Gubernur NTT Minta Maaf Atas Tewasnya Tiga Warga Makasar


sergapntt.com [MAKASAR] -> Belum jelas motif penikaman yang dilakukan Fransius Petrus alias Gulo, salah seorang warga NTT di Sulawesi terhadap 6 orang warga Sulawesi hingga mengakibatkan dua bocah dan seorang purnawirawan polisi meninggal. Namun akibat kejadian ini ribuan warga NTT yang berada di Sulawesi sempat mengungsi ke asrama polisi setempat.
Kini Gulo yang tercatat sebagai warga Sudiang Makassar itu masih menjalani perawatan di RS Bhayangkara Makassar. Kondisinya memprihatinkan akibat dikeroyok warga setempat usai menikam enam warga tersebut.
Di RS Gulo ditemani oleh Yulius, salah seorang korban pengeroyokan pasca kasus penikaman. Kebetulan Yulius berasal dari satu daerah dengan Gulo. Gulo pun dijaga ketat oleh sejumlah polisi Polrestabes Makassar dari unit Sabhara dan intel.
Yulius yang setia menemani Gulo mengatakan, Gulo sudah bisa diajak berbicara. “Kalau tidak tidur, dia sudah bisa bicara,” papar Yulius.
Mengenai motif penikaman, Yulius menyebut, menurut cerita Gulo, kasus penikaman tersebut dipicu oleh kekesalan Gulo lantaran sepeda motor milik bosnya pernah dirusak oleh korban. “Katanya motor bosnya dirusak anak-anak itu,” kisah Yulius.
Sementara itu, kondisi tiga korban selamat yang sempat dirawat di RS sudah membaik.
Wakapolrestabes Makassar, AKBP Endi Sutendi yang dikonfirmasi terpisah menyebutkan bahwa penanganan medis tersangka masih dibutuhkan. “Kita masih menunggu kondisinya membaik. Kalau saat ini belum terlalu memungkinkan untuk dimintai keterangan,” kata Endi.
Namun akibat kejadian itu, warga NTT di Sulawesi sempat mengungsikan diri ke Asrama SPN Batua Makasar.  Sejak Sabtu, 17 September sebagian besar pengungsi sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Meski begitu, sebagian warga masih trauma. Apalagi sempat ada penyerangan terhadap warga NTT di Jalan Batu Raya V yang mengakibatkan dua orang korban. Sejumlah pengungsi yang trauma itu memilih tidak kembali ke rumah mereka, tapi ke rumah pengurus Kerukunan Keluarga NTT di Makassar.
Sedangkan sebagain warga lainnya baru mau meninggalkan SPN Batua setelah diyakinkan pengurus Kerukunan Keluarga NTT Makassar seperti Latu Bruno dan John Soleh. “Mereka masih trauma dan takut pulang ke rumahnya karena alasan dekat dengan korban. Padahal, keluarga korban semua sudah menyakinkan bahwa ini adalah kriminal murni,” kata Latu Bruno.
John Soleh menambahkan Kerukunan Keluarga Turatea (KKT) Jeneponto juga sudah memberikan jaminan bahwa warga Jeneponto tidak akan melakukan tindakan irasional. “Kita sudah bertemu dengan mereka dan mereka juga memastikan tidak akan memusuhi kita, karena mereka juga punya hati dan sadar yang melakukan itu adalah oknum,” kata Soleh.
Sejumlah tokoh asal NTT bahkan diundang oleh Kerukunan Keluarga Turatea Jeneponto dalam acara Musyawarah Besar III dan Halal Bihalal DPP KKT Jeneponto di Hotel Singgasana Makassar kemarin. “Keinginan kita menghadirkan tokoh asal Flores di tengah-tengah kita ini, untuk mempertegas bahwa hubungan persaudaraan kita tidak ada masalah,” tegas Ketua KKT Jeneponto, Tan Malaka Guntur.
Menurut Tan Malaka, warga Jeneponto yang ada di Makassar juga sangat mencintai kedamaian. Makanya kata dia, masyarakat harus saling mendukung, termasuk dalam menciptakan suasana damai untuk hidup bertetangga.
Pembina KKT Jeneponto yang juga Wakil Wali Kota Makassar, Supomo Guntur menegaskan sekitar 300 ribu warga Jeneponto di Makassar tidak pernah menginginkan permusuhan dengan siapapun. “Tapi kadang-kadang memang ada yang peralat,” katanya.
Bahkan menurut dia, banyak warga Jeneponto yang memiliki rumah kos yang penghuninya berasal dari NTT sehingga secara tidak langsung berpengaruh pada perekonomian masyarakat sendiri. “Saya yakinkan warga Jeneponto adalah masyarakat rasional, sehingga ketika kita berada di Makassar tidak ada lagi warga Flores, Pinrang, Toraja tapi yang ada adalah warga Makassar,” tegasnya.
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo yang hadir dalam kesempatan itu juga mengajak masyarakat untuk menjaga kedamaiandan kerukunan antara sesama warga. “Mari kita saling mendukung untuk menciptakan kedamaian,” pinta Syahrul. 
Guna meminimalisir dampak kasus penikaman tersebut, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya menyampaikan permintaan maaf kepada rakyat Sulawesi melalui Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, pada Minggu 18 September 2011. Permintaan maaf ini sekaligus menyikapi peristiwa yang terjadi di Makassar beberapa hari lalu.
Dalam pertemuan singkat tersebut, Frans Lebu menyatakan bahwa kedatangannya ke Sulsel kali ini untuk menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus permohonan maaf kepada jajaran Pemerintah Provinsi Sulsel beserta pihak keamanan dan masyarakat Sulsel yang telah bertindak cepat sehingga peristiwa ini tidak meluas.
“Walaupun peristiwa yang terjadi di Makassar tidak mengatasnamakan komunitas, tapi saya selaku pemerintah Provinsi NTT perlu mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf kepada Gubernur Sulsel yang telah bertindak cepat menengahi persoalan ini,” ujarnya.
Saat peristiwa itu terjadi, Frans mengaku sempat resah dengan banyaknya informasi provokatif yang beredar di NTT melalui pesan singkat (Short Message Service) tentang kondisi di Sulsel, namun hal itu cepat diredam oleh semua pihak di NTT.
Frans menegaskan, warga di NTT telah memahami bahwa peristiwa di Makassar beberapa waktu lalu murni tindakan kriminal, dan semua pihak tidak menginginkan kejadian ini.
Frans juga menjamin bahwa warga NTT yang berasal dari Sulsel tetap rukun dan melaksanakan aktivitasnya seperti biasa.
“Kami di NTT juga sudah berkomitmen bahwa persoalan di Makassar tidak perlu disikapi. Mari kita merajuk kebersamaan dalam membangun kesejahteraan,” tuturnya.
Frans juga mengimbau kepada seluruh warga Sulsel yang berasal dari NTT agar ikut bersama-sama dengan pemerintah Sulsel untuk menjaga situasi yang kondusif.
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo juga menegaskan bahwa persoalan yang terjadi di Makassar adalah murni kriminal yang tidak mengatasnamakan komunitas tertentu.
“Persoalan ini bisa kita atasi berkat adanya komunikasi yang berjalan dengan baik, khususnya dengan Gubernur NTT dan aparat keamanan,” ujar Syahrul.
Syahrul juga meminta kepada Gubernur NTT, Frans Lebu Raya agar tetap menjamin keamanan warga Sulsel yang ada di NTT. “Peristiwa yang terjadi adalah murni kriminal yang tidak boleh terulang lagi. Yang perlu dibahas saat ini adalah berapa beras yang dibutuhkan NTT,” tandas Syahrul dengan nada canda.
Ketua Kerukunan Keluarga Turatea Jeneponto, Tan Malaka Guntur mengatakan bahwa warga Jeneponto telah memahami persoalan ini secara bijak, sehingga warga NTT yang ada di Makassar tidak perlu merasa ketakutan.
Sementara itu, Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) NTT, H.H. Darwis yang ikut dalam rombongan gubernur NTT, menejalsan bahwa menyikapi persitiwa yang terjadi di Makassar, warga asal Sulsel yang ada di NTT tetap hidup rukun.
“Jumlah warga Sulsel yang mendiami 24 kabupaten/kota di NTT mencapai 98 ribu orang. Mereka tetap hidup rukun karena semua pihak telah memahami persoalan di Makassar ini yang tidak mengatasnamakan etnis,” ujarnya.
Syahrul Yasin Limpo bersama Kapolda Sulsel Irjen Pol Johny Wainal Usman juga mengimbau warga Sulsel untuk tidak terprovokasi dengan tragedi  M’Tos, Rabu 16 September lalu.
“Serahkan urusan itu kepada kepolisian untuk menanganinya. Jangan kejadian ini dikait-kaitkan dengan isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Jangan ada yang terpancing, apalagi sampai melakukan razia. Kalau ada razia itu tak dibenarkan,” kata Syahrul.
Komentar sama juga dilontarkan Kapolda Sulsel Johny Wainal Usman. Kepada wartawan dia mengatakan, kasus tersebut memang murni kriminal dan tak ada kaitannya dengan golongan tertentu. Dia juga  mengancam akan menindak tegas jika ada razia atau gerakan massa yang mengancam ketertiban.
“Kami siagakan aparat  dan siap menindaki jika sewaktu-waktu ada tindakan di luar aturan. Tidak boleh kita sewenang-wenang dengan yang lain. Kasihan mereka yang tidak tahu apa-apa,” kata Kapolda. (sumber:
fajar.co.id)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.