sergapntt.com [Kabupaten Kupang] -> Dinamika kehidupan bermasyarakat dan bergereja menunjukan masih banyak umat yang kehilangan identitas, kehilangan citra dan cita, hanya dewasa dalam beragama tetapi dangkal dalam iman dan perbuatan; hanya mementingkan kepuasan diri, sehingga diperlukan adanya kerendahan hati, pertobatan dan pengampunan, kesejukan bathin menerima anugerah dan berkat Tuhan.
Demikian dikatakan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L. Foenay, M.Si dalam sambutannya pada acara kebaktian syukuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke 50 Gereja GMIT Oemathonis Nait Jemaat Wilayah Oenesu Klasis Kupang Barat Kabupaten Kupang Provinsi NTT, pada Sabtu (3/9/11).
Hadir pula Wakil Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Boby Litelnoni, STh, M.Th, Kepala Badan Arsip Provinsi NTT, Ir. Fredik Tielman, Kadis Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT, Drs. Yosep Lewokeda dan sejumlah pimpinan SKPD lingkup Pemerintah Kabupaten Kupang serta sejumlah pendeta yang berasal dari Klasis Kupang Barat dan sekitarnya.
Karena kedangkalan iman tersebut, Wagub mengajak agar warga jemaat untuk tetap berterima kasih kepada Tuhan dengan doa yang jelas sehingga tetap adanya perhatian, perenungan dan penghayatan terhadap beban kemanusiaan dan beban kemasyarakatan yang berlandaskan iman, pengharapan dan kasih.
”Peristiwa HUT Emas Gereja Oemathonis Nait ini menempatkan sekaligus merefleksikan diri untuk meneladani nilai-nilai dan sikap kemanusiaan Yesus Kristus dan menyadarkan kita sekalian untuk adanya tanggungjawab rohani, tanggung jawab moral dan tanggung jawab kemasyarakatan khususnya sebagai warga kristiani dengan berbuat secara nyata dalam meningkatkan kualitas kehidupan sesuai pancaran keteladanan Yesus Kristus agar berguna dan bermanfaat bagi banyak orang,” tandasnya.
Keberadaan Gereja GMIT Oemathonis Nait, lanjut Wagub, terhitung sejak 3 September 1961 silam, merupakan salah satu pilar rohani dan instrumen spiritual yang memberikan daya dorong tersendiri dalam upaya dan usaha mengatasi berbagai pergumulan hidup masyarakat khususnya warga gereja baik secara pribadi maupun kelompok.
”HUT Emas Gereja dan jemaat Oemathonis Nait ini juga memberikan perenungan kepada kita sebagai warga jemaat untuk dapat membaca kehidupan kita, baik secara pribadi, keluarga maupun kemasyarakatan dalam dimenasi relasinya dengan Allah Yang Maha Kuasa, dengan sesama dan dengan lingkungan kehidupannya,” kata Wagub dan menambahkan, ”Syukuran ini merupakan sebuah pembuktian betapa penyertaan Tuhan yang sangat luar biasa.”
Di tempat yang sama, Wakil Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Boby Litelnoni, STh, M.Th dalam suara gembalanya mengatakan, tantangan iman jemaat di masa mendatang bukan terletak pada kemegahan gedung gereja tetapi pada kualitas iman warga jemaat. ”Karena itu, saya berharap agar para pendeta dan jemaat di sini memperhatikan kualitas iman jemaat. Kalau anak minta beli buku sekolah, terkadang orang tua katakan uang tidak ada. Tetapi kalau mau beli parabola untuk nonton sinetron, itu ada uang,” ucap Pdt. Boby, sekadar memberi contoh. (by. ferry guru)
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar