TKW Asal Bajawa Dijadikan Pelacur Di Malaysia


sergapntt.com [KUALA LUMPUR] -> Mengadu nasib di negeri orang tidaklah selalu menyenangkan. Banyak TKI bernasib malang di luar negeri, meskipun diakui tidak sedikit pula yang berhasil alias sukses membawa pulang jutaan rupiah. Nasib yang dialami Eta (20), Sonya (22)  dan Ansi (28) bisa menjadi contoh.
Kemarin sore, Eta tampak duduk termenung. Pandangannya kosong. Ia seakan tengah merenungi nasib malang yang tengah menimpanya di luar negeri. Harapan untuk memperoleh gaji yang besar sebagai TKI di Malaysia pupus. Keinginannya mendapatkan lembaran uang ringgit Malaysia pun tinggal impian. Wanita belum berkeluarga itu mengaku berasal dari Bajawa, NTT. Pada 2008 silam, ia mendapat informasi tentang lowongan kerja di Malaysia dari Herman. Laki-laki asal Bajawa itu pula yang kemudian memberangkatkan Eta ke Malaysia.
Informasi yang diperoleh Eta, Herman adalah seorang penyalur TKI ke luar negeri, termasuk ke Malaysia. Karena itu, ketika ditawari untuk berangkat kerja di Malaysia, Eta pun langsung menyanggupinya. Di sana, ia dijanjikan bekerja sebagai pelayan restoran dengan gaji per bulan 700 ringgit (1 ringgit = Rp 2.500). Namun, sesampai di Malaysia, gadis berparas cantik itu ternyata tidak dipekerjakan di restoran, tetapi dijadikan sebagai wanita pemuas napsu lelaki hidung belang.
“Saya disekap di sebuah kamar. Disitu saya diberitahu oleh Acong, salah seorang agen penyalur di Malaysia, bahwa kerja saya bukan pelayan restoran, tapi ‘melayani’ tamu-tamu,” paparnya.
Ia mengaku hingga sekarang TKW yang disekap dan dijadikan pelacur di sana ratusan orang. Mereka ada yang disekap di hotel, apartemen, penginapan, dan tempat-tempat rahasia lain. Mereka ada yang kabur dan kemudian lari ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Malaysia di Kuala Lumpur, ada juga yang masih disekap dan sampai sekarang masih dijadikan sebagai pelacur. Eta termasuk TKW yang beruntung karena bisa kabur dari rumah tempat dia disekap.
Saat ke negeri jiran,  Eta diberangkatkan melalui Medan menuju Dumai (perbatasan Malaysia-Indonesia). Di sana ia dijemput lalu akhirnya disekap. Ditempat sekapan, sudah ada tiga wanita lain, yang belakangan diketahui juga disekap seperti Eta.
“Meskipun disekap beberapa hari, beruntung saya belum diapa-apakan,” katanya.
Sekali waktu Eta kabur. Saat kabur itulah Eta diselamatkan oleh seseorang yang mengaku sebagai polisi. Eta percaya saja dengan laki-laki itu. Apalagi pria tersebut menunjukkan tanda pengenal. Karena masih malam, Eta kemudian disuruh istirahat sampai menunggu pagi. Ia kemudian diinapkan di sebuah penginapan di sana. Saat itu ia diberi minuman agar bisa istirahat dengan tenang. Namun, beberapa saat setelah minum, kepalanya terasa berat dan ia pun tidak ingat apa-apa. Saat terbangun, ia baru sadar bahwa dirinya telah “dikerjai”.
“Semula saya berpakaian lengkap, tapi ketika terbangun sudah lepas semua.”
Nasib malang juga dialami Sonya (22), asal Rote. Perempuan berparas cantik itu juga mengaku disekap satu bulan empat hari di sebuah apartemen di Malaysia. Sebagaimana Eta, Sonya juga dijadikan wanita panggilan tanpa bayar.
Ia menceritakan, keberangkatannya ke Malaysia karena ingin mendapatkan uang yang banyak. Janda muda tanpa anak itu memang belum lama bercerai dari suaminya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia kemudian ke luar negeri.
Sonya berangkat ke Malaysia pada 12 Februari 2007. Ia berangkat ke luar negeri, semula karena didatangi seseorang bernama Aleks dan David. Waktu itu, ia diberi informasi dan dijanjikan bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji Rp 2,5 juta per bulan. Penampilan Aleks dan David sangat meyakinkan, sehingga Sonya pun tertarik dan bersedia menjadi TKI. Apalagi gratis.
Ia diberangkatkan lewat Pontianak (Kalimantan) dengan naik pesawat. Dari Pontianak terus menuju Kucing (Malaysia) dengan jalan darat. Kemudian dari Kucing terbang menuju Kuala Lumpur.
Di ibu kota negara tetangga itulah, ia dijemput oleh seseorang bernama Acong (agen penyalur) dan dibawa ke apartemen.
” Acong kemudian jual saya kepada Ibrahim dengan harga 3.500 ringgit. Setelah itu, saya dibawa Ibrahim dan diinapkan di rumahnya, yang alamatnya saya tidak tahu. Di sana saya di,,,,,” tuturnya, menahan isak.
Sonya mengatakan, sampai sekarang banyak wanita asal NTT yang ditipu dan dijadikan wanita penghibur di Malaysia. “Wanita-wanita itu rata-rata disekap di sebuah tempat dan diperjakan pada malam hari agar melayani tamu-tamu di hotel. Mereka puluhan orang. Yang berhasil kabur dan sekarang tinggal di penampungan KBRI saja sekitar 10 orang. Yang tidak bisa kabur dan masih disekap masih banyak, ratusan. Mungkin ribuan,” ujarnya.
