sergapntt.com [MENIA] – Potensi budidaya rumput laut yang kini kembali menggeliat di Kabupaten Sabu Raijua dan saat ini hasil rumput laut melimpah, para petani rumput laut menghadapi kendala serius yakni harga rumput laut anjlok. Anjloknya harga rumput laut di Sabu Raijua dikeluhkan masyarakat petani, sehingga mereka berharap ada intervensi pemerintah dalam mengimbangi harga rumput laut di tingkat petani.
Hal ini disampaikan salah satu tokoh masyarakat yang juga petani rumput laut, Hendrik Leo Age dari Kecamatan Raijua kepada Timor Express di Menia, Selasa (29/11). Dikatakan, harga rumput laut di Raijua saat ini berkisar antara Rp 4.500 hingga Rp 6.000 perkilo, sehingga sangat merugikan masyarakat setempat.
Disisi lain, jika masyarakat menahan dan tidak mau menjual hasil rumput lautnya, mereka diperhadapkan pada kehidupan sehari-hari mereka yang hanya bergantung pada penghasilan dari bertani rumput laut.
“Sekarang kan rumput laut di Raijua sudah bagus. Hasilnya melimpah, tapi sayang harganya terlalu di bawah. kalau ada yang berani ambil, maka harga tertinggi hanya sampai enam ribu rupiah,” ujarnya.
Dengan harga yang demikian murah, maka petani rumput laut jelas dirugikan jika dibandingkan dengan modal yang dikeluarkan maupun tenaga dan waktu untuk bertani rumput laut. Ditanya mengenai koperasi pemerintah yang dikelola Disperindag yang juga mengumpulkan rumput laut, Hendrik mengaku kalau saat ini intervensi koperasi belum kelihatan di Raijua, sehingga memberi peluang kepada para pialang maupun rentenir yang menggunakan kesempatan dengan melihat kondisi ekonomi masyarakat yang demikian sulit.
“Memang dulu kopersi sempat masuk ke Raijua dengan harga yang sudah ditentukan sebesar Rp 9.000 perkilogram, namun entah karena modalnya kurang atau apa, koperasinya tidak pernah datang lagi menimbang hasil rumput laut petani,” jelasnya.
Dikatakan, saat ini masa jaya rumput laut sebelum dilanda pencemaran laut kini sudah kembali dan hasilnya sudah seperti dulu. Khusus untuk pulau Raijua hampir seluruh masyarakat membudidaya rumput laut, sehingga jika koperasi hendak mengambil hasil dari petani, maka membutuhkan modal yang cukup banyak untuk mengcover semua hasil rumpt laut yang ada dipulau tersebut.
“Hasil rumput laut di Raijua entah berapa ratus ribu ton sehingga kalau mau mengcover semua hasil, maka membutuhkan uang yang cukup banyak. Kalau tidak, maka para pialang atau rentenir rumput laut akan bermain di air keruh. Yang rugi adalah masyarakat karena harga rumput laut tidak sebanding dengan modal, tenaga maupun waktu yang telah dihabiskan untuk menghasilkan rumput laut. Untuk itu kami sangat berharap agar pemerintah memikirkan solusi bagi harga rumput laut ini, sehingga semangat masyarakat untuk bekerja juga akan semakin tinggi. Kalau tidak untuk apa kita tanam rumput laut kalau toh itu tidak menguntungkan petani walaupun hasilnya melimpah,” tukasnya.
By. ANR
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar