Afrika Selatan Dikuasai Geng, Polisi Tak Bisa Berbuat Apa-Apa


sergapntt.com [AFSEL] – Pemerintah Afrika Selatan (Afsel) sedang berupaya habis-habisan untuk menumpas kelompok-kelompok kriminal yang jumlahnya cukup banyak di negaranya. Tidak tanggung-tanggung, pemerintahan setempat mengirim ribuan tentara untuk membasmi kelompok yang lebih dikenal sebagai Geng itu. Menurut wartaXinhua pada Senin (28/11/2011), militer telah berangkat ke Cape Town.
“Tentara akan bekerja sama dengan unit khusus kepolisian. Kami mengincar salah satunya, kawasan Lavender Hill yang paling rawan terhadap kekerasan geng,” kata Juru Bicara Kepolisian Cape Town Barat Letnan Kolonel Andrè Traut.
Anggota geng yang saling bertikai memang terbilang meresahkan masyarakat. “Tiap hari ada saja yang mati dalam baku tembak antar geng,” terang Traut.
Sejak beberapa bulan lalu, tercatat sudah 64 orang tewas dalam pertikaian tersebut. Perjanjian perdamaian antar geng bertikai hanya berumur beberapa bulan. “Sesudah itu, mereka saling berperang kembali,” imbuh Traut.
Menurut petugas di komunitas di kawasan Steenberg, Cape Town, kevin Southgate, andai tindak kekerasan para geng ini tidak bisa diredam, maka bisa dipastikan negara akan menetapkan situasi gawat darurat.
Ya,,, gangster dan kiriminal, kini menjadi dua isu besar di Afsel.  Gangster seolah sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Afrika Selatan. Geng beserta anggotanya menjamur seperti jamur di musim hujan, bahkan menjadi tiang kriminalitas. Itu sebabnya, pengiriman tentara yang dilakukan oleh pemerintah diprediksi oleh sebagian pengamat sosial dan militer akan menuai kegagalan.
Banyaknya geng dan keleluasaan gerak mereka, berbanding lurus dengan citra Afsel sebagai negeri dengan tingkat kriminal tertinggi. “Di negeri ini, sepertinya setiap blok ada geng penguasanya. Ketika cara hidup normal sulit dijalani, orang akan dengan mudah memilih jalan hidup sebagai anggota geng,” tutur Chris Mullins, mantan anggota geng yang pernah beberapa kali mendekam di penjara.
Bicara geng sama halnya bicara kekerasan, pemerkosaan, perampokan, peredaran obat terlarang, dan pembunuhan. Begitulah kehidupan mereka. Mereka mencoba membangun masa depan, membangun identitas, membangun kehormatan, mengangkat martabat, membangun rasa aman, memperbaiki kehidupan, dan membangun komunitas lewat geng. Pasalnya, sebagian besar anggotanya merasa gagal atau tak mendapat jalan dalam kehidupan normal.
“Orang butuh makan dan memenuhi kebutuhan lainnya. Jika gagal, maka mereka akan mudah masuk geng sebab geng juga menawarkan banyak hal,” kata Chris Mullins lagi.
Dan, sejak zaman apartheid, geng menjadi alternatif yang cukup populer bagi sebagian orang, terutama warga coloured dan kulit hitam, sebagai kendaraan mengarungi kehidupan. Setelah apartheid dihapus sejak awal 1990-an, geng terus menjamur.
Kekerasan, pemerkosaan, perampokan, pencurian, dan pembunuhan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan geng.
Kota Cape Town, Port Elizabeth, dan Johannesburg paling banyak memiliki geng. Ada yang mengorganisasi diri sebagai pembajak mobil, perampok bank, pembobol ATM, permerkosa, pembunuh, juga terutama pemasar narkoba. Mereka bekerja sangat rapi, bahkan terkadang mampu menjalin kerja sama dengan polisi.
Mantan Presiden Interpol Afsel yang juga mantan komisioner polisi nasional Afsel, Jackie Selebi, bahkan sampai disidang. Dia didakwa menerima suap dari seorang pemimpin geng di Johannesburg, Glenn Agliotti.
Di Soweto, misalnya, ada geng yang cukup ditakuti, yakni Jackroll. Mereka sering memerkosa wanita, sekalipun di depan umum. Sampai-sampai, orang yang melakukan pemerkosaan atau perampokan sering disebut jackrolling.
Ada pula geng yang tak bernama, tetapi aktivitas mereka dalam dunia kriminal sangat tinggi. Mereka biasanya para imigran gelap dari Zimbabwe, Mozambik, Namibia, dan sebagainya. Karena sulit mendapat pekerjaan di Afsel, mereka akhirnya menjadi kriminal dan terorganisasi. Bahkan, banyak di antara mereka yang sebelumnya adalah tentara di negaranya.
Cape Town lebih kental dengan kehidupan geng. Di kota pelabuhan itu, kegiatan utama geng adalah menjual narkoba secara sembunyi-sembunyi. Jumlah mereka sangat banyak dan bekerja rapi.
Banyak yang mengatakan, Americans adalah geng terbesar di Cape Town, bahkan mungkin di Afsel. Mereka memiliki anggota sampai 5.000 orang. Selain itu, ada nama-nama Mongol, Fast Guns, Yakkies, Nice Time Kids, Hell Street Dudes, Playboys, Sexy Boys, Jermany, Russians, dan sebagainya.
Hampir semua geng selalu bersenjatakan pistol. Maklum, di Afsel, dengan uang 100 rand (sekitar Rp 130.000) atau 200 rand (sekitar Rp 260.000), seseorang bisa mendapatkan pistol. Afsel punya hukum yang melegalkan kepemilikan senjata api, tetapi tentu dengan persyaratan ketat. Walau demikian, kenyataannya, banyak senjata ilegal yang beredar dan menjadi bagian dari kehidupan geng.
Geng seolah begitu membudaya di Afsel. Di penjara pun ada geng. Di Penjara Pollsmoor yang paling terkenal, misalnya, ada tiga geng berpengaruh dan dikenal serta ditakuti masyarakat. Nama geng mereka menggunakan nomor, yakni “26”, “27”, dan “28”. Begitu keluar dari penjara, posisi mereka di dunia kriminal akan sangat tinggi.
Selain memiliki aktivitas kriminal, geng-geng ini juga sering berselisih. Maka dari itu, sering pula terjadi perang antargeng. Biasanya penyebabnya perebutan pasar narkoba atau dendam.
Untuk melawan kriminal di Afsel, salah satunya harus melawan geng. Namun, itu pekerjaan berat karena banyak geng yang sudah begitu kuat. Bahkan, mereka sering mencoba menguasai polisi. Salah satunya dengan menyuap atau memberi upeti.
Jika pun tidak, maka mereka berani melawan polisi. Sejak tahun 2000, dalam catatan pemerintah sudah ada 17.000 polisi lebih yang tewas akibat kekerasan atau bentrok dengan para kriminal dan anggota geng.
Hal itu terasa lebih karena kehidupan geng amat dekat dengan masyarakat. Bahkan, anak-anak kecil pun tahu dan sebagian mengidolakan mereka. Padahal, merekalah salah satu tiang kriminal di Afsel. Bahkan polisi pun tak bisa berbuat apa-apa, walau tindak kriminal yang dilakukan para geng di depan mata kepala polisi.
By. LORD

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.