Kisah Penjagal “Burung” Laki-Laki


sergapntt.com [KUPANG] – Sidang Kasus Terpidana Potong Burung diwarnai gelak tawa pengunjung. Pasalnya, pertanyaan Hakim dan JPU hanya berkutat seputar alat vital milik korban Markus Bani alias Ama Sun yang putus akibat disabet wanita muda berusia 18 tahun bernama Erny Mafafu.

Di mana potongan burung itu ? “Potongan Burung itu ada di Nona,” tutur Korban pada Kamis 21 November 2007 di ruang sidang Kejaksaan Negeri Kupang.

Pukul 10.30 pelaku tiba di Kejaksaan Negeri Kupang dengan mengenakan setelan rok warna Hijau, dipadu dengan Blues Biru bergaris putih. Dia dan seorang rekan perempuan lainnya diborgol menjadi satu. Ketika pintu mobil kejaksaan yang membawa mereka dari Lapas Penfui Kupang dibuka, Erni sempat memberikan senyum ceria kepada petugas yang membukakan pintu tersebut. Di genggamannya terdapat buku dan ballpoint serta sapu tangan berwarna merah jambu. Tanpa basa-basi mereka langsung digiring menuju ruang tahanan Kejaksaan Negeri untuk menunggu sidang.

Di tempat lain tampak ibunda Erni berdesak-desakan di antara kerumunan pengunjung di Kejaksaan Negeri Kupang dan rupanya ia hendak bertemu dengan buah hatinya itu. Namun sayang, ibu umur 50-an tahun itu tak bisa bertegur sapa dengan anak kesayangannya karena mereka buru-buru dijebloskan ke dalam tahanan Kejari.

Tapi, wanita itu masih coba untuk menerobos dari satu sekat ke sekat lain untuk bertemu dengan putrinya. Namun, apalah daya, petugas jaga tak mengijinkannya. Akhirnya ia hanya menatap anaknya dari luar ruang tahanan pada jarak 10 Meter. Rupanya upaya sang ibu itu hanya ingin memberikan kado buat anaknya. Selang beberapa lama menatap, wanita itu mengeluarkan permen Relaxa dan segelas air Aqua dari dalam tas dan meminta bantuan petugas jaga untuk memberikannya kepada Erny. Duka hatinya terpancar saat menatap buah hatinya yang mengalami nasib buruk itu. Di luar ruang tahanan, Erny dan seorang rekannya terlihat asyik bercerita entah apa yang diperbincangkan. Di wajah mereka tak terlihat sedikitpun rasa panik menghadapi persidangan yang sebentar lagi berlangsung.

Setelah menunggu hampir 30 menit, nama Erny dipanggil masuk ke ruang sidang. Para pengunjung terlihat berdesakan untuk menyaksikan sidang kasus “nikmat membawa sengsara” tersebut. Sebelum masuk ke ruang sidang, Erny sempat melepaskan senyum manja ke ayah dan ibunya yang selalu setia menghadiri sidang. Sidang pun berjalan dalam suasana penuh gelak tawa pengunjung. Pasalnya pertanyaan Hakim hanya berkutat seputar Penis Markus yang hilang akibat sabetan pisau Erny Mafafu.
Hakim memberikan kesempatan pertama kepada saksi I, yakni ayah korban, Marthin Bani. Di hadapan hakim dan jaksa, Marthin menerangkan bahwa, sekitar bulan Mei 2005 putra nomor dua yang menjadi korban potong burung oleh Erni Mafafu pernah menceritakan kepada dirinya bahwa ia sedang berhubungan asmara dengan Erni Mafafu. Marthin semakin percaya dengan pengakuan anaknya ketika suatu waktu ia melihat Markus bersama-sama dengan Erni berduaan di jok depan mobil yang dikendarai Markus. Bukan hanya itu saja, tetapi kebersamaan mereka kerap kali dijumpai oleh ayahanda Markus Bani.

“Hampir setiap minggu saya melihatnya, karena kami sering menumpang mobil yang sama,” ujar Marthin.

Kepada Hakim, Marthin Bani menuturkan bahwa peristiwa naas yang menimpa anaknya itu membuatnya pusing tujuh keliling. Antara lain ia terpaksa menguras kantongnya sebanyak Rp. 10 juta untuk proses penyembuhan.

Pandangan senada juga dilontarkan oleh saksi lainnya Nahor Besie (37). Menurut Nahor, dirinya juga pernah melihat Erni dan Markus duduk bersama di jok depan mobil yang dikendarai oleh Ama Sun. Kesaksian Nahor ini dibantah Erni. Menurut Wanita nekad ini, dirinya tidak pernah berduaan dengan Ama Sun di dalam mobil. Justru ia sering menumpang mobil tetapi mobil yang ditumpangi adalah milik Tinus Klau bukan milik Ama Sun.

Pernyataan Erni ini membuat Nahor geram. Kepada Hakim ia kembali meyakinkan bahwa keterangan yang ia sampaikan adalah fakta yang ia alami secara langsung. Saat itu, yang menumpang mobil Tinus Klau adalah dirinya, sementara Erni berada di mobil milik Ama Sun. Aksi bantah-membantah ini akhirnya ditutup hakim dengan menunda persidangan sampai pekan depan.

Di tempat terpisah, Ibunda Erni dengan mata berkaca-kaca meluapkan isi hatinya. “Erni adalah anak perempuan sulung satu-satunya dari empat bersaudara. Anak ini sangat disayangi oleh keluarga karena untuk mendapatnya orang tuanya harus menunggu sampai delapan tahun.

“Sejak menikah, kami tidak dikaruniai anak. Akhirnya melalui doa, pada tahun ke delapan baru kami dikaruniai anak pertama, yakni Erny ini,” ujar Ibu Mafafu.

Kepada SERGAP NTT ia meyakinkan bahwa sebenarnya anaknya Erny sudah punya tunangan. Pada bulan Desember 2006, Erny dipinang. Keluarga yang meminang datang bertemu dan dibikin kesepakatan untuk segera menikah. Pada Pebruari 2007 keluarga pria datang dan membawa Erni untuk “masuk rumah”. Artinya, Erny sudah diperkenalkan ke keluarga laki-laki sebagai calon istri. Terakhir pada Jumad, 6 Juli 2007 calon suami Erny datang ke rumah untuk menginfo bahwa pergi ke kampung tetangga untuk mencari madu. Tak disangka, selang tiga hari kemudian nasib naas itu menimpa Erny. Kejadian ini, menurut Ny. Mafafu sangat membuat keluarga malu terhadap warga di kampung. Karena warga pun tahu kalau Erny itu sudah punya tunangan.

Gara-gara kasus “ potong burung” ini, pihak pria memutuskan pertunangannya dengan Erny. ”Saya dan ayahnya Erny selalu berdoa agar Tuhan mengetahui masalah kami ini. Saya percaya bahwa anak saya tidak akan senekad itu, kalau ia tidak disakiti. Ini juga sebagai pelajaran buat anak-anak sekarang bahwa perempuan itu bukan barang mainan,” tutur wanita itu dengan nada memelas. Sayang, suratan nasih Erny kini ibarat nasi sudah jadi bubur. Kisah si penjagal burung itu pun harus pertanggungjawabkan perbuatannya di bui. (by. rudy tokan)

1 Komentar

  1. makanya jgn main api, yg perempuan klo udah tunangan seharusnya jgn selingkuh atau pacaran lg,knp klo berbuat suka sama suka harus potong kemaluan ,kan lebih baik bs dinikahin aja, krn yg namanya memutilasi apapun itu keji dan sadis,


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.