Cayin (23), Dokter Hewan Yang Berperilaku Babi


sergapntt.com [KUPANG] – Kebanyakan orang selalu jadikan sekolah sebagai panutan hidup. Namun semangat itu tidak berlaku bagi, sebut saja Cayin. Perempuan blasteran Sumba – Flores – Sabu yang kini berusia 23 tahun ini justru dimusuhi keluarganya usai meraih gelar Dokter Hewan. Apa pasal? Berikut kisahnya:
Cayin kecil begitu lincah dan cerdas. Ia menjadi kebanggaan orang tua dan keluarga besarnya. Tak pintar-pintar amat. Tapi ia tak pernah tahan kelas. Semua dilalui dengan mulus. Hingga suatu ketika ia dinyatakan lulus murni di salah satu SMA favorit di Kota Kupang. Atas kemauannya sendiri ia pun berangkat menuju Denpasar, Bali untuk melanjutkan kuliah kedokteran hewan di salah satu universitas terkemuka di pulau dewata itu.
“Sebagai orang tua, kami ikut kemauannya. Otomatis kami dukung dengan sokongan doa dan duit,” ujar Ramba (48), ayahnya.
Di awal-awal semester, semua berjalan normal. Tak ada yang aneh. Namun di pertengahan tahun kuliahnya, Cayin mulai berulah. Tak ada yang tahu pasti apa yang merasukinya. Namun saat itu Cayin mulai doyan ke diskotik, pub bahkan tak jarang nginap di bungalou bersama laki-laki pilihannya. Sejak itu pula orang tuanya sering dibohongi. Hampir tiap bulan Cayin selalu minta suntikan dana. Seribu satu alasan dibuatnya.
Dikehidupan lain, Cayin menjalin kasih dengan pria asal NTT yang sedang menunaikan studi S1 di Bali, sebut saja Sony (23). Hubungan mereka awalnya berjalan indah bak sepasang merpati sedang memadu kasih. Tapi hubungan mereka tidak berlangsung lama. Sebab Cayin didapati berselingkuh dengan pria lain. Sontak saja sang pacar marah besar. Sebelum diputusin, Cayin dibuat babak belur. Persoalan tersebut sempat mampir ke meja polisi. Namun takut urusan jadi panjang, Cayin pun mencabut laporan. Ia juga takut aib dan tabiatnya terkuak.
Putus dari ikatan Sony, Cayin makin menjadi-jadi. Bukan rahasia lagi bagi teman-teman kampusnya kalau Cayin adalah perempuan murahan yang bisa dipakai dengan lembaran rupiah. Bahkan jika ia suka atau lagi ngebet, semuanya gratis.  Alhasil ia pun hamil diluar nikah plus gelar sarjananya belum didapat.
Mendengar kabar ini, orang tuanya pingsan berulang-ulang. “Siapa yang tidak kecewa pak. Padahal dia kami percaya. Uang puluhan juta rupiah susah habis. Bahkan bapaknya rela piara babi hanya untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya,” papar ibu Cayin, terbata-bata, sesaat setelah siuman dari pingsan.
Toh begitu Cayin cuek. Belagak tak ada masalah, kesehariannya  penuh dengan gelak tawa. Namun sebagai orang tua, ibu Cayin tetap komit untuk menyekolahkan Cayin. Itulah sebabnya, selepas melahirkan, Cayin diminta untuk melanjutkan kuliah, sembari menutup rapat bahwa ia telah punya anak agar tidak dikeluarkan dari universitas tersebut, Cayin kembali berkuliah.  Hari berganti hari, akhirnya tiba saatnya Cayin diwisuda menjadi seorang sarjana plus dikukuhkan menjadi seorang dokter hewan.
Selepas itu, Cayin back to home. Di kota Karang ini ia menjalin kasih dengan mantan pacarnya sewaktu SMA dulu. Tapi sayang,  ibunya tak setuju. Maklum ibunya itu sedikit congkak. Maunya anaknya mempunyai suami yang dokter juga, atau paling tidak dengan pria kaya raya yang datang dari keluarga terhormat. Tapi dasar sudah kebelet, Cayin tak peduli dengan keinginan ibunya.  Hubungan kasihnya tetap berjalan. Kontan saja menghasilkan anak lagi. Tepat di bulan Mey lalu, ia melahirkan si Pace, anaknya yang ke 2.
Akhirnya, atas nasehat keluarga, walaupun sedikit terpaksa, ibu Cayin pun setuju  agar hubungan Cayin dengan kekasihnya segera diurus ke pelaminan.  Setelah komunikasi sana-sini, keluarga pria lalu mendatangi rumah Cayin. Tahapan adat Sabu mulai dilaksanakan. Maklum dulu ketika menikahi ibunya Cayin, Ramba tak pernah berikan sedekah belis. Tapi sayang, hantaran berupa kain yang dibawa keluarga pria ternyata 5 diantaranya adalah kain bekas dan telah robek sana-sini. Tentu saja keluarga Cayin tak terima. Siatuasi pun kisruh. Hubungan kedua keluarga ini menjadi renggang. Keluarga lalu menyarankan Cayin untuk menahan diri hingga semua persoalan diselesaikan keluarga.   Tapi apa jawaban Cayin? “Ah,,, kamu hanya masalah kain robek saja, koq,,, dipersoalkan. Kalau keluarga tidak mau terima, ya,,, sudah. Tidak ada keluarga juga baik,,” sergahnya penuh amarah.
Karena Cayin bersikap demikian, keluarga akhirnya lepas tangan. Semua urusan dikembalikan kepada orang tuanya. Kain, termasuk kain sobek dan segepok uang bawaan pria idaman Cayin itu akhirnya diambil oleh ayahnya. Walaupun sesuai adat dan budaya sabu, ayahnya itu tak berhak atas barang-barang tersebut.
Karena keluarga lepas tangan, Cayin mulai kurang ngajar. Lewat facebook ia mulai menyebar fitnah. Lewat mulutnya ia mulai mengumbar kebohongan agar orang memusuhi keluarganya. Bahkan caci maki ia kirim buat sanak familynya yang kontra dengan pengurusan pernikahan mereka via facebook dan SMS.
Sementara di luar sana Cayin juga tengah menjalin kasih dengan pria lain yang baru ia kenal dua bulan yang lalu. Kebiasaannya di Bali mulai diperagakan lagi. Toh begitu, keluarganya masa bodoh. Bagi Cayin, kehausan hidup mesti segera dipenuhi selama sirkulasi nafas masih berjalan. Itulah sebabnya, jika ia tak puas dengan layanan ranjang sang calon suami, Cayin mulai cari ngebetan lain di luar. “Persetan dengan kata orang, yang penting beta happy,” tukasnya saat ditemui Sergap NTT, Jumat (21/10/11).
Sikap dan tindak tanduk Cayin ini tentu saja membuat kedua orang tuanya malu dan marah. Sudah berulang kali Cayin dinasehati. Tapi Cayin tetap saja melakoni aktivitas buruknya.
“Kami sudah nasehati ulang-ulang, bahkan bapaknya sampai pukul, tapi begitulah Cayin. Saya juga bingung, dia kan sarjana, dokter hewan lagi, tapi kog  prilakunya kayak babi. Mungkin waktu kuliah dulu, tiap hari dia lihat babi kawin, jadi wataknya juga ikut babi,,,,” umpat Freddy, paman Cayin. (by. modesta)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.