sergapntt.com [Maumere] – Bencana air bah atau tsunami diperkirakan bakal melanda Provinsi Nusa Tenggara Timur seperti yang pernah dialami warga Maumere, Kabupaten Sikka pada 12 Desember 1992 lalu. Oleh karena itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat mulai siagakan tim penolong di NTT
Persiapan tim penolong tersebut dilakukan BPNP melalui Simulasi Gempa Bumi dan Tsunami Tingkat Nasional, di Lapangan LANAL Maumere, pada Rabu (28/9/11).
Alasan BNPB memilih NTT sebagai tempat simulasi pengurangan resiko bencana yakni nilai historis dan komparatif bahwa pada 12 Desember 1992 lalu di kota itu dan beberapa pulau disekitarnya menjadi saksi bisu terjadinya tsunami yang mengakibatkan kurang lebih 2.500 orang meninggal dan ribuan orang lainnya kehilangan harta benda. Selain itu, NTT merupakan salah satu provinsi yang berada diantara lempeng Indo Australia di sebelah selatan dan lempeng Eurasia di sebelah utara. Akibatnya NTT berada tepat di lingkaran api (ring of fire) berupa gunung api. Hingga kini tercatat ada 16 gunung api aktif di NTT.
Selain tsunami, masih ada bencana lain yang tidak kalah penting dan sering melanda NTT seperti banjir, tanah longsor, angin putting beliung, abrasi pantai, rawan pangan dan lain sebagainya. Jenis-jenis bencana tersebut menunjukan sesungguhnya NTT dikategorikan sebagai provinsi yang berkarakter bencana. Kareakter ini yang sering mengancam daerah ini. Dampak dari bencana ini telah mempengaruhi dan mengganggu pertumbuhan ekonomi rakyat NTT.
Karena itu, BPNP berupaya meningkatkan kesiapsiagaan aparatur dan masyarakat menghadapi situasi darurat, untuk mencegah dan mengurangi risiko kejadian terhadap korban jiwa dan harta benda.
Simulasi tersebut dihadiri Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, Kepala BNPB Pusat, Syamsul Maarif, Ketua BNPB NTT, Tini Thadeus, Angota Komisi VIII DPR RI, Ahmad Zaenudin dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah tingkat Provinsi NTT.
Lebu Raya dalam sambutannya mengatakan, sebagai penanggungjawab penyelenggaraan penanggulangan bencana di NTT, pemerintah dan masyarakat NTT tetap sehati sesuara mendorong integrasi dan sinergi program pengrangan resiko bencana dalam agenda pembanguan di NTT. Dengan demikian pengurangan resiko bencana dijadikan satu aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam penilaian kelayakan program pemerintah maupun lembaga mitra di daerah ini. Momentum gladi/simulasi bencana gempa bumi dan tsunami ini akan dipadukan dengan kegiatan lain yakni, lokakarya, unjuk ketrampilan, pameran foto bencana, workshop, lonching peta resiko bencana NTT dan bhakti sosial.
Untuk dapat mencegah dan mengurangi resiko kejadian terhadap bencana, lanjut Lebu Raya, diperlukan suatu pendekatan secara terpadu, terkoordinasi yang implementif di lapangan, dan menempatkan semua komponen sebagai pelaku utama dalam permasalahan bencana yang terjadi sehingga masyarakat yang didukung degan kesiapan unit-unit pelayanan, penyediaan informasi menjadi rujukan bagi semua komponen pelaku pembangunan di daerah ini. di NTT telah terbentuk BPBD di 19 kabupaten/kota kecuali kabupaten Flores Timur dan Sabu Raijua. Inilah bentuk apresiasi masyarakat yang disertai dengan harapan lembaga ini menunjukan kinerjanya dengan baik. (by heri lay)
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.




Tinggalkan komentar