sergapntt.com [ATAMBUA] – Lima desa di Kecamatan Lamaknen Kabupaten Belu yakni Desa Duarato, Mahuitas, Kewar, Leowalu dan Dirun mengalami kelaparan akibat ketiadaan bahan pangan. Karena kehabisan pangan, masyarakat kini mengandalkan umbi-umbian di hutan untuk memenuhi kebutuhan makanan.
Hal ini dikatakan Camat Lamaknen, Ulu Kornelis ketika ditemui wartawan di kantor bupati Belu. Dikatakan, berdasarkan hasil pengamatannya dilapangan, pada kecamatan yang dipimpinannya terdapat lima desa yang kelaparan akibat ketiadaan bahan makanan seperti padi, jagung maupun umbi-umbian. Karena kelaparan, masyarakat di lima desa itu mengandalkan umbian hutan seperti talas hutan, ubi hutan (fehuk laku) maupun jenis makanan yang disediakan oleh alam.
Pihaknya telah turun ke desa-desa dan mendapatkan sebagian besar kehidupan masyarakat di lima desa sangat sulit mengatasi kekurangan bahan makanan saat ini dan diperparah dengan kemarau yang terus melanda.
“Kami sudah turun ke desa-desa tersebut untuk melihat kondisi riil. Ternyata benar, karena masyarakat benar-benar lapar dan mengandalkan umbi hutan,” paparnya seraya melanjutkan, selain kelaparan, lima desa itu juga kekurangan air bersih. Sebab, masyarakat hidup di lereng bukit dan gunung.
Bagi masyarakat yang berada di pinggiran kali, tidak bermasalah karena masih mengusahakan penanaman jagung dan sayur-sayuran. Sayangnya, ia tidak menghafal berapa jumlah kepala keluarga yang dilanda kelaparan. Akan tetapi dia memperkirakan mencapai ratusan kepala keluarga.
Mantan Lurah Manuaman Kecamatan Atambua Selatan itu mengutarakan, pihaknya telah menyampaikan laporan kepada Pemerintah Kabupaten Belu. Dia berharap, bantuan dan intervensi mengatasi kelaparan pada lima desa tersebut segera dilakukan. Jika tidak, akan berakibat fatal bagi kehidupan masyarakat setempat.
“Kami berharap bantuan segera diturunkan. Jika tidak akan berakibat buruk bagi masyarakat,” ungkapnya.
Ditanya terkait dengan bantuan atau beras intervensi kelaparan terutama beras padat karya untuk mengatasi rawan pangan dan kelaparan, dia mengatakan, pihaknya sudah mendengar hal itu akan tetapi hingga saat ini belum terealisasi. Jika beras padat karya telah ada, pastinya masyarakat bisa terbantu. “Beras padat karya belum turun. kalau sudah turun pasti akan membantu sekali,” ujarnya.
Dia menambahkan, pihaknya saat ini terus berkoordinasi dengan Dinas Sosial Nakertrans untuk mengatasi rawan pangan dengan mendorong beras padat karya.
Pada kesempatan itu dia menjelaskan, beruntung ada beras miskin (raskin) jika tidak ada pastinya warga yang kelaparan bisa mencapai ribuan kepala keluarga.
Terpisah, Kadisosnakertrans Kabupaten Belu, Arnold Bria Seo yang dihubungi menyatakan bahwa untuk kelaparan pihaknya menunggu hasil analisa dari Badan Ketahanan Pangan. Jika itu sudah ada, pihaknya akan mengambil langkah intervensi. Selagi analisasi dari Badan Ketahanan Pangan belum ada, maka pihaknya belum dapat melakukan intervensi. “Kami akan ambil langkah intervensi kalau sudah ada hasil analisa ketahanan pangan. Kalau belum ada kami juga belum bisa berikan bantuan,” ujarnya.
Dia mengatakan, pihaknya dalam waktu dekat akan segera berkoordinasi dengan Badan Ketahanan Pangan maupun kecamatan dan desa untuk mengatasi ancaman rawan pangan maupun kelaparan yang terjadi disejumlah daerah di Kabupaten Belu.
By. ED
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar