sergapntt.com [Kupang] -> Kekeringan yang melanda kawasan Nusa Tenggara Timur mulai berdampak pada warga. Ratusan keluarga di Desa Uluwae, Kecamatan Bajawa Utara, Kabupaten Ngada mengaalami kelaparan hebat. Mereka tak memiliki sumber makanan karena gagal panen. Satu-satunya makanan yang disantap untuk bertahan hidup adalah ubi hutan. Itupun harus sigap berlomba dengan babi hutan.
Sudah tiga bulan terakhir warga translok Uluwae kesulitan mendapat pasokan makanan. Segala upaya telah dilakukan, tapi hingga kini belum ada yang peduli. Pemerintah pun terkesan cuek. Buktinya, hingga kini pemerintah belum juga mengirim bantuan bagi 720 jiwa tersebut.
“Kami belum kirim bantuan,” ujar Kepala Dinas Sosial Provinsi NTT, Piter Manuk kepada wartawan di Kupang, Selasa, (6/9/11).
Menurut dia, pemerintah masih akan menggelar rapat koordinasi untuk memastikan bencana rawan pangan itu. Tak hanya Ngada, daerah lain di NTT yang juga mengalami gagal panen yakni Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Sumba Timur, Flores Timur, Belu, Timor Tengah Utara (TTU), dan Lembata.
Sungguh ironis. Disaat warga sangat membutuhkan bantuan makanan, pemerintah justru terus menggelar rapat, rapat dan rapat. Hampir setiap hari selalu rapat dan bahas isu kelaparan. Sayangnya, keputusan belum juga didapat.
“Kita masih akan gelar rapat koordinasi membahas soal kelaparan di sejumlah daerah itu, termasuk Uluwae,” katanya.
Stefanus (43), salah seorang tokoh masyarakat Translok Uluwae sangat menyayangkan sikap lamban yang ditunjukan oleh pemerintah, baik kabupaten maupun provinsi yang diarsiteki Drs. Frans Lebu Raya dan Ir. Esthon Foenay, M.Si.
Stefanus (43), salah seorang tokoh masyarakat Translok Uluwae sangat menyayangkan sikap lamban yang ditunjukan oleh pemerintah, baik kabupaten maupun provinsi yang diarsiteki Drs. Frans Lebu Raya dan Ir. Esthon Foenay, M.Si.
“Seharusnya pemerintah peka terhadap situasi dan kondisi ini. Apa masyarakat mati dulu baru kasi itu bantuan. Ah,,, birokrat ini selalu bertele-tele,,,” ketusnya.
Saat menemui Sergap NTT di Bajawa pada Selasa (6/9/11) pagi, Stefanus tampak lesu. Bibirnya kering dibalut belahan-belahan yang dikerubuti kulit bibir yang terkelupas. Jalannya tak segagah umurnya.
“Saya hanya mau minta tolong, via media ini pemerintah bisa dengar keluh kesah kami. Karena sekarang,,,,,,! Kami disini harus berebut ubi dengan babi. Kalau tidak begitu,,,, mau bagaimana lagi,,,,” imbuhnya, lirih. (by. jose/etus)
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar