Labu (16), Gadis Belia Yang Sering Jadi “Santapan” Anak Jalanan


TUBUHNYA lusuh, jalannya gontai, sesekali ia menengadah menatap langit yang kosong. Derap langkahnya terdengar lelah menapaki hidup yang keras. Dia berjalan tanpa arah. Entah mau kemana. Sementara disekitarnya, semua orang sibuk dengan ego hidup masing-masing. Pemerintah dengan kursi empuk dibentengi tembok kantor yang kokoh, orang kaya meninggalkan mesiu kenalpot yang mengotori udara, pebisnis sibuk dengan untung rugi, sementara dia, ya,,, dia,,, sebut saja Labu, gadis berumur 16 tahun itu bak anak ayam yang sedang diraung kucing garong.
Semalam, Jumat (4/11/11), saya mengitari Pasar Inpres Naikoten I Kupang. Maksudnya ingin mencari sesuatu yang agak sulit didapat. Tapi akhirnya ketemu juga. Syukur,,! Saat hendak pulang, saya sempat menyinggahi sebuah warung kecil dipojok pasar. Di dinding warung itu tergantung sebuah jam kusut yang menunjuk pukul 19.00 WITENG.
Selesai urusan, saya pun langsung cabut dari warung itu. Tapi belum jauh sepeda motor saya kebut, mata kiri saya memergoki seorang gadis belia sedang menangis. Spontan motor saya stop. Setelah mendekat, ya Alah,,,! Kamu kenapa? Tapi tak ada jawaban. Saya pun menungguh. Selang 15 menit kemudian suara tangis itu surut. Barulah si Labu mau berbagi kisahnya. Saya dipukul om,,! Siapa yang pukul? Itu anak-anak!!! Jarinya menunjuk sekelompok anak jalanan yang belakangan diketahui berprofesi sebagai penjual koran, penjual jasa gerobak belanjaan dan penjual tas kresek.
“Dong mau maen beta, tapi be sonde mau. Beta bilang beta ini belom makan, tapi mereka sonde mau tau. Akhirnya dong pukul beta,” papar Labu, terbata-bata kental logat Kupang Timor Dawan.
Saya akhirnya mengajak Labu makan ala kadarnya di sebuah warung di ujung pasar. Sambil makan, Labu bercerita kalau ia adalah anak sebantang kara. Ayah ibunya telah meninggal dalam sebuah tabrakan maut atara bus dan angkot di wilayah So’e, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia lalu diasuh oleh tantenya. Tapi karena tak kuasa menerima perlakukan kasar tantenya, ia akhirnya kabur dari rumah dan langsung menuju Kota Kupang.
Ironisnya, kedatangannya di Kupang langsung disambut bekapan anak-anak jalanan. Waktu itu Labu tiba di Kupang pada malam hari. Dari terminal bus, gadis hitam manis ini jalan kaki, maksudnya mau mencari sepupunya yang sempat ia dengar tinggal di daerah Koenanio. “Waktu itu beta sonde ada uang. Jadi beta jalan kaki sa,,,”.
Naas,,,! Dalam perjalanan itulah ia bertemu dengan Rony, pemuda lajang yang berprofesi sebagai kondektur. Setelah basa-basi, singkat kata Rony pun menawarkan diri untuk mengantarnya. Berpikir polos, Labu pun mau. Dengan berjalan kaki, keduanya menuju Koenanio. Hampir semua lorong mereka masuki. Setiap orang yang ditemui mereka tanyakan keberadaan sepupunya itu. Tapi sayang tidak ada yang tahu. Karena sudah larut, plus capek, Rony lalu mengajak Labu untuk pulang. Rony menawarkan Labu untuk menginap ditempatnya. Tak ada pilihan! Labu akhirnya nurut.
Sesampai di kost milik Rony, Labu dipersilakan tidur di tempat tidur. Sedangkan Rony merebahkan diri di lantai. Namun tengah malam, Rony tiba-tiba merangsek naik ke tempat tidur. Labu dipeluk. Labu diraba-raba. Setengah berbisik, Rony berkata, “Jangan berteriak, atau kau saya bunuh”. Labu pun pasrah. Malam itu mahkota kembangnya pecah. Ketika usai babak perdana, sejurus gombal pun dilantunkan Rony. Sukses,,,! Labu terbuai. Labu termakan. Alhasil menjelang datangnya mentari pagi, Rony dan Labu melakukan tanding ulang. Kali ini tanpa paksaan.
Hubungan keduanya terus berlanjut. Tapi belum genap enam bulan, datang kabar mengejutkan. Rony meninggal. Ia jatuh diserempet sepeda motor yang menyalip angkotnya. Kabar ini membuat Labu sedih. Ia tak tahu harus berbuat apa. Apalagi hubungan mereka sama sekali tidak diketahui oleh orang tua Rony.
Dua bulan kemudian Labu jatuh ke pelukan Ande, si penjual koran. Dari Ande, Labu berpindah lagi ke laki-laki lain. Begitu seterusnya. Itu sebabnya, ia dipandang rendah dimata laki-laki, apalagi anak-anak jalanan yang sering menggilirnya. Bagi oknum-oknum anak jalanan, Labu ibarat santapan lezat dikala raga sedang lapar. Labu dianggap artis dimalam gelap yang sanggup memenuhi kebutuhan seks. Labu ingin lari dari keadaan ini. Tapi mau kemana?  Sementara di luar sana tak ada yang mau peduli dengan kehidupannya. Itu sebabnya, ia pasrah menjadi santapan anak-anak jalanan. Entah sampai kapan duka ini berlanjut. Ia pun tak tahu.
By. CHRIS PARERA

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.