Konggres Papua Merdeka Ricuh, OPM Tembaki Polisi


sergapntt.com [ABEPURA] – Konggers Papua III di lapangan Sepak Bola Zakeus, Padang Bulang, Abepura, Jayapura pada Rabu, 19 Oktober 2011 akhirnya dibubarkan secara paksa oleh TNI/Polri. Pembubaran tersebut dilakukan setelah peserta konggres mendeklarasikan negara Papua yang dipimpin oleh Presiden dan Perdana Menteri. Konggres ini pun akhirnya ricuh. Akibatnya, situasi di wilayah Abepura sampai Padang Bulan terlihat mencekam. Seluruh aktivitas Kota Jayapura menjadi lengang. Toko-toko dan perkantoran yang berada di sepanjang jalur Abepura sampai Padang Bulan terpaksa ditutup.Ribuan aparat keamanan dari Polsek Abepura Jayapura tumpah di jalan untuk mengamankan situasi. 
Kongres hari ketiga yang dibuka pada pukul 10.00 WIT nampak mendapat penjagaan ketat dari pihak keamanan. Kericuhan pecah sekitar pukul 15.00 WIT saat peserta kongres membacakan rekomendasi yang salah satunya menolak negara Indonesia dan menentukan nasib politik bangsa Papua yaitu merdeka. 
Pada saat pembacaan tersebut, pihak aparat gabungan yang dipimpin baracuda langsung menerobos masuk ke area Kongres dan membubarkan secara paksa. Peserta kongres sontak lari tunggang langgang menuju gunung Padang Bulan. Puluhan bahkan ratusan tembakan aparat keamanan dimuntahkan ke udara untuk membubarkan kongres. Belum diketahui adanya korban akibat bentrok tersebut. Pihak keamanan sampai saat ini belum memberikan keterangan tentang kericuhan ini. Aparat juga menahan ratusan peserta kongres yang dinilai sebagai pentolan Papua merdeka. 
Pihak kepolisian menyatakan, pembubaran konggres itu sendiri mendapat perlawanan dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang menembak polisi dari atas gunung.
“Mereka menembak kita, jadi kita balas dengan serangan peluru tajam, itu dari Kogoya yang menembak,” kata Kapolres Kota Jayapura, Imam Setiawan, Rabu malam.

Ia mengatakan bunyi tembakan dari atas gunung sengaja dilakukan untuk membela peserta kongres yang akan ditahan. “Kita langsung kejar, itulah mengapa ada polisi yang naik ke gunung, itu bukan untuk menembak warga sipil, tapi kita kejar pelaku yang membawa senjata,” jelasnya.

Setiawan mengatakan, tidak ada korban jiwa maupun pemukulan warga yang berakibat fatal dalam rusuh konggres. “Kita negosiasi dengan mereka, jadi masuknya ke arena kongres secara baik, bukan macam-macam,” ujarnya.

Menurut dia, polisi menangkap peserta kongres karena mengibarkan bendera Bintang Kejora sejak Senin 17 Oktober 2011 dan mendeklarasikan negara sendiri. “Itu kan sudah salah, itu makar namanya, kita sudah bilang kalau mau kongres, ya silahkan, asalkan jangan keluar dari aturan, tapi mereka malah bertindak makar.” 

Ratusan warga yang ditangkap akan diproses hingga ke meja hijau. “Yang bersalah tetap sampai dihukum, yang tidak bersalah ya kita bebaskan,” kata Setiawan.

Insiden penangkapan peserta kongres mendapat sorotan Komnas HAM Papua yang menuding polisi sengaja mengambil tindakan paksa dan menimbulkan korban. Menurut Komnas HAM Papua, polisi seharusnya menangkap pengibar bendera sejak awal.

“Kenapa menunggu sampai hari ini baru dilakukan tindakan paksa, ini kan tidak sesuai dengan aturan, dan sepertinya ada upaya sengaja untuk menciptakan konflik,” kata Matius Murib, Wakil Ketua Komnas HAM Papua.

Ia mengatakan, pihaknya telah memberi tahu kepolisian dan TNI agar tidak menciptakan konflik dengan warga. Namun penyampaian itu tidak ditanggapi serius. “TNI bilang akan aman-aman saja, begitu juga polisi, tapi jadinya kan tidak, malah ada yang dipukul, saya kira ini sesuatu yang harus dipertanyakan,” pungkasnya. (by. dtk/tp)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.