Kenangan Portugis di Tanah Baramataus


sergapntt.com [KUPANG] – 500 tahun lalu atau tepatnya tahun 1515, bangsa Portugis menginjakan kaki untuk pertama kali di Pulau Timor. Kehadiran mereka di pulau Baramataus ini untuk mencari rempah-rempah, diantaranya kayu cendana dan gaharu. Mereka akhirnya mendirikan benteng di Timor pada tahun 1526 hingga 1527. Toh begitu, mereka baru benar-benar menguasai kawasan Baramataus setelah diusir oleh Sultan Baabullah dari Maluku pada tahun 1574.
Saat datang di Timor, para pengusaha, rohaniwan dan bala tentara Portugis disambut baik oleh kerajaan-kerajaan di Timor saat itu. Oleh karena itu, untuk mengenang moment-moment indah tersebut, kerajaan Liurai Waehali yang berpusat di Builaran, Kecamatan Sasitamean, Kabupaten Belu, Provinsi NTT akan segera menggelar upacara mengenang kembali kedatangan Portugis di tanah Baramataus.

Kegiatan dimaksud akan dilaksanakan pada 11 November 2011 m, berpusat di Builaran dan akan menghadirkan keluarga besar kerajaan yang memiliki hubungan dengan Portugis, antara lain Likusai, Laran dan Larantuka.

“Semua keluarga besar yang masuk dalam kelompok kerjaan Builaran akan hadir dalam acara tersebut,” beber Ketua Yayasan Purnama Kasih, Aryanto Ludoni di Kupang, Selasa (8/11/11).
Sebagai pemakarsa pelaksanaan kegiatan tersebut, Ludoni menjelaskan, hubungan baik antara Kerajaan Liurai Waehali serta kerajaan-kerajaan lain di NTT dengan Portugis cukup baik di bidang pendidikan dan perdagangan. Salah satu kenangan yang ditinggalkan Portugis adalah tongkat bertuliskan Don Alenseo Waehali. Gelar Don merupakan gelar yang terhormat, baik itu di Portugis maupun di Timor.

“Kita perlu satukan tindakan dalam mengenang nilai-nilai sejarah yang telah ditanamkan para leluhur,” kata Ludoni.

Perayaan mengenang 500 tahun atau lima abad hubungan baik dengan Portugis itu, lanjut Ludoni, sebagai bentuk perayaan yang menampilkan adanya kesetiaan para leluhur dan keturunannya yang masih setia tinggal di rumah-rumah yang jauh dari keramaian.

Selain itu, juga masih sangat setia terhadap nilai-nilai sejarah yang diwariskan para leluhur. Saat ini, kata dia, keturunan raja yang tinggal dan mewaisi kerajaan Liurai Waehali di Builaran sebanyak 15 keturunan.

Kegiatan tersebut mengambil tema Pendidikan Sejarah dan Multibudaya Menuju Indonesia Jaya, dengan tujuan mendukung kebesaran bangsa Indonesia.

“Kami berpesan, siapa yang merasa masih memiliki keterikatan dan keturunan Waehali yang tunduk pada Liurai, hadir pada puncak kegiatan pada 11 November 2011 mendatang,” ajak Ludoni.

Ia menambahkan, pada puncak kegiatan akan dilakukan ritual seremoni dengan doa sakral memberkati bibit tanaman untuk ditanam di musim tanam tahun ini. Doa tersebut dimaksudkan agar bibit tersebut dapat tumbuh untuk menjawabi musim paceklik yang melanda para petani di NTT.

“Ini berangkat dari suatu keyakinan, bahwa kegiatan luhur tersebut membawa hasil yang maksimal,” kata Ludoni. Dia berharap, kegiatan ini membuka jalan bagi kesuksesan dan keberhasilan usaha petani, karena diberkati oleh Liurai Sonbai Maromak. Leluhur kata dia diyakini sebagai pelindung dan penjaga keturunan kerajaan hingga saat ini. (by. cis/ady)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.