OPM Digerakan Dari Belanda


sergapntt.com [JAKARTA] – Sejumlah atribut yang berhubungan dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) dipajang di sebuah etalase toko di Amsterdam, Belanda. Tidak hanya atribut, toko ini pun menampung donasi dari berbagai pihak untuk mendukung kegiatan OPM.
Cerita ini disampaikan staf khusus Gubernur Sulut Bidang Investasi, Jackson Kumaat yang kebetulan tengah berada di negeri kincir angin tersebut. Jackson menceritakan, atribut-atribut yang ia lihat ini berada di sebuah bangunan ruko beralamat di Filiaal 0024 Kalverstraat 71 Amsterdam Belanda.
“Bagi sebagian besar warga Belanda yang tinggal di Belanda, kebebasan berekspresi dan pluralisme merupakan sikap yang dijunjung. Tapi bagi saya, pemasangan bendera OPM di sebuah bangunan ruko di Filiaal 0024 Kalverstraat 71 Amsterdam Belanda ini, merupakan ‘sinyal bahaya’ dalam menjaga keutuhan NKRI,” ujar Jackson Kumaat.
Di toko itu, Jackson Kumaat melihat berbagai atribut Papua Merdeka. Mulai dari bendera, spanduk, poster, cindera mata dan foto-foto yang mengisahkan perjalanan menuju kemerdekaan Papua. Toko tersebut, jelas Jackson, mirip sebuah kantor LSM.
Bukan hanya menampilkan atribut-atribut OPM, ruko ini juga menerima donasi atau sumbangan bagi kegiatan lobi Papua Merdeka di luar negeri, khususnya di Belanda. Saat mengunjungi ruko itu, Jackson sempat berbincang dengan seorang petugasnya. Warga negara Belanda ini menilai, dukungan negara-negara Eropa sangat penting dalam mendukung kemerdekaan Papua.
Dari informasi yang diperoleh, pemilik ruko itu bernama Boodschap van Benny Wenda. “Saya berharap Papua dan Papua Barat segera merdeka. Negara-negara Eropa perlu mendukung kami agar pemerintah Indonesia menggelar referendum, untuk menentukan masa depan kedua provinsi tersebut,” jelas Jackson menirukan perkataan pria tersebut.
Informasi lain menyebutkan perjuangan Papua merdeka digerakan dari Belanda. Bahkan sejumlah pimpinan gerilyawan Papua berada di Belanda guna mencari dukungan politik, dana dan persenjataan untuk pasukannya di Papua.
Sementara itu, kondisi keamanan di Papua kembali memanas dengan maraknya aksi penembakan yang dilakukan kelompok sipil bersenjata terhadap polisi. Polri menduga dalang yang berada pada aksi penembakan ini dilakukan dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) kelompok Felix Walik.
“Kita masih dalami terus apakah kelompok ini masih berkorelasi dengan kelompok Felix Walik,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Boy Rafli Amar.
Boy memaparkan polisi pernah menangkap Felix Walik pada Desember 2009 lalu. Ia menduga anggota OPM kelompok Felik Walik ini melakukan balas dendam dengan melakukan aksi penyerangan kepada polisi yang sedang bertugas, khususnya petugas yang berjaga dalam jumlah minim.
Menurutnya, untuk menangkap Felix Walik, polisi membutuhkan proses penyelidikan yang cukup panjang dan diakuinya tidak mudah. Maraknya aksi penembakan ini, lanjutnya, akan diurai perlahan-lahan oleh polisi untuk menemukan pimpinannya. “Sama seperti kita berjuang untuk menangkap tokoh mereka pada 2009. Itu kan salah satu proses panjang yang dilakukan polisi di sana. Bukan berarti kita defensif,” tegasnya. ia menambahkan salah satu upaya dalam menangkap pimpinan kelompok separatis dengan bekerjasama dengan tokoh-tokoh masyarakat, suku dan adat di Papua.
Polri menduga tahun 2011 ini akan menjadi puncak penyerangan kelompok separatis atau kelompok sipil bersenjata terhadap polisi. Hingga awal November 2011, telah terjadi sedikitnya sembilan kali aksi penembakan.
“Gerakan-gerakan ini sudah ada sejak puluhan tahun. Mereka masih melakukan aktivitas seperti itu (penyerangan terhadap polisi),” kata Kombes Boy Rafli Amar.
Pada 2011 ini aksi penembakan terhadap polisi semakin meningkat. Pada 2009, sedikitnya terjadi delapan kali aksi penembakan dan langsung menurun drastis pada 2010 yang hanya terjadi satu kali. Kemudian pada 2011 hingga awal November, telah terjadi sedikitnya sembilan kali aksi penembakan.
Pada 15 Desember 2009, polisi berhasil menangkap pimpinan Organisasi Papua Merdeka (OPM), Velix Walik. “Setelah tertangkap gembongnya pada 15 Desember 2009, langsung menurun drastis pada 2010, hanya satu kali pada 24 Januari 2010 di Mil 61,” jelasnya.
Namun tiba-tiba, aksi penembakan terhadap polisi semakin meningkat pada 2011. Tercatat ada sembilan aksi penembakan di Papua hingga awal November 2011. Diawali pada 6 April di Tanggul Timur Freeport dengan korban luka-luka dan juga pada 7 April 2011. Kemudian pada 14 Oktober juga di Tanggul Timur Freeport yang menyebabkan dua orang meninggal dunia.
Lalu terjadi tiga kali aksi penembakan di lokasi yang berbeda pada 21 Oktober yaitu di Mil 36,37 dan 40. Akibatnya satu orang pekerja Freeport meninggal dunia. Pada 29 Oktober 2011, terjadi di Mil 36, namun penembakan hanya terkena bak belakang mobil patroli. Dilanjutkan pada 5 November yang terjadi di Mil 42 dan 43 serta yang terakhir pada 7 November di Mil 45. “Di kawasan pegunungan di Papua, dia (Velix Walik) memang pimpinan OPM, pangkatnya kalau tidak salah Jenderal. Kita masih melakukan pendalaman apakah ini bagian kelompok dia yang lama itu,” ujarnya.
By. EGE

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.