Mengenang Kembali Tragedi Berdarah Atambua Di Hari Sumpah Pemuda 2011


sergapntt.com [BORONG] – Sejumlah pemuda tampak berkumpul di salah satu sudut kota Borong, ibukota Kabupaten Manggarai Timur Jumat (28/10/11) pagi. Sambil ngopi and ngerokok, Romy (25), pemuda Manggarai yang sempat mengadu nasib di Atambua, ibukota Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)  itu mulai membuka obrolan seputar semangat juang kaum pemuda tempo doeloe. Kelima temannya nampak serius mendengar dan sesekali terlihat mengangguk-anggukan kepala. Tak jarang pula mereka geleng-geleng kepala. Entah apa artinya. Apalagi ketika Romy berkisah tentang tragedi berdarah di Kota Atambua.  
Ya,,,, kala itu; Pero Simundza (30), lelaki gagah asal Kroasia — negeri pecahan Yugoslavia– di jazirah Balkan sana, tak pernah membayangkan pada hari kesembilan Juni 2000 hidupnya akan berakhir di Atambua, sebuah kota kecil di sudut timur kawasan Timor Barat.
Tapi,,,,,,,! Tragedi kematian Pero –bersama dua rekannya– secara dramatis telah membuat kota Atambua dibahas di meja perundingan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bahkan Sekjen PBB waktu itu, Koffi Anan langsung menekan Indonesia untuk segera membubarkan milisi bentukan Timor Timur.
Saat itu, tiba-tiba saja Atambua menjadi isu serius bagi dunia. Akibatnya, dalam sidang PBB, Presiden AS, Clinton menyerukan dunia mengisolasi Indonesia. Boleh jadi, saat itu Clinton pun baru dengar; oh,,,,! Di Indonesia ada yang namanya Kota Atambua. Tapi, “Imbauan” Clinton sang ‘sherif dunia’ itu direspon baik oleh PBB –yang memang seringkali lebih mendengar Amerika ketimbang anggota-anggota lain dalam serikat itu–dengan segera mengetukkan palu sidang mengeluarkan resolusi bagi Indonesia.
Bayangkan, Atambua –yang semula tak terbayangkan ada dalam peta dunia– ternyata terpapar di atas meja para wakil dunia di dalam majelis yang disebut PBB: Tok! Palu diketuk, dan Resolusi PBB No 1319 resmi dilayangkan ke meja penguasa Indonesia. Isinya; instruksi agar Pemerintah RI membubarkan milisi yang ada di Timor Barat.
Merasa tertampar atas tragedi Atambua, Gus Dur langsung membahas  “Topik Atambua” dengan Wapres Megawati di Istana Negara. Setelah itu, Gus Dur menerima Ketua Kelompok Krisis International (ICG) Todung Mulya Lubis. Saat itulah Gus Dur sempat mengatakan, ada kelompok yang sudah main api. Gus Dur, seperti ditirukan Todung, menyebut (milisi) sebagai kelompok hooligans (sebutan untuk penggemar sepakbola di Inggris yang suka membikin kisruh). Walau Todung tidak menjelaskan siapa yang dimaksud dengan kelompok hooligans, namun mata dunia tertuju kepada kelompok milisi di Timor Barat.
KRONOLOGI YANG DIAMBIL DARI BERBAGAI SUMBER 
I. Kasus Belli. 
Pada hari Selasa, 22 Augustus 2000, persis pada hari pasar di Pasar 
Webramata, Malaka Barat, terjadi aksi pembajakan yang dilakukan oleh Alosius 
Bere (warga penduduk setempat) terhadap Dominggus Fahik (Sopir Angkutan 
Pedesaan “Seroja”). Korban yang dibajak ini juga dipukul oleh Alosius Bere. 
Menyadari akan kejadian yang menimpa dirinya, Dominggus Fahik melapor kepada 
majikannya. Majikan mobil angkutan yang bernama Aguido Manek adalah seorang 
anggota milisi Laksaur yang berasal dari Suai Kab. Kovalima, Timor Timur dengan 
status Wadanyon. Mendengar berita yang menimpa sopir tersebut, Aguido 
bersama konco-konconya berniat melakukan pencarian terhadap pelaku. 
Pada hari Selasa 29 Augustus 2000, ketika pasar Webremata kembali di gelar 
(seminggu sekali), rombongan Aguido Manek melakukan pencarian terhadap 
pelaku pembajakan sopirnya, tapi sayang pada hari pasar kali ini pelaku 
tidak dapat ditemukan. 
Pada Hari Selasa 5 September 2000, saat pasar kembali digelar, rombongan 
Aguido Manek kembali lagi mencari pelaku. Kali ini yang memimpin rombongan 
adalah Olivio Mendosa Moruk, saudara kandung Aguido, sekaligus mantan Danyon 
Laksaur Suai. Dalam pencarian kali ini, pelaku berhasil ditemukan. Alosius 
Berek yang dipandang sebagai pelaku ditangkap saat sedang bermain kuru-kuru. 
Alosius Berek lalu diikat, kemudian dihajar sampai babak belur seterusnya dibawah ke Pos Polisi Wanibesak. Ketika sampai di Pos Polisi Wanibesak, Olivio masih memukul Alosius Berek. 
Di Pos Polisi Wanibesak, urusan antara Olivio Mendousa Moruk dan Alosius Berek berakhir dengan saling damai. Namun karena menjaga situasi, pihak Polisi masih menahan Olisius Berek di Polsek Besikama. Mengingat telah selesai segala urusan, Olivio dan kawan-kawannya pulang ke rumah. Akan tetapi ketka Olivio dan Alosius Berek berurusan dengan polisi di Pos Polisi Wanibesak, tersiar berita dikalangan masyarakat Wanibesak bahwa Olivio 
menculik Alosius Berek. Berita semakin santer, sehingga terjadi konsentrasi massa untuk menghadang Olivio setelah dia kembali. Saat rombongan Olivio ini kembali dari Kantor Polisi menuju rumahnya di Kampung Larang persisnya di dusun Laklo, desa Umalortoos, Kec. Malaka Barat, Olivio di cegat massa yang sudah menantinya. Diperkirakan jumlah massa sebanyak 10 orang. Dalam peristiwa ini terjadilah perkelahian hebat yang berbuntut tewasnya Olivio Mendosa Moruk (45). Sebelum Olivio meninggal, dia masih sempat menembak mati salah satu lawannya yang bernama Jonisius Letto dengan menggunakan senjata api genggam laras pendek jenis FN 45 buatan USA dengan nomor seri 1035984. 
Menyaksikan keadaan yang menimpa Olivio dan kawan-0kawannya, maka salah seorang dari rombongan Olivio melarikan diri ke Camp dan melaporkan pada saudara Olivio yakni Aguido Manek. Mendengar laporan tersebut, Aguido langsung mengumpulkan para pendukungnya dan mendatangi TKP. Ketika sampai di TKP, massa yang terlibat dalam perkelahian dengan Olivio CS telah menghilang. Melihat kondisi demikian, maka terjadilah penyerangan hebat terhadap perkampungan dan para warga dusun Laklo, desa Umalortoos. Dalam penyerangan itu, ada 77 unit rumah hancur terbakar, 13 orang tewas,  diantaranya para ibu hamil, anak-anak dan para jompo yang tidak bisa lagi berjalan. Serta segala jenis hewan yang ditemui dibunuh dengan keji. Dari korban yang tewas, empat orang korban ditemukan paling awal yang diketahui identitasnya yakni: Lorensius Tae (28), Ambei Mouk Leki (60) Johny Nahak  (26) dan Sesan (5). Selain itu terdapat juga dua orang luka-luka yang 
bernama Thomas Leki dan Theresia Soim. 
Kebencian terhadap pelaku pembunuhan Olivio kian mendalam dikalangan pengungsi, maka mereka menyepakati, besoknya Rabu, 6/9-2000 untuk menggelar aksi keprihatinan sambil mengusung mayat Olivio di Atambua. 
II. Tragedi Atambua Meletus. 
Massa perusuh yang sedang dilanda emosi mendalam dari Malaka Barat melakukan 
konvoi dengan menggunakan 6 truk, 13 buah kendaraan roda 4 dan 37 buah 
kendaraan roda 2 menuju Atambua. Massa yang membludak tersebut, masuk ke 
Kota Atambua sekitar pukul 12.00 waktu setempat. Semula tujuan aksi para 
pengungsi dari Malaka Barat ini yakni menggelar tenda keprihatinan di depan 
Kantor DPRD TK II Belu atas tewasnya Olivio Mendosa Moruk. Namun ketika 
sampai di simpang lima Atambua konvoi massa berubah gerakan yakni tidak saja 
ke Kantor DPRD TK II Belu, tetapi juga ke Kantor UNHCR perwakilan Atambua 
yang terletak di Jl. Gatot Subroto. 
Tentang adanya perubahan gerakan ini, ada dua pendapat yang berbeda yang 
berkembang. Pertama, ketika massa sampai di Simpang Lima, massa tiba-tiba 
terpecah menjadi dua, sebagian yang mengusung mayat Olivio langsung menuju 
kantor DPRD II Belu dan yang lainnya bergerak menyerang kantor UNHCR. 