Sonya menyebutkan, pada siang hari dirinya disekap di rumah Ibrahim. Rumah itu dijaga sejumlah tukang pukul. Pada malam hari dirinya dibawa ke hotel dan dipaksa melayani tamu-tamu hidung belang. Perlakuan itu dia alami setiap malam. Ia tidak boleh beristirahat. Bahkan, meskipun sakit ia tetap harus melayani para tamu.
Sonya mengaku rata-rata setiap malam harus melayani 4-5 orang. Kalau hanya melayani 3 tamu ia dimarahi. Bukan hanya itu, ia juga dihukum dengan cara dikunci dalam kamar kecil dan tidak diberi makan satu hari penuh.
Bagaimana dengan gaji? “Saya tidak digaji sepersen pun. Gaji yang dijanjikan penyalur di Indonesia Rp 2,5 juta per bulan hanyalah impian,” ungkapnya.
Dia menuturkan, uang bayaran dari para tamu semuanya diterima Ibrahim. Per tamu membayar 158 ringgit untuk waktu 45 menit. Kalau satu malam penuh membayar 700 ringgit.
Jika kebetulan tamunya berbaik hati, Tarmini diberi tips 10 ringgit. Namun, itu jarang terjadi. Sebaliknya, beberapa tamu malah memperlakukannya secara tidak manusiawi. “Tamu yang kurang ajar itu sering memperlakukan saya seperti ‘anjing’. Kalau tidak menurut kemauannya, tamu itu protes, dan saya dimarahi oleh tukang pukul. Daripada dimarahi, terpaksa saya menuruti kemauannya,” tutur Sonya sambil kembali menyeka air mata.
Sewaktu berada di penyekapan, ia tak henti-hentinya berdoa kepada Tuhan agar bisa keluar dari apartemen “neraka” tersebut. Doa Sonya pun terkabul. Pada Minggu 20 Maret 2009 Sonya berhasil kabur.
“Saya kabur pukul 16.00. Saya lari dari lantai 24 lewat jendela. Saya tidak tahu nama apartemen yang dijadikan untuk menyekap saya. Yang saya tahu, saya disekap di lantai 24.”
Begitu sampai di bawah, ia kemudian naik taksi menuju KBRI di Jl Tun Razak 233 Kuala Lumpur 50400, Malaysia. Sopir taksi itu kebetulan orang Sunda (Indonesia). Ia kemudian tidak mau dibayar begitu mengetahui nasib malang yang menimpa Sonya.
Wanita itu menyatakan kapok pergi ke luar negeri sebagai TKI. Walau diiming-imingi bayaran atau gaji berapa pun, ia tidak akan tertarik. Ia tampak trauma sekali. Setelah pulang ke Tanah Air suatu saat nanti ia berencana akan menjadi buruh tani.
Diceritakan, TKW yang dipekerjakan sebagai wanita penghibur di Malaysia kalau hamil langsung dibawa ke Pontianak, Kalimantan. Di sana mereka disekap oleh agen penyalur sampai melahirkan. Setelah itu, dibawa lagi ke Kuala Lumpur untuk dijadikan PSK.
Hingga kini Sonya enggan pulang ke kampung halamannya, karena malu. Dia hanya menitip pesan untuk orang tuanya, Ny. Wilhelmina. “Mama, maaf ya. Di Malaysia saya tidak berhasil. Saya tidak bisa mengirimkan uang,” katanya sambil terisak-isak.
Sonya mengaku sampai sekarang ibunya belum mengetahui nasib yang menimpanya, termasuk keberadaanya saat ini di Batam.
Sebagaimana Eta dan Sonya, Ansi (28) cewek asal Sumba ini juga mengalami nasib yang sama. Perempuan ini mengaku tertipu dijadikan pelacur. Ansi yang memiliki postur tubuh tinggi semampai dan berambut panjang itu kemudian menceritakan bagaimana bisa sampai ke Malaysia. Ia berangkat pada September 2005 lewat jasa seseorang bernama Helen, yang belakangan diketahui sebagai penyalur (agen) ilegal. Ia berangkat bersama tiga temannya. Perjalanan ke Malaysia lewat Jakarta, terbang ke Pontianak. Dari Pontianak ia naik mobil (jalan darat) ke Kucing (Malaysia). Setelah itu menuju Kuala Lumpur dengan pesawat terbang. Di Kuala Lumpur, Ansi yang memiliki hidung mancung itu tinggal di sebuah apartemen di kawasan Bukit Bintang bersama seorang temannya. Dari sanalah ia mulai mencium gelagat tidak baik. Sebab, saat di Tanah Air ia dijanjikan akan bekerja di toko, tetapi ternyata tidak. Lebih dari itu, beberapa hari dirinya hanya diajak berputar-putar kota Kuala Lumpur. Pada suatu saat, agen penyalurnya ‘menyatron’ dirinya. Semula ia tidak mau, tetapi justru dimarahi dan dipaksa melayani.
Pernah suatu hari ia melarikan diri, tapi tertangkap lagi oleh agen. “Agen itu bernama Maeng. Anak buahnya banyak. Jadi, kalau perempuan sudah berada di tangannya sulit melarikan diri,” ujarnya sambil menyibakkan rambut hitamnya.
Karena berusaha kabur, Ansi pun mendapat hukuman, yakni dikunci di dalam kamar kecil dua hari. Bagaimana ia bisa kabur? Wanita itu menuturkan, suatu saat ada tamu yang minta dilayani dan ditemani beberapa hari. Ketika tamu itu pergi bekerja dan ruangan tidak dikunci, dirinya langsung kabur menuju KBRI. (by. destha/eko/herry)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.