“TETAPI KETIKA PADA HARI KETUJUH ADA DARI BANGSA ITU YANG KELUAR MEMUNGUTNYA, TIDAKLAH MEREKA MENDAPATNYA” (Kel. 16:27).
Hari libur diterjemahkan dari kata “holiday” yang artinya: “hari kudus”. Terjemahan yang tepat, sebab hari libur di hari Sabat dihayati sebagai hari yang kudus. Karena hari libur di hari Sabat dalam penghayatan umat Israel bukan sekedar hari libur di mana umat boleh bersenang-senang dan melampiaskan keinginan manusiawinya. Sebaliknya pada hari Sabat, umat Israel wajib berhenti dari seluruh pekerjaannya karena Allah menguduskan dan berhenti dari karya penciptaanNya. Makna hari Sabat dalam teologi umat Israel bukan sekedar umat harus berhenti dari pekerjaan dan aktivitasnya, tetapi karena Allah sang pencipta bersedia berhenti bekerja untuk menguduskannya. Dengan demikian hari Sabat menjadi hari yang kudus. Umat berhenti bekerja karena Allah menguduskan, sehingga seluruh hari yang telah mereka jalani menjadi bermakna dan berakhir dengan pengudusan. Karena itu dengan berkat dan pengudusan pada hari Sabat, umat Israel dapat memulai kembali aktivitas dan pekerjaannya pada hari-hari selanjutnya dengan perspektif iman yang baru. Mereka bekerja bukan sekedar mencari nafkah, tetapi mereka bekerja untuk merespon berkat dan pengudusan Allah. Dengan demikian makna umat bekerja yang sesungguhnya bertujuan untuk menguduskan kehidupan agar menjadi bermakna di hadapan Allah dan sesama. Namun dalam kondisi tertentu penghayatan iman umat Israel seringkali bergeser. Saat umat Israel berada di padang gurun dalam kondisi kesulitan makanan, mereka secara sengaja melanggar kekudusan hari Sabat. Umat Israel lebih memilih untuk mengumpulkan manna dengan harapan dapat memperoleh makanan yang lebih berlimpah. Mereka memaknai pengudusan hari Sabat dengan sikap serakah.
Umat Kristen melaksanakan ibadah pada hari Minggu, bukan semata-mata karena pengudusan hari Sabat. Karena makna ibadah pada hari Minggu secara khusus merayakan kebangkitan Kristus. Memang dalam merayakan kebaktian hari Minggu, gereja Tuhan dalam perjalanan sejarahnya menyatukan pengudusan hari Sabat (hari Sabtu) dengan peristiwa kemenangan Kristus. Karena itu ibadah hari Minggu memiliki 2 dimensi yang terkait, yaitu dimensi pengudusan sebab Allah menguduskan hari Sabat dan dimensi tindakan Allah yang membangkitkan Kristus untuk mengalahkan maut. Kedua dimensi tersebut menjadi satu-kesatuan saat umat Kristen melaksanakan ibadah pada hari Minggu. Jadi kedua dimensi tersebut bermuara kepada pengudusan diri sebab Kristus telah bangkit mengalahkan kuasa maut. Untuk itu umat percaya perlu merespon peristiwa kebangkitan Kristus dengan pengudusan diri, sehingga umat tidak lagi hidup menurut kehendak dan keinginan daging. Dalam menghayati makna ibadah hari Minggu, umat percaya tidak perlu membuang begitu saja nilai-nilai spiritualitas yang terkandung dalam hukum hari Sabat. Sebaliknya nilai-nilai spiritualitas hari Sabat seharusnya semakin diperdalam maknanya dalam perspektif kebangkitan Kristus. Dengan sikap spiritualitas yang demikian, umat percaya juga tidak akan bertindak seperti umat Israel saat mereka di padang gurun. Yang mana umat Israel berupaya bekerja untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya makanan dengan harapan dapat memiliki persediaan yang lebih memadai. Namun catatan kesaksian kitab Keluaran justru mengejutkan, karena ternyata rezeki dan berkat yang diharapkan oleh umat Israel tidak semakin bertambah saat mereka melanggar pengudusan hari Sabat. Kel. 16:27 menyaksikan: “Tetapi ketika pada hari ketujuh ada dari bangsa itu yang keluar memungutnya, tidaklah mereka mendapatnya”.
Menurut hukum ekonomi, semakin banyak waktu yang kita pakai untuk mengumpulkan uang, manusia akan memperoleh simpanan (saving) yang lebih besar. Hukum ekonomi tersebut dibangun di atas dasar pemahaman manusia sebagai mahluk yang ekonomis. Itu sebabnya muncul filosofi “time is money”. Nilai waktu diukur dari nilai mata uang. Filosofi tersebut dalam pengertian sempit dapat memperdangkal makna keberadaan manusia. Seakan-akan keberadaan diri manusia diukur dari banyaknya materi dan kekayaan yang berhasil dikumpulkan. Padahal makna keberadaan manusia ditentukan oleh nilai yang lebih utama, yaitu apakah dia menjadi lebih manusiawi dan mencerminkan gambar-rupa Allah dengan apa yang dia miliki. Dunia sering menempatkan nilai “memiliki” lebih utama dari pada nilai “menjadi”. Karena itu manusia sering bekerja keras sedemikian rupa untuk menambah apa yang telah dimiliki, atau menghalalkan cara untuk memperoleh milik sebanyak-banyaknya. Dengan pemahaman yang demikian, manusia terjebak dalam sikap serakah. Manusia sering tidak pernah puas dengan apa yang telah dimilikinya. Sikap umat Israel yang terus mengumpulkan manna pada hari ketujuh karena mereka tidak lagi menempatkan makna pengudusan hari Sabat dengan sikap hormat. Mereka ingin mengambil waktu pengudusan hari Tuhan menjadi kesempatan untuk menambah jumlah makanan. Dengan pengabaian terhadap pengudusan hari Tuhan, umat Israel menempatkan dirinya sebagai para budak yang menghamba kepada Mammon dan dunia perut. Dalam realita hidup sehari-hari, umat percaya juga dapat berlaku seperti umat Israel. Mereka terus bekerja tanpa mengenal lelah, sehingga tidak lagi mampu memaknai karya Kristus yang bangkit dan telah membebaskan mereka dari belenggu kuasa maut.
Padahal secara manusiawi, manusia tetaplah mahluk yang terbatas dan lemah. Setelah bekerja keras, manusia juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Di saat umat percaya beristirahat, mereka juga membutuhkan penyegaran rohani dengan merenung, berdoa, berefleksi dan melayani sesama. Dengan beristirahat, umat percaya memulihkan kembali sumber kekuatannya kepada Allah. Karena itu dengan beristirahat pada hari yang dikuduskan Allah, umat percaya mengalami “penciptaan kembali”. Makna penciptaan kembali disebut dengan “rekreasi” yang berasal dari kata “re” dan “creation”. Tujuan “rekreasi” adalah pemulihan yang menyeluruh secara rohaniah dan jasmaniah, sehingga mereka dapat menjalankan perannya sebagai ciptaan Allah yang baru. Demikian pula keberadaan Tuhan Yesus sebagai seorang manusia. Setelah Tuhan Yesus bekerja dan melakukan perjalanan yang cukup jauh, Injil Yohanes menyaksikan Dia menjadi sangat letih. Untuk itu Tuhan Yesus tidak memaksakan diri atau menggunakan kuasa ilahiNya untuk memulihkan keletihan manusiawiNya. Sebaliknya Tuhan Yesus mengambil keputusan untuk duduk beristirahat di pinggir sumur. Dengan sikap duduk dan beristirahat, Tuhan Yesus dapat memulihkan kembali kondisi tubuhNya yang letih agar dapat melakukan pekerjaan Allah secara prima. Jika Tuhan Yesus yang adalah inkarnasi Firman Allah menghargai nilai istirahat, seharusnya kita selaku umat percaya juga menghargai dengan berhenti dan menguduskannya sebagai hari Tuhan. Pada hari Tuhan, kita secara khusus beristirahat dengan mengulurkan tangan, memberi pelayanan dan kepedulian kepada sesama di sekitar kita. Dengan spiritualitas yang demikian, kita berperan untuk “menciptakan kembali” sesama yang terluka dan menderita.
Doa:
Ya Allah, Engkau bekerja untuk menciptakan langit dan bumi selama 6 hari dan pada hari ketujuh
Engkau berhenti dan menguduskannya. Ampunilah kami yang seringkali bersikap serakah
dengan menggunakan seluruh waktu untuk kepentingan diri, sehingga kami tidak memiliki waktu
khusus untuk mempermuliakan namaMu. Mampukanlah kami untuk menghargai keberadaan
kami dalam perspektif hidup yang kudus dan kemenangan Kristus atas maut. Amin.
Engkau berhenti dan menguduskannya. Ampunilah kami yang seringkali bersikap serakah
dengan menggunakan seluruh waktu untuk kepentingan diri, sehingga kami tidak memiliki waktu
khusus untuk mempermuliakan namaMu. Mampukanlah kami untuk menghargai keberadaan
kami dalam perspektif hidup yang kudus dan kemenangan Kristus atas maut. Amin.
By. PDT. YOHANES BAMBANG MULYONO
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.



Tinggalkan komentar