Pengikut Khadafi Ancam Bunuh Pejabat NTC


sergapntt.com [TRIPOLI] – Para pengikut mantan penguasa Libya Moammar Khadafi mengatakan, mereka sudah merilis 500 nama yang akan menjadi target pembunuhannya. Kebanyakan para target yakni pejabat Dewan Transisi Nasional (NTC).
“Kami siap melancarkan kampanye untuk memberantas seluruh pimpinan NTC dan membunuhnya satu per satu,” ujar Fron Pembebasan Libya (LLF) dalam sebuah situs internet, seperti dikutip AKI, Sabtu (5/11/2011).

LLF merupakan sebuah gerakan yang dibentuk untuk membebaskan Libya dari cengkraman NTC. Mereka menilai NTC tak lain adalah pemerintahan boneka yang diciptakan oleh North Atlantic Treaty Organization (NATO).

Gerakan ini dikabarkan bermarkas di Sahel, wilayah yang terletak di Gurun Sahara. Sahel dikabarkan juga menjadi tempat berkumpulnya para pendukung Khadafi dan suku Warfalla.

Sementara itu, suku Warfalla adalah salah satu suku terbesar yang ada di Libya. Mereka merupakan pihak yang gencar untuk merencanakan pembalasan dendam.

Para suku Warfalla tinggal di Bani Walid, dan mereka pun kerap dijarahi oleh pasukan NTC saat adanya penyerbuan.

Masyarakat Warfalla juga sangat membenci NTC, sebelumnya mereka juga sudah merencanakan akan adanya pembalasan dendam atas kematian Khadafi.

Bagi suku Warfalla, mempertahankan tempat tinggal adalah sebuah kehormatan. Mereka juga akan membunuh setiap orang yang melakukan penjarahan dan pembunuhan terhadap sanak saudaranya.

Saif al-Islam Khadafi, putra dari mantan pemimpin Libya Moammar Khadafi dikabarkan bersembunyi di Gurun Sahara. Saif bisa terus menerus bersembunyi di gurun yang luasnya mencapi dua kali wilayah Texas, Amerika Serikat (AS) itu.
Hingga saat ini tidak jelas apa yang diinginkan Saif saat ini, entah dirinya tengah mengatur aksi balas dendam atas kematian ayahnya atau bahkan hendak melakukan negosiasi untuk menyerahkan diri kepada Pengadilan Kriminal Internasional PBB (ICC).
Sejak 28 Oktober lalu, kabar dari Saif tidak pernah terdengar lagi hingga sekarang. Ada kabar, pria berusia 39 tahun tersebut berada di bawah perlindungan Suku Tuareg di Niger yang mengawalnya keluar dari Libya.
“Informasi terakhir yang saya terima, Saif Khadafi tidak berada di Mali ataupun di Niger,” ungkap legislator Mali Ibrahim Ag Mohamed Assaleh seperti dikutip Associated Press, Kamis (3/11/2011).
Tetapi ada kemungkinan bahwa Saif berada di sekitar gurun. Wilayah ini dikenal tidak mengenal batas wilayah negara dan tidak dijaga oleh pasukan keamanan. Wilayah gurun sendiri dipenuhi oleh pada penyelundup dan militan Al Qaeda yang bebas berkeliaran.
Wilayah gurun ini diketahui tidak memiliki sumber mata air. Tetapi sebuah wilayah yang berdekatan dengan Mali, memiliki sumber air dan kawanan ternak. Namun wilayah itu sudah dikuasai oleh kelompok Al Qaeda Afrika (AQAB).
Saif pun terus diminta oleh pihak ICC untuk menyerahkan dirinya. Bersama dengan mantan kepala intelijen Libya Abdullah al-Sanussi, Saif dianggap melakukan kejahatan perang.
Menurut ICC keduanya mengatur dan memerintahkan serangan terhadap warga sipil Libya, disaat terjadinya revolusi yang melengserkan kekuasaan Moammar Khadafi yang sudah bertahan selama 42 tahun.
Sementara itu salah satu suku terkuat di Libya Warfalla mengatakan, mereka haus akan balas dendam karena tempat tinggalnya di Bani Walid dijarahi dan dirampok oleh pasukan revolusi penentang Moammar Khadafi.

“Besok adalah hari yang baru. Cepat atau lambat kami akan melakukan pembalasan dendam,” ujar salah satu masyarakat suku Warfalla sambil menunjuk bangunan yang terbakar di kotanya, seperti dikutip AFP.

Para masyarakat adat Warfalla juga mengatakan, dirinya benci akan para pasukan Dewan Transisi Nasional (NTC) Libya yang mengalahkan para loyalis Khadafi di Bani Walid.

“Ketika para pasukan NTC gagal mencari para loyalis Khadafi, mereka marah dan menembaki binatang, menjarah perumahan, dan membakar apartemen dan bangunan lain. Saat ini, masyarakat pun marah. Pasukan NTC menghabisi seluruh warga dengan penjarahan itu dan melakukan pembunuhan,” ujar seorang warga Warfalla, Suleiman.

“Masyarakat di Bani Walid merupakan suku pribumi. Kami tidak memiliki orang asing di sini. Hanya suku Warfalla dan tidak akan ada yang sanggup memerintah kami, kami akan bertindak secepatnya di sini atau bahkan di Tripoli,” tandasnya.

Warfalla merupakan salah satu suku terbesar di Libya dengan populasi sebesar satu juta jiwa. Suku Warfalla juga tersebar di Libya dan terpecah-pecah dalam beberapa klan. Para suku Warfalla yang tinggal di Bani Walid adalah pendukung kuat dari rezim Khadafi dan mereka pun hendak melakukan upaya pembalasan dendam terhadap NTC.

“Bani Walid menderita akibat dukungannya terhadap Khadafi. Namun, kami mencintai Khadafi dan kami menunggu saat yang tepat untuk melakukan pembalasan. Para perampok revolusi itu menghancurkan dan mencuri apapun di kota kami,” ujar seorang warga Bani Walid Al Sahbi al Warfalli.

“Melindungi tempat tinggal kami adalah kehormatan. Kami akan membalas setiap orang yang membunuh dan menjarah kami,” tambahnya.

By. RHS

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.