Pendapat kedua, sejak semula, hingga di depan kantor DPRD, massa tetap 
bersama-sama, tetapi entah kenapa, massa yang berada dibarisan belakang 
tiba-tiba memisahkan diri untuk menyerang kantor UNHCR. 
1. Tragedi Di Kantor UNHCR. 
Massa yang bergerak menuju kantor UNHCR, sambil terus melakukan penembakan 
secara membabi buta, melempar kantor dan meyerang staf yang ada didalam 
kator. Dalam waktu sekejab, massa menguasai kantor dan mengeluarkan 
fasilitas seperti komputer, peralatan komunikasi dan berangkas arsip. Usai 
menghancurkan segala barang, barulah kantor dibakar. Dalam aksi ini terdapat 
empat orang yang meninggal dunia dan dua buah mobil dihancurkan, satu 
diantaranya dibakar. 
Keempat orang yang tewas adalah sebagai berikut: 
* Seorang Satpam, dia meninggal karena terbakar diatas loteng kantor, 
jasadnya baru dutemukan pada malam harinya ketika ada petugas keamanan yang 
menggeledah kantor yang telah dirusak massa. 
* Pero Simundza (30) warga negara Kroasia, beragama Kristen. Dia bekerja 
sebagai Telkom Officer. Pero dibunuh saat sedang memonitor radio, menurut 
salah seorang staff UNHCR di Kupang. Sebelum meninggal, Pero masih sempat 
berteriak tiga kali. Teriakan Pero sempat ditangkap lewat radio di Kupang. 
Kondisi fisik Pero setelah meninggal, yakni kepala dan tangan terpotong. 
* Carlos Cireces (32), warga negara Puerto Rico, yang beragama Kristen dan 
kerjanya sebagai Protection Officier. 
* Samson Aregahegn (50), warga negara Ethopia, yang beragama Kristen dan 
kerjanya merupakan Supplay Logistic Officier. Menurut saksi mata, dia saat 
diserang sempat mengangkat tangan tanda menyerah. Namun sikapnya tidak 
digubris massa. Massa menusuk, menendang dan melemparnya hingga tewas. 
Ketiga staf UNHCR yang sudah meninggal ini, kemudian diseret ke depan 
trotoar, lalu dibakar setelah disirami bensin. Jasad ketiga staf yang masih 
tersisa, kemudian dibawah oleh petugas keamanan ke RSUD Atambua untuk 
Otopsi. 
2. Saksi di Kantor IOM 
Dari kantor UNHCR, massa memburu staff IOM di Kantor IOM yang terletak 
dikawasan pertokoan. Di Kantor tersebut, massa berhasil merusak mobil IOM 
yang sedang diparkir di depan Kantor, sedangkan staf IOM telah menyelamatkan 
diri. 
3. Saksi di Hotel Intan. 
Massa yang semakin ganas dan brutal tetap memburu staf Internasional yang 
diketahui menginap di Hotel Intan. Di Hotel tersebut, massa menyerang 
seorang turis berkebangsaan Brazillia yang bernama Margaretha dan dua staf 
lokal. Kedua staf lokal itu, seorang bernama Tony (28) yang berasal dari 
Surabaya dan merupakan staf UNHCR dan seorang lainnya adalah Dewi Frida dan 
bekerja sebagai staf UNICEF. Ketiga korban ini mengalami luka-luka. 
4. Aksi di Hotel Nusantara I dan II. 
Massa terus bergerak mengejar staf Internasional. Dari Hotel Intan mereka 
menuju Hotel Nusantara yang terletak di Pasar Baru. Di Hotel Nusantara 
tersebut massa merusak sebuah mobil milik ICRC.
Setelah selesai melakukan aksi, massa pun kembali ke Betun Besikama untuk 
selanjutnya mempersiapkan penguburan Olivio Mendousa Moruk besok harinya, 
7/9-2000. 
Menyangkut kerusuhan di Atambua ada beberapa versi yang menilai kerugian 
secara materi. 
a. Versi Kapolda NTT, Brigjen Pol. John Lalo. 
Ada 5 buah mobil yang dirusak massa selain yang dibakar. Kelima mobil itu 
yakni: sebuah mobil milik UNHCR dan tiga buah mobil milik IOM. Dan yang yang 
dua lainnya milik IOM juga tapi tidak diketahui lokasi kejadiaannya. 
b. Versi Koran Surya Timor. 
Dalam kerusuhan tersebut, terdapat dua buah sepeda motor yang dirusak massa, 
satu bernomor Polisi DH 3023 AE dan yang satunya motor trael. (by. dtc/sry/dws) 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.