SERGAP NTT -> Sejumlah ruas jalan propinsi di bagian Selatan maupun Utara Pulau Flores kini dalam kondisi memprihatinkan. Akibatnya roda ekonomi masyarakat Flores pun tersendat. Persoalan ini telah disampaikan kepada Pemerintah Propinsi (Pemprop) Nusa Tenggara Timur, tapi hingga kini solusinya belum juga turun. Apa sebab?
Kamis (10/2/11) lalu sebuah truck yang dipenuhi muatan beras berjalan pelan menerobos lumpur, lubang dan bebatuan di ruas jalan propinsi Bajawa – Riung. Seorang ibu yang duduk persis disamping sopir tampak ngomel-ngomel, “Ini pemerintah mata sudah buta barangkali. Jalan seperti ini koq belum juga diperbaiki”. Ungkapan spontan si ibu tersebut menggugah awak Berita 7 untuk mengitari Kabupaten Ngada dan Nagekeo. Hasilnya? Selain jalan Bajawa – Riung, kondisi jalan rusak juga terdapat di ruas jalan yang menghubungkan Riung – Mbay dan Mbay – Wolowae – Maukaro (Kabupaten Ende). Kondisi ini tentu saja berpengaruh pada kelancaran roda perekonomian masyarakat setempat. Sebut saja Wolowae. Wolowae adalah sebuah kecamatan di kabupaten Nagekeo yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Ende. Secara topografi wilayah ini berada di ketinggian 2500 meter diatas permukaan laut. Potensi alam cukup menjanjikan. Sebagian besar penduduknya hidup sebagai petani ternak dan petani garam. Sayangnya untuk sampai ke Wolowae, pembeli ternak atau garam harus siap ‘patah pinggang’. Hal ini karena kondisi jalan yang berlubang dan berbatu.
“Kami disini sengsara pak. Mau jual ternak susah. Mau jual garam susah. Habis… jalannya model begini. Karena kondisi jalan rusak seperti ini, tarif angkutan jadi naik 100 persen. Karena itu, yah… terpaksa kami tunggu pembeli disini. Harga ternak atau garam kami terpaksa sesuaikan dengan harga pembeli. Biasanya satu sokal garam kalau kami jual sendiri ke pasar Mbay, atau Bajawa, atau ke Ende harganya berkisar Rp. 3000 – 5000 per sokal. Tapi karena ongkos transportasi naik, ya… terpaksa kami jual saja disini dengan harga Rp. 1000 per sokal,” ujar Markus, salah seorang petani garam di Wolowae.
Keluhan yang sama juga disampaikan para petani ternak. Hewan seperti kerbau, sapi, kuda dan kambing terpaksa dijual dengan harga murah karena mereka tak mampu membiayai ongkos transportasi.
“Gara-gara jalan rusak, semua harga hewan dan komoditi lain seperti kopi, kakao, kemiri, kopra dan cengkeh ikut melorot. Untuk itu kami minta pemerintah segera perbaiki jalan ini,” pinta Manager UD Bina Tani, Mansur Ratang.
Kepada Berita 7, Mansur mengatakan, selain jalan propinsi, banyak juga jalan kabupaten yang belum diperbaiki seperti yang terlihat di ruas jalan Boawae – So’a. Untuk itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) juga diharapkan proaktif menanggulangi kondisi jalan yang rusak.
Komentar Mansur diamini Abdul Asis. Pembeli hewan asal Jeneponto (Sulawesi) ini mengaku sangat kerepotan bila ingin memberangkatkan hewan dari So’a atau dari Wolowae ke Mbay menggunakan mobil truck. Kondisi jalannya sangat tidak mendukung.
“Karena jalan rusak seperti ini, kita akhirnya tidak bisa kejar waktu. Sering saya tidak dapat kapal hanya karena kelamaan di jalan. Biasanya hewan saya beli dari So’a, Riung dan Kaburea (Wolowae). Sekali jalan biasanya saya dapat 50 sampai 100 ekor terdiri dari kerbau dan sapi. Ini kemudian diberangkatkan ke Jeneponto via dermaga Marpokot (Mbay). Kondisi jalan ini, sering membuat saya merugi,” papar Asis.
Kondisi jalan juga dikeluhkan Mias Puta (35). Pengemudi trevel yang biasa melayani wisatawan asing itu mengaku dirinya sangat kesulitan saat melintasi di ruas jalan Bajawa –Riung.
“Jalan Bajawa – Riung rusak berat pak. Mobil kecil seperti Avansa, Kijang atau Terano jangan harap bisa tembus. Selain kondisinya rusak, di ruas jalan itu banyak terdapat lubang-lubang besar seukuran kubangan kerbau. Bahkan di tempat-tempat tertentu ada bagian-bagian jalan yang tergerus air hingga kedalamannya mencapai setengah meter. Karena itu, sekarang ini kalau ada turis yang mau pake oto ke Riung, saya tidak mau lagi lewat jalan Bajawa – Riung. Kalau lewat Mbay saya masih mau. Tentu harganya sedikit lebih tinggi. Kalau si turis keberatan, yah… stop jalanlah…,” tandasnya.
Yang pasti, lanjut Puta, kondisi jalan ini membuat roda perekonomian keluarganya macet. Kalau dulu ia biasa melayani turis sebanyak empat kali dalam seminggu, kini paling banyak dua kali saja. Itu pun tidak setiap minggu. Karena banyak turis yang mengalihkan perjalanan wisatanya ke Pulau Komodo (Kabupaten Manggarai Barat).
***
*Drs. Paulus Soliwoa: Kerusakan Sudah Disampaikan Ke Propinsi*
Wakil Bupati Kabupaten Ngada, Drs. Paulus Soliwoa mengaku, kerusakan jalan propinsi yang terjadi di ruas jalan Bajawa – Riung dan Riung – Mbay sudah disampaikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada ke Pemerintah Propinsi (Pemprop) Nusa Tenggara Timur melalui Subdin Bina Marga Dinas Kimpraswil Propinsi NTT.
“Masalah jalan sudah kami sampaikan ke Pemerintah Propinsi. Itu bukan hanya jalan Bajawa – Riung, tapi jalan-jalan propinsi lain yang ada di Kabupaten Ngada juga sudah disampaikan ke propinsi. Terutama jalan-jalan yang kondisinya rusak berat. Kita harapkan tahun ini ada perbaikan. Paling tidak ada bantuan darurat untuk perbaiki face atau struktur jalan yang rusak. Setelah itu baru disusul dengan upaya peningkatan jalan,” ujar Soliwoa. (by. chris parera)
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar