Komodo Dan Kemiskinan NTT


sergapntt.com [MBAY] – Upaya bangsa Indonesia mensuport Komodo tembus 7 keajaiban dunia patut diacungi jempol. Perjuangan yang berbuah hasil ini akhirnya dirayakan sebagian rakyat Indonesia dengan rasa syukur. Bahkan warga Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi NTT menggelar panggung hiburan semalam suntuk di Pantai Pede, pantai terindah di Pulau Flores Bagian Barat untuk menyambut masuknya Komodo dalam nominasi 7 keajaiban dunia versi New7Wonder of Nature.
Gawe ini cukup bermartabat. Karena Komodo bisa mempersatukan bangsa Indonesia dalam semangat kebersamaan. Sejenak teror bom terlupakan, kasus korupsi terabaikan, masalah kelaparan seakan tak ada. Padahal Indonesia, khususnya NTT adalah sarangnya orang miskin. Jika boleh jujur, kehidupan Komodo jauh lebih baik dari kehidupan sebagian warga NTT. Jika sehari-hari Komodo selalu makan daging yang telah disiapkan oleh pawangnya atas biaya pemerintah, maka tidak halnya dengan warga NTT kebanyakan.
Jangankan daging, untuk beli beras saja, ada warga NTT yang tak mampu. Alhasil mereka pun terpaksa makan ubi yang di dapat dari hutan belantara. Itupun harus berebut dengan babi hutan. Miris benar!
Sesekali masyarakat miskin itu menengadah sambil berharap ada perhatian atau bantuan dari pemerintah. Sayang,,,,! Harapan itu hanya mimpi. Sebab, jatah mereka yang dialokasikan milyaran rupiah melalui item anggaran bantuan sosial (bansos) tak tau kemana peruntukannya.
Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan NTT menyebutkan, di Kantor Gubernur NTT terdapat penyalahgunaan dana dan wewenang. Dana bansos Rp. 4 milyar lebih dicairkan hanya berdasarkan nota gubernur dan kwitansi yang keasliannya pun diragukan. Tak hanya itu, masih ada Rp. 13 milyar lebih yang belum dipertanggungjawabkan. Tapi semua masalah itu seakan dibenamkan oleh Komodo.
Hiruk pikuk Komodo telah membuyarkan perhatian terhadap dugaan korupsi dan kemiskinan yang masih merajalela. Hampir semua petinggi di NTT, termasuk Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya konsentrasi bicara soal Komodo kedepan. “Saat ini Manggarai Barat (daerahnya Komodo) masih terdapat kekurangan, sehingga kita harus melakukan pembenahan, karena masih ada kekurangan di sana-sini,” kata Lebu Raya di Kantor Bupati Manggarai Barat, Sabtu (12/11/11) kemarin.

Di Kampung Makipaket, Mbay, ibukota Kabupaten Nagekeo misalnya. Disana rata-rata warga sangat-sangat miskin. Hidup mereka hanya berteduhkan gubuk reot yang nyaris roboh. Tubuh mereka rata-rata kurus dan dekil. Jika ingin mandi, mereka harus berjalan kaki menuju sungai sejauh kurang lebih 2 kilo meter.  80 persennya diantaranya putus di sekolah dasar (SD). Itu karena miskin yang mendera. Bahkan akses jalan menuju kampung itu hanyalah setapak penuh belukar.  Jika malam tiba, yang terlihat hanyalah pantulan lampu teplok. Itu pun hanya dinyalakan saat memasak dan makan. Selepas santap malam, lampu dimatikan dan semua beranjak tidur. Kalau sudah begitu, yang terdengar hanyalah hembusan angin dan celoteh burung hantu.
Setelah komodo masuk nominasi bersama Amazon, Halong Bay, Iguazu Falls, Jeju Island, Puerto Princesa Underground River, dan Table Mountain, otomatis komodo dan sekitarnya akan menuai rejeki berlimpah. Kunjungan wisatawan akan membangkitkan geliat ekonomi masyarakat setempat. Imbasnya diharapkan dapat dirasakan juga oleh masyarakat NTT umumnya, termasuk warga di kampung Makipaket. Semoga!
By. CHRIS PARERA

1 Komentar

  1. jaya indonesiaMU malang nusatenggara timurKU,.. sudah hampir 80 tahun indonesia merdeka, kenapa kampung halamanku masi langganan miskin? apakah JAKARTA masi menganggap NTT, sebagai anak pungut? ataukah NTT memang berstatus anak pungut?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.