Ima (21), Diperkosa Majikan Lalu Digilir Pria Hidung Belang


sergapntt.com [ENDE] -> penyesalan selalu datang terlambat. Ibarat menahan kereta dari belakang. Begitulah yang dialami Ima (21), sebut saja begitu. Hampir dua tahun ini ia terpuruk di rumahnya yang tak lebih luas dari sebuah garasi mobil, berdinding batu tanpa semen, dan berlantai tanah. Ia seolah tak mampu bangkit kembali….
Awal tahun 2007, Ima begitu ceria ketika seseorang datang ke rumahnya dan menawari pekerjaan. Apalagi di luar negeri dengan gaji selangit. Hati bocah tamatan SD itu semakin berbunga ketika orangtuanya pun merestui keinginan tersebut.
Si ayah maupun si ibu sama sekali tidak curiga. Yang ada di benak mereka hanyalah bisa segera keluar dari himpitan kemiskinan. Maklum, kedua orangtuanya hanyalah buruh tani. Bukan buruh tani harian, melainkan buruh yang hanya sesekali dipanggil dengan tarif Rp 30.000 sekali panggil. Di mata mereka, orang yang mengambil Ima adalah ”malaikat penolong”.
”Yang penting bawa banyaaaak..,” kata sang ibu.
Ima yang kala itu berusia 17 tahun lalu dibawa pergi oleh sang ”malaikat penolong”. Di depan sang ibu, Ima dijanjikan akan dicarikan pekerjaan sebagai  pembantu rumah tangga di Malaysia dengan gaji jutaan rupiah. Namun, sesampainya di malaysia, ”Saya diperkosa…,” papar Ima penuh emosi saat ditemui di rumahnya.
Kenyataannya, sang ”malaikat penolong” adalah ”setan” yang terus bergentayangan di kampung-kampung kumuh untuk mencari Ima-Ima yang lain. Ima yang punya cita-cita bisa kaya cepat lewat kerja di Malaysia, eh,,, justru diperkosa lalu dipaksa jadi PSK.
”Saya memang berangkat tanpa biaya. Artinya, semuanya sudah diuruskan. Tetapi di Malaysia, saya tidak diberi kerja seperti yang dijanjikan. Majikan saya itu,,,, (Ima terdiam meneteskan air mata,,), lalu saya dijual dan dipekerjakan sebagai PSK,” ujar Ima terbata-bata.
Sesekali ia menarik napas sangat dalam. Kenyataan ini bukan satu-satunya pil pahit yang harus ia telan. Setelah dijual, Ima pun mulai digilir para lelaki hidung belang. Sedikitnya, tiap malam meladeni 3 tamu. Sudah begitu Ima tetap diperas oleh majukannya.
 ”Saya ditagih oleh bos. Katanya saya punya utang 25 ribu ringgit yang dipakai saat saya ke Malaysia,” timpalnya.
Walau tak bergaji, selama 2 tahun di Malaysia, Ima masih bisa dua kali mengirim uang sebesar Rp. 3 juta dan Rp. 4 juta ke orang tuanya. Uang itu hasil tip dari para tamu yang ia kumpulkan. Nasib pilu Ima berakhir ketika suatu saat ia mendapat tamu dari Kantor Imigrasi Malaysia. Begitu mendengar kisahnya, sang tamu menyarankan Ima melarikan diri ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur. Pihak KBRI menyarankan Ima melaporkan diri ke polisi. Oleh polisi, Ima kemudian diserahkan ke Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) Malaysia yang kemudian mengirimnya ke Jakarta.
Tanggal 3 Maret 2009, IOM Indonesia mengembalikan Ima ke pangkuan keluarganya di sebuah desa di Kabupaten Ende. Ima memang telah kembali, tetapi ia tak kunjung pulih. Ia lalui hari dengan mengisap rokok dan tuak (moke) pemberian orang.
Ima hanyalah satu dari ribuan perempuan yang harus menangis pilu. Ia adalah bagian dari lingkaran setan perdagangan manusia yang semakin marak di NTT. Uang yang berputar dalam ”bisnis” haram ini memang luar biasa. Di NTT sendiri, setahun perputaran uang bisa mencapai Rp. 150 miliar. Sedangkan seluruh Indonesia mencapai  sedikitnya Rp 60 triliun per tahun. ”Bisnis” ini hanya kalah tipis dari bisnis pelacuran, yang menghasilkan uang lebih besar. Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat, bisnis perdagangan manusia di seluruh dunia setiap tahun menghasilkan 31,6 miliar dollar AS. Angka itu hanya kalah dari peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang.
Data-data yang dimiliki berbagai pihak hanyalah fenomena gunung es. Jumlah korban sesungguhnya tidak diketahui dengan pasti. Selama masih terdapat permintaan dan penawaran, ”bisnis” haram ini tidak akan pernah mati.
Secara empiris, sebagian besar korban adalah perempuan. Laki-laki yang menjadi korban perdagangan manusia umumnya adalah remaja laki-laki. Mereka dipekerjakan di jermal atau korban kaum pedofilia. Dalam budaya masyarakat yang patriarki, masih terdapat diskriminasi gender. Perempuan dan anak perempuan seolah hanya jadi pelengkap seksualitas dan dianggap rendah.
Budaya yang sudah mengakar sejak dulu itu, sulit sekali diubah. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya kemiskinan, pengangguran, kawin usia dini, serta budaya masyarakat yang hanya mencari kerja bukan menciptakan kerja.
Masyarakat, khususnya perempuan, yang berada dalam kondisi terjepit secara ekonomi dan sosial itu mudah sekali diiming-imingi dan dibujuk oleh para calo. Mereka dijanjikan bekerja di kota atau di luar negeri dengan janji upah yang tinggi. Namun, sesungguhnya yang terjadi adalah penipuan.
Para pelaku perdagangan manusia semakin cerdik. Mereka menciptakan berbagai modus operandi agar calon korban terbujuk dan jejak kejahatan mereka tidak terlacak. Selain dijanjikan bekerja di luar negeri, banyak juga gadis yang dijanjikan menikah dengan orang asing. Pada akhirnya, mereka dipaksa bekerja sebagai pelacur atau pekerja paksa.
Pelaku yang telah tertangkap, belum tentu merupakan otak dari jaringan perdagangan manusia itu. Mereka umumnya hanyalah kaki tangan atau lapis ke sekian dari jaringan yang sangat rumit. Polisi sulit mengungkap karena jaringan mereka begitu rapi dan terorganisasi. ADA YANG MAU IKUT IMA??? (by. hengky woda)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.