Wangge – Mochdar “Retak”


SERGAP NTT -> Hubungan Drs. Don Bosco M. Wangge alias Don Wangge dan Drs. Achmad Mochdar alias Mad Mochdar dikabarkan sedang renggang. Keretakan Bupati dan Wakil Bupati Ende periode 2009-2014 itu disebut-sebut dipengaruhi pembagian dan pengelolaan proyek yang didominasi Don Wangge. Sudah begitu, jabatan eselon II dan III pun lebih banyak ditempati kader-kader besutan Don Wangge. Bisa benar-bisa juga tidak. Tapi yang pasti, rumor beredar kencang kalau hubungan Don Wangge dan Mad Mochdar sedang retak alias kurang harmonis. Hmm…!!!
Kebersamaan dalam kekuasaan politik ternyata tak selalu langgeng. Tegur sapa saat lamar melamar jadi calon bupati dan wakil bupati seakan hanya intrik memuluskan langkah menuju gelanggang kekuasaan. Setelah kursi panas diduduki, teman pun disikut agar pergi menjauh. Perasaan jadi tipis. Ketersinggungan jadi yang terdepan tatkala pasangan berbuat kilaf. Kasih tak lagi punya madu. Racun siap merasuk sanubari yang serakah. Duh…! Kenapa kebanyakan pemimpin kita selalu bertengkar hanya karena barang yang tak dibawa mati. Syukur kalau mati dipangku keluarga. Tapi kalau mati dilaut lepas lalu disantap biota laut? Apa yang mau dibawa menghadap sang Khalik.
Minggu kemarin saya berkesempatan menyinggahi Ende. Disana saya bertemu dengan beberapa politisi, pejabat pemerintah dan pengusaha. Dari mulut mereka terbesit kabar kalau Don Wangge dan Mad Mochdar sudah seperti tak pernah saling kenal. Padahal kebersamaan mereka dulu sangat disenangi warga Ende. Terbukti paket Don Wangge-Mad Mochdar mampu mendulang suara 54.845 atau 41,96 persen dari total suara sah sebanyak 130.695.
Sebelum petaka komunikasi mendera, Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya juga mengakui kekompakan Don Wangge dan Mad Mochdar. Karena itu, saat melantik keduanya sebagai Bupati dan Wakil Bupati, Lebu Raya sempat berpesan; pimpinlah warga Ende dengan cinta. Karena lewat pilihan politik, warga Ende telah menyatakan cinta mereka kepada yang dipilih. Jalani kebersamaan hidup dengan kasih. Karena hidup tanpa kasih bagaikan sayur tanpa garam.
Dari nasehat Lebu raya ini setidaknya tergores harapan agar dalam kebersamaan, Don Wangge dan Mad Mochdar mampu bekerjasama mengurus masyarakat Ende, yang mayoritas masih terperangkap dalam kerangkeng kemiskinan.  
Kata Lebu Raya, cinta itu tumbuh dalam nurani, dibingkai dalam kepercayaan yang kemudian diungkapkan melalui pilihan politik. Pilihan ini mengingatkan bahwa masyarakat sedang menunggu dan selalu menerima perhatian dari bupati dan wakil bupati.
Warga Ende tentu berharap, pemimpin yang mereka pilih mampu membawa perubahan yang lebih baik. Setidaknya akses masyarakat terhadap transportasi makin baik. Makin banyak jalan yang dirintis dan kualitasnya meningkat. Banyak sarana irigasi, sarana kesehatan, dan pendidikan dibangun lebih serius dan bermutu. Akses pasar makin terbuka dan harga komoditas lebih berdaya saing.
Nelayan di pesisir tidak pernah lagi gelisah soal ketersediaan dan keterjangkauan BBM untuk melaut. Pelaku bisnis mendapat perhatian, kepedulian dan kepastian pelayanan administratif. Proses tender dan lelang pengadaan barang dan jasa lebih transparan.
Bagi Lebu Raya, momentum pelantikan Don Wangge dan Mad Mochdar sebagai Bupati dan Wakil Bupati  terasa istimewa karena bertepatan dengan pekan suci menyambut perayaan Paska. Bagi umat Katholik, Paska adalah pesta kemenangan dan kegembiraan.
Suasana batin ini hendaknya jadi kekuatan moral untuk membimbing perjalanan kepemimpinan. Jabatan yang ditahtakan rakyat tidak untuk dibanggakan apalagi diselewengkan. Jabatan harus bermuara pada tugas perutusan. Jabatan harus tetap berbingkai kesederhanaan, kerendahan hati, pelayanan dan syukur, walau untuk itu dituntut pengorbanan sebagaimana misteri salib itu sendiri. Kegembiraan ini harus pula dirasakan oleh masyarakat dengan pertumbuhan ekonomi yang makin baik. Reformasi birokrasi untuk meningkatkan pelayanan birokrasi. Kelolalah perjalanan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan dengan cinta yang sama hangatnya. Cinta yang meneguhkan kebersamaan untuk sehati sesuara membangun Ende.
Untuk apa bertengkar? Untungnya apa? Apalagi masalah pokok belum terselesaikan. Kalau tak salah, ada tiga problem utama yang dihadapi warga Ende, yakni; kemiskinan yang meningkat dari tahun ke tahun, rendahnya mutu pendidikan, dan rendahnya derajat kesehatan masyarakat.  Penyebab tiga masalah ini adalah salah urus yang dilakukan birokrasi.
Dulu… dipenghujung Pilkada, anda berdua sepakat untuk membangun Ende dengan mulai menata pemerintahan yang baik (good governance), memberantas KKN, meningkatkan kualitas pelayanan publik, dan mendorong partispasi masyarakat dalam pembangunan.
Untuk menata pemerintahan, seharusnya secepat mungkin mereformasi birokrasi melalui perampingan organisasi agar lebih efisien serta meninjau kembali mutasi dan promosi jabatan aparatur. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, optimalkan unit pelayanan satu atap. Pada jalur kultural, kembangkan budaya pemerintahan saate atau sehati yang juga merupakan akronim dari selaras (dengan Tuhan, alam, sesama), akal budi luhur dan percaya diri, serta teladan dan keteladanan.
Sasarkan dari semua ini adalah perubahan etos birokrasi dari birokrasi yang dilayani menjadi birokrasi yang melayani dan mempunyai kinerja yang baik. Kepuasan Masyarkat adalah Kunci Keberhasilan Birokrasi.
Kerja sama, demi keluhuran maknanya, tidak boleh menjadi persekongkolan. Yang baik kita puji. Yang buruk kita kritik. Ini salah satu bentuk partisipasi dalam pembangunan. Lalu kenapa mesti retak? Semoga saja isu keretakan ini hanya isapan jempol belaka. (by. Chris Parera)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.