Mengintip Kekuatan Militer Israel (2)


sergapntt.com [TEL ALVI] – Al Ahram, surat kabar resmi pemerintahan Mesir menurunkan sebuah artikel yang memuji pimpinan tertinggi Mossad, Meir Dagan. Kepala Mossad ini disebut sebagai Superman dari Israel.  Artikel yang memuji Israel ini ditulis Asyraf Abu al-Hawl, mantan pemimpin Al-Ahram Biro Gaza. Asyraf Abu al-Hawl memuji Meir Dagan dengan programnya melumpuhkan rencana-rencana Hizbullah, Hamas, Jihad Islam, Suriah dan pengembangan nuklir Iran.
Dalam artikel tersebut, diucapkan pula rasa terima kasih pada Meir Dagan yang telah menjadi arsitek pembunuhan Imad Mughniyeh; di dalam peristiwa pemboman Deir az-Zor. Artikel kontroversial ini mendapat perhatian banyak pihak. Pihak Israel tidak memberikan pernyataan apapun tentang klaim-klaim yang disebutkan sebagai rancangan Mossad dan Meir Dagan.
Di dalam negeri Mesir sendiri, artikel ini ditanggapi sebagai film yang aneh. Biasanya, halaman depan di harian al Ahram berisi tentang laporan-laporan positif pemerintahan Mesir dan pencapaian-pencapaian Husni Mubarak. Tapi pada kali ini, justru al Ahram terbit dengan memuji Mossad dan Meir Dagan sebagai Superman.
Beberapa pihak menyebutkan, terbitnya al Ahram edisi ini seolah mengirimkan pesan tentang posisi Mesir di depan Israel. Berbeda dengan Dagan, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu justru mendapat julukan ”bodoh dan gila” oleh Menteri Luar Negeri Kuwait, Syaikh Mohammad al Sabah. Jadi, jika Mesir memuji-muji Meir Dagan, ada apa di belakang ini semua?
Tiga tahun berlalu sejak perang 33 hari di Libanon, para pejabat tinggi   Zionis Israel menyatakan bahwa struktur militer tengah dilanda krisis serius menyusul gelombang pengunduran diri para perwira tinggi militer Israel. Koran Yedeot Aharonot dalam sebuah laporannya menulis, maraknya aksi pengunduran diri para perwira militer Israel ini merupakan pukulan berat bagi militer Zionis.
Koran Zionis itu menambahkan, pasca perang Libanon, tiga kolonel Israel mengundurkan diri. Bahkan Menteri Peperangan Israel saat itu, Amir Peretz, dan Ketua Staf Gabungan Militer Israel, Dan Halutz, juga terpaksa mengundurkan diri karena gagal memaksa Gerakan Perlawanan Islam Libanon (Hizbullah) bertekuk lutut.
Dalam hal ini para pejabat tinggi Israel mengatakan, Angkatan Bersenjata Israel menghadapi kerugian yang sangat besar dan gelombang pengunduran diri para pejabat tinggi militer Zionis. Ini merupakan di antara kerugian terburuk. Menurut keterangan seorang pejabat dalam Komisi Kedua Seleksi Tingkat Kelayakan Perwira Tinggi Israel, pengunduran diri para perwira Israel itu akan memperlemah koordinasi kepemimpinan pusat militer Israel. Kekalahan dalam perang 33 hari di Libanon selain merupakan pukulan telak bagi Israel, juga menghancurkan pamor   Zionis sebagai kekuatan tak terkalahkan di kawasan Timur Tengah.
Namun apakah krisis yang melanda Israel ini membuat para pejabat Tel Aviv menghentikan agresi dan brutalitasnya di kawasan. Tidak! Berbagai laporan yang ada menunjukkan berlanjutnya aksi pelanggaran dan brutalitas   Zionis Israel di Palestina dan Libanon. Bahkan dalam beberapa waktu terakhir, para pejabat tinggi Israel gencar melancarkan ancaman untuk kembali menyerang Libanon.
Semua pihak mengetahui bahwa untuk saat ini Israel tidak memiliki cukup kekuatan untuk menyerang Libanon. Apalagi untuk menggulirkan perang masif seperti yang diklaim oleh Menteri Peperangan Israel, Ehud Barak.
Brutalitas dan agresi adalah dua hal yang tidak mungkin dapat dihindari oleh   Zionis Israel, mengingat  Zionis dibentuk di atas penjajahan, pembantaian, kejahatan, dan arogansi. Dalam hal ini Sekrataris Jenderal Hizbullah, Sayyid Hassan Nasrullah menyatakan, muqawama tidak menginginkan peperangan, namun pada saat yang sama juga tidak gentar menghadapi segala kemungkinan serangan dari Israel.
Meski terdapat ancaman dari Israel untuk menyerang Libanon, namun Sayyid Nasrullah menepis kemungkinan meletusnya perang dalam waktu dekat. Menurutnya, gertakan Israel tersebut bertujuan mengacaukan proses pembentukan pemerintahan nasional bersatu Libanon. Para pejabat Hizbullah berpendapat bahwa hingga kini Israel masih kebingungan menentukan strategi melawan muqawama (perlawanan), sedangkan Hizbullah telah menyusun strategi yang jelas untuk menghadapi segala bentuk ancaman dan serangan dari   Zionis Israel
Sebuah komite militer Israel akan merekomendasikan tentara perempuan bertempur di garis depan. Laporan ini akan disampaikan ke Knesset (parlemen Israel) pekan depan. Tentara perempuan dan lelaki pernah bersama-sama bertempur sebelum 1948. Namun setelah negara Israel terbentuk, para tentara perempuan itu dipindahtugaskan di belakang meja.
Komite yang dibentuk departemen sumber daya manusia ini juga akan memberlakukan masa wajib militer yang sama yakni tiga tahun. Selama ini tentara perempuan hanya bertugas dua tahun.
Rencana ini disambut baik Yehudit Ben-Natalan, pensiunan jenderal yang kini mengepalai korps tentara perempuan. “Jiwa dan semangat tentara adalah bertempur dan jika kita di tentara kita harus menjadi jiwanya,” katanya kepada Radio Israel.
Dalam Perang Libanon, Juli tahun lalu, sejumlah kecil tentara perempuan Israel ditugaskan menembakkan artileri, kapal perang, maupun pilot pesawat tempur. Bahkan, Keren Tendler, teknisi pesawat tempur, tewas lantaran helikopternya ditembak jatuh Hizbullah.
Radio Israel melaporkan, komite itu telah menekan pihak militer agar melaksanakan rekomendasi itu lima tahun mendatang. “Seharusnya dilakukan sejak lama, tapi lebih baik terlambat daripada tidak pernah,” ujar Ben-Natan.
By. CHE

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.