tinggal di Desa Makatekeri, Kecamatan Katikutana, Sumba Tengah. Sekitar dua kilometer dari pusat kota Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur. Nama Intan mulai sering dibicarakan masyarakat setelah kasus kawin paksa dan penculikan yang dialaminya disiarkan di Radio Gogali, satu-satunya radio di Sumba Tengah.
Para penculik Intan ini adalah keluarga laki-laki yang menginginkan Intan menjadi istrinya. Ini berdasarkan perjanjian di masa lalu, ketika Intan masih kecil, keluarga Intan dan keluarga laki-laki ini akan saling menjodohkan anak mereka.
Orangtua Intan mengaku tak lagi ingin memaksakan anaknya menikah dengan laki-laki yang tak dicintai. Perjanjian kawin paksa yang mereka sepakati dulu dengan keluarga laki-laki yang masih terhitung saudara, dibatalkan sepihak. Ibu Intan, Rambu Mura Guna, tak ingin anaknya menikah dengan seseorang tanpa cinta.
Ayah Intan, Umbu Yora Sabatundung juga tak mau dianggap mencari keuntungan dengan mengawinkan paksa anaknya.
Kawin paksa adalah tradisi masyarakat Sumba yang sudah berlangsung dari generasi ke generasi. Tokoh perempuan Sumba Tengah Maria Rambu Kawurung mengatakan, dulu tradisi ini dipakai untuk melekatkan hubungan keluarga. Perkawinan dilakukan antar saudara, yang masih satu garis keturunan.
Kekerasan secara fisik pun bisa terjadi jika ada yang menolak dikawinkan secara paksa. Perempuan yang menolak kawin paksa, misalnya, bisa diteror, ditangkap dan diculik. Seperti yang terjadi pada Intan, kata tokoh masyarakat Sumba Tengah Umbu Lane.
Kalaupun kawin paksa tetap terjadi, tak hanya si perempuan yang tersiksa, tapi juga si laki-laki. Carles Kaseduk, warga Anakalang, Sumba Tengah, menikah dengan istrinya secara paksa pada 1986.
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar