sergapntt.com [SOE] – Upaya pemerintah untuk menghindari bencana rawan pangan di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) mulai terbentur. Jika tahun sebelumnya masyarakat mengalami gagal tanam dan gagal panen, kali ini berbeda.
Di Desa Tetaf Kecamatan Kuatnana misalnya, masyarakat yang mendapat bantuan bibit jagung dari pemerintah desa diduga rusak sebelum ditanam. Pasalnya, selain kondisi bibit yang sebagian menghitam, masyarakat mengeluh karena sesudah ditanam hingga empat sampai lima hari tak kunjung tumbuh.
Beberapa warga yang ditemui wartawan, Rabu (30/11/11) mengisahkan, telah menerima bibit tersebut pertengahan November lalu. Namun setelah ditanam, hampir tidak ada yang tumbuh. Sehingga mereka menggantikan bibit yang mereka miliki.
“Kami dibagi setiap KK dapat satu kilogram. Jadi kami tanam tapi tidak ada yang tumbuh sampai sekarang. Jadi kami tanam ganti pakai kami punya bibit dan sudah tumbuh,” ujar salah satu warga, Yohana Neonali.
Hal yang sama diungkapkan Anderias Taniu yang juga adalah Kaur Pem Desa Tetaf. Anderias mengisahkan, setelah mendapat bagian, dia mencoba menanam jagung tersebut. Namun karena tidak tumbuh setelah menunggu hingga lima hari, dia mencoba menggali kembali untuk melihat bibit yang telah ditanamnya. Namun ternyata bibit tersebut telah mengembang dan hancur saat disentuh.
Kepala Desa Tetaf, Marthen Kause yang dikonfirmasi mengaku, bibit jagung tersebut dibagi secara gratis kepada seluruh masyarakat desa tersebut.
Menurut Marthen, bibit tersebut diadakan menggunakan dana ADD sebesar Rp 15,6 juta untuk 1.200 kilogram. Bukan diadakan oleh aparat desa, namun oleh pemerintah kecamatan. Dia mengungkapkan sistem pengadaan seperti itu telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Namun untuk tahun 2011 menuai masalah.
“Memang uangnya dari desa, namun ada staf di kecamatana, namanya Agustinus Neonane yang proses ini semua. Jadi bukan hanya desa kami yang dapat tapi ada tujuh desa di Kecamatan Kuatnana yang prosesnya sama begini. Jadi kami hanya menunggu untuk terima di tempat. Ini sistem yang sudah diatur dari tingkat atas, kalau tidak saya sebagai kepala desa tidak setuju. Karena kalau mau beli, mendingan saya langsung ke toko dan beli sesuai kebutuhan,” ujar Marthen kesal.
Dia menambahkan, setelah dibagikan, banyak masyarakat yang mengaku karena bibit jagung yang ditanam tidak tumbuh. Sehingga pihaknya telah melaporkan kepada pihak kecamatan melalui Agustinus Neonane. “Saya sudah kasih tahu dan mereka siap ganti. Kalau dugaan kami, jagung ini baru dipanen sehingga belum sempat dijemur dengan baik, sehingga rusak. Apalagi jagung juga tidak ada kemasan dan hanya diisi di dalam kantong plastik dan karung,” imbuhnya.
Sementara, Agustinus Neonane yang dikonfirmasi per telepon mengakui hal tersebut. Agustinus menjelaskan, bibit jagung tersebut dibelinya dari salah satu penangkar bibit binaan Dinas Pertanian di Kecamatan Batuputih.
Disebutkan, dirinya membeli bibit sebanyak tujuh ton dari penangkar tersebut dengan harga Rp 13 ribu per kilogram. Terkait bibit yang rusak, Agustinus mengaku akan mengganti sesuai kerusakan. Namun dia mengatakan akan membeli dari penangkar yang sama.
“Kami sudah dapat laporan dan untuk sementara baru dari Desa Tetaf. Itu jagung jenis Lamuru dari penangkar di Batuputih dan kami akan ganti 50 persen dari penangkar itu juga. Nanti hari Jumat kami akan antar,” janji Agustinus.
By. SOS
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar