Sumba Timur Miskin Karena Budaya


SERGAP NTT -> Tradisi masyarakat Sumba Timur  yang mengorbankan ternak dalam jumlah besar pada saat upacara adat, seperti saat kematian dan perkawinan, dinilai sebagai salah satu faktor penyebab kemiskinan di daerah itu.
Tanpa mengurangi nilai budaya yang ada, tradisi penyembelihan hewan dalam jumlah besar dalam setiap acara adat harus dikurangi atau diatur oleh pemerintah daerah. Wacana ini muncul dalam Rapat Kerja (raker) Pamong Praja Kabupaten Sumba Timur.
Penilaian tentang budaya sebagai salah satu fakor pemiskinan masyarakat di Kabupaten Sumba Timur pertama kali diangkat  oleh Camat Haharu, Marius Kura Maki, S.Sos. Marius meminta agar tradisi penyembelihan hewan pada saat upacara adat seperti kematian atau perkawinan harus diatur oleh pemerintah daerah melalui peraturan daerah termasuk sanksi kepada yang melanggar.
Anis, seorang warga Desa Lambakara, Kecamatan Pahunga Lodu membenarkan kalau tradisi penyembelihan hewan dalam jumlah besar yang memicu tingkat kesengsaraan dan kemiskinan rakyat Sumba Timur.
“Karena budaya itu sangat membebani rakyat,” ujarnya.
Karena itu, dia meminta pemerintah daerah segera mengatur kembali mekanisme termasuk jumlah hewan yang dipotong dalam setiap upacara penguburan melalui sebuah peraturan daerah (perda).
Selain itu, Pemkab dan DPRD Sumba Timur segera membuat aturan tentang penertiban ternak. Karena ternak di Sumba Timur saat ini dilepas oleh pemiliknya hingga berkeliaran dan merusak tanaman pertanian milik masyarakat.
Selama ini, kata dia, ada sejumlah desa telah membuat peraturan penertiban ternak, namun peraturan tersebut tidak efektif, karena sebagian besar ternak yang berkeliaran itu milik  orang besar, seperti pejabat atau bangsawan.

Masalah ketidaktertiban ternak ini juga sebenarnya terjadi di Kota Waingapu, Ibukota Kabupaten Sumba Timur, dimana hewan seperti kambing, babi dan ayam berkeliaran di jalan-jalan protokol, bahkan di halaman kantor-kantor pemerintahan. Hm,,,,! Sudah menjadi pemandangan wajib setiap hari,,,! (by. Chris parera/pos kupang) 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.