sergapntt.com [KUPANG] -> Dinas Pertanias dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur telah menerjunkan tim terpadu untuk mengidentifikasi bencana kelaparan yang menimpa warga transmigrasi lokal (translok) Uluwae, Desa Uluwae, Kecamatan Bajawa Utara, Kabupaten Ngada.
“Untuk jangka pendeknya, kita telah membentuk tim dan sedang melakukan identifikasi lapangan. Ini maksudnya, ketika bantuan turun, bantuan itu sesuai dengan kebutuhan masyarakat disana,” ujar Kepala Dinas Pernatian dan Perkebunan Provinsi Nusa tenggara Timur, Yohanes Tay saat ditemui Sergap NTT di ruang kerjanya di Kupang pada Senin (12/9/11).
Menurut Yohanes Tay, kendati Translok masih dalam kawasan irigasi Malatawa Uluwae, namun letak daerah translok beserta lahan yang dimiliki warga translok adalah lahan kering. Sebab, letak daerah tersebut berada diatas ketinggian dan jauh dari daerah rembesan irigasi.
“Untuk jangka pendek, kita beri bantuan sesuai kebutuhan. Sedangkan untuk jangka panjang, kita punya program umum, yakni meningkatkan produksi, produktifitas dan mutu hasil pertanian dan perkebunan masyarakat setempat. Untuk itu kita sedang identifikasi lahan. Sehingga, musim paruh ke 2 masyarakat bisa budi daya palawija. Contoh: untuk tahun 2011 ini, kita menganggarkan budi daya jagung komposit seluruh NTT seluas 7.350 hektar. Ngada sendiri kebagian jatah 300 hektar. Nah dari 300 hektar tersebut kita alokasikan untuk Uluwae sebanyak 34 hektar. Selain jagung, kita juga akan menggelontorkan bantuan benih padi, kacang-kacangan serta pengembangan kawasan pisang seluas 10 hektar,” paparnya.
Perhatian Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTT ini terkait bencana kekeringan yang melanda Translok Uluwae. Ratusan warga disana mengaalami kelaparan hebat. Mereka tak memiliki sumber makanan karena gagal panen. Satu-satunya makanan yang disantap untuk bertahan hidup adalah ubi hutan. Itupun harus sigap berlomba dengan babi hutan.
Tiga bulan terakhir ini, 720 orang warga translok Uluwae kesulitan mendapat pasokan makanan. Segala upaya telah dilakukan, tapi belum juga ada yang peduli. Pemerintah pun terkesan cuek. Kepala Dinas Sosial Provinsi NTT yang seharusnya tanggap justru ogah-ogahan. Padahal kewenangan mengeluarkan beras dari dolog berada ditangannya.
“Kami belum kirim bantuan. Kita masih akan menggelar rapat koordinasi untuk memastikan bencana rawan pangan itu,” ujar Kepala Dinas Sosial Provinsi NTT, Piter Manuk kepada wartawan di Kupang, Selasa, (6/9/11).
Sungguh ironis. Disaat warga sangat membutuhkan bantuan makanan, pemerintah justru terus menggelar rapat, rapat dan rapat. Hampir setiap hari selalu rapat dan bahas isu kelaparan. Sayangnya, keputusan belum juga didapat.
Sungguh ironis. Disaat warga sangat membutuhkan bantuan makanan, pemerintah justru terus menggelar rapat, rapat dan rapat. Hampir setiap hari selalu rapat dan bahas isu kelaparan. Sayangnya, keputusan belum juga didapat.
“Kita masih akan gelar rapat koordinasi membahas soal kelaparan di sejumlah daerah itu, termasuk Uluwae,” kata Piter Manuk lagi.
Stefanus (43), salah seorang tokoh masyarakat Translok Uluwae sangat menyayangkan sikap lamban yang ditunjukan oleh pemerintah, baik kabupaten maupun provinsi yang diarsiteki Drs. Frans Lebu Raya dan Ir. Esthon Foenay, M.Si.
Stefanus (43), salah seorang tokoh masyarakat Translok Uluwae sangat menyayangkan sikap lamban yang ditunjukan oleh pemerintah, baik kabupaten maupun provinsi yang diarsiteki Drs. Frans Lebu Raya dan Ir. Esthon Foenay, M.Si.
“Seharusnya pemerintah peka terhadap situasi dan kondisi ini. Apa masyarakat mati dulu baru kasi itu bantuan. Ah,,, birokrat ini selalu bertele-tele,,,” ketusnya.
Saat menemui Sergap NTT di Bajawa pada Selasa (6/9/11) pagi, Stefanus tampak lesu. Bibirnya kering dibalut belahan-belahan yang dikerubuti kulit bibir yang terkelupas. Jalannya tak segagah umurnya.
“Saya hanya mau minta tolong, via media ini pemerintah bisa dengar keluh kesah kami. Karena sekarang,,,,,,! Kami disini harus berebut ubi dengan babi. Kalau tidak begitu,,,, mau bagaimana lagi,,,,” imbuhnya, lirih. (by. chris parera)
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar