BKP2 Anjurkan Warga NTT Konsumsi Pakan Ternak


sergapntt.com [KUPANG] -> Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKP2) Provinsi NTT, Niko Nuhan menganjurkan warga NTT yang terkena musibah kelaparan untuk tidak malu mengkonsusi makanan yang kebanyakan warga NTT biasa jadikan sebagai pakan ternak, misalnya putak, biji asam dan buah bakau. Sebab, pakan ternak tersebut memiliki kandungan protein yang tinggi.
Niko Nuhan mengungkapkan, berdasarkan hasil analisa BKP2 NTT, Putak yang setiap hari dijadikan warga  Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sebagai pakan babi itu mengandung karbohidrat dengan kadar kandungan gizi 84,63 gram, protein dengan kandungan gizi 2,95 gram, energi dengan kandungan gizi 351,55 kilo kalori dan lemak 1,18 gram.
Sedangkan biji asam mengandung protein 78,89 gram, protein 8,50 gram, energi 352,02 kilo kalori dan lemak 0,77 gram. Buah bakau memiliki energi (kkal) 371,0, karbohidrat (g) 85,1, protein (g) 4,2 dan lemak (g) 1,5.
“Putak dan biji asam bisa dikonsumsi, karena mengandung kadar kandungan gizi yang cukup,” kata Niko Nuhan kepada wartawan di Kupang, Selasa (20/09/11).
Dengan adanya hasil analisa itu, lanjut dia, maka pemerintah NTT menjadikan putak dan biji asam sebagai pangan lokal. Tanaman lainnya yang juga dijadikan pangan lokal yakni bunga gamal, daun kusambi, daun kelor, buah sirsak, buah bakau, gula lontar dan jagung.
Namun anjuran dan hasil analisa BKP2 NTT tersebut menyulut sinis Anggota DPRD NTT, Somie Pandie. Menurut pentolan Partai damai Sejahtera (PDS) yang kini duduk di Komisi B DPRD NTT itu, analisa BKP2 NTT tersebut perlu pembuktian. Sebab, orang NTT tidak pernah makan makanan yang biasa dijadikan pakan ternak.  
“Kalau manusia disuruh makan putak,  terus babi makan apa? Kalau biji bakau dimakan manusia, terus kera makan apa? Itu makanan ternak. Kalau anjurkan masyarakat makan jagung atau ubi-ubian, itu masuk akal. Saya mau tanya, dimana dibelahan NTT ini yang kesehariannya orang makan putak atau biji asam. Yang benar aja kalau kasi anjuran. Itu bukan solusi untuk membuat orang tidak lapar,” tegas Somy Pandie, kritis.
Somy Pandie cukup miris usai mendengar anjuran Niko Nuhan. Setengah guyon, kepada wartawan, Pandie mengaku sangat tidak masuk akal anjuran yang diberikan BKP2 NTT. Orang kena musibah lapar, koq disuruh konsumsi pakan ternak.
“Tidak masuk akal, koq pakan ternak dijadikan pangan lokal. Kalau sudah makan pakan ternak, artinya NTT ini sangat kelaparan sekali. Kalau sudah begini, babi dan sapi mau makan apa,,,,” katanya.
Kekeringan yang melanda NTT mengakibatkan 591.160 petani atau 144.966 keluarga yang tersebar di 15 kabupaten mengalami penurunan persediaan pangan, dan terancam mengalami rawan pangan. Bahkan, sejumlah warga dilaporkan telah mengkonsumsi putak dan biji asam, karena mengalami gagal tanam dan panen.
Semangat mengkonsumsi pangan lokal juga dilecutkan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Saat menghadiri pesta HUT Kapela Santo Andreas Kakan ke-50, di Desa Kakan, Kecamatan Kuanfatu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) pada Sabtu (17/9/11) yang dihadiri Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr, Lebu Raya  menghimbau seluruh masyarakat NTT, terutama warga Desa Kakan untuk tetap mengkonsumsi  pangan lokal.
“Jangan bergantung pada Raskin, sementara masih banyak hasil pangan yang bisa dikonsumsi. Lahan kebun bisa dimanfaatkan untuk menanam berbagai macam komoditi. Tanam, tanam dan terus tanam. Sebagai petani, kebutuhan hidupnya dari kebun,” ujar Lebu Raya.
Lebu Raya mengaku NTT saat ini dalam kondisi rawan pangan. Namun Pemprov NTT dan Pemkab se-NTT telah melakukan rapat dan menyepakati untuk bersama-sama mengatasi rawan pangan dengan mendistribusikan beras ke daerah-daerah yang rawan pangan.

“Stok beras saat ini masih banyak, tapi bukan berarti masyarakat tidak bekerja. Jangan malu makan pangan lokal,” tandas Lebu Raya. (by. chris parera)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